KE Islamabad, ibu kota Pakistan, tidak mengunjungi desa wisata Saidpur yang berjarak 10 menit dari pusat kota rasanya tak lengkap. Desa inilah cikal bakal Islamabad yang kini menjadi ikon wisata terkenal itu.

Sabtu (15/10/2011) siang kawasan desa wisata Saidpur mulai ramai. Puluhan turis lokal mulai memadati desa wisata yang terletak di kaki bukit Margalla yang menghadap Kota Islamabad.

Ada yang sekadar foto-foto berlatar belakang desa. Seperti dilakukan rombongan remaja putri Pakistan. Ada yang melihat-lihat museum. Sebagaian mampir ke berbagai restoran yang bertebaran di desa itu. “Kalau malam hari lebih ramai. Suasananya juga enak di sini,” kata Muladi, mantan mahasiswa Internasional Islamic University Islamabad (IIUI).

Mahasiswi University Punjab Lahore Pakistan tampak malu-malu saat difoto.

Gadis gadis Pakistan umumnya mengenakan jilbab atau burka. Mereka cantik-cantik. Berkulit bersih dan berhidung bangir. Meski berada di lokasi wisata atau tempat umum, tak mudah memotret gadis Pakistan. Begitu mereka tahu akan difoto segera menghindar, menunduk, atau memalingkan wajah. Apalagi jika yang memotret orang asing. Mereka tidak suka difoto.

Memasuki desa tua berusia sekitar 400 sampai 500 tahun ini suasananya cukup nyaman. Meski siang itu sedikit terik, angin semilir bukit Margalla menjadikan cuaca sedikit sejuk dengan embusan angin perbukitan.

Deretan kafe, restoran, toko suvenir yang tertata apik dengan kontur tanah perbukitan menjadikan pemandangan enak dilihat. Apalagi di bawahnya mengalir sungai berair jernih.

Tampak dari kejauhan rumah warga yang juga mengikuti kontur tanah Perbukitan Margalla tertata apik. Jalan-jalan menuju restoran dan permukiman warga rapi. Inilah desa dengan jalan terbaik dan terbersih di Islamabad. Tak heran, Desa Saidpur kini jadi jujukan para turis. Baik lokal maupun mancanegara. “Selama ini saya hanya lihat Desa Saidpur di televisi. Ternyata desa ini indah dan nyaman,’’ kata Akhmad Faruki, ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Pakistan.

MALU MALU. Bahari dan Muladi staf KBRI Islamabad di depan museum desa wisata Saidpur berlatar para gadis Pakistan.

Banyak restoran menyediakan menu Eropa, Asia, dan Pakistan. Harganya terjangkau. Bahkan beberapa restoran menyediakan sheesha yang kini lagi banyak digandrungi di kalangan anak muda Jakarta.

Cara menghirup sheesha, lanjut Muladi, berbeda dengan merokok. Menghisap sheesha harus pakai tenaga perut. Lalu dikumpulkan di dalam mulut. Baru dihisap dalam-dalam. “Jangan sampai masuk kerongkongan karena bisa tersedak,” jelas pria yang suka menghisap sheesha sejak kuliah di Saudi Arabia itu.

Dibandingkan merokok, menghirup sheesha risikonya lebih sedikit. Sebab, bahan yang digunakan berupa sari buah dengan campuran sedikit tembakau berkadar nikotin rendah. Ada rasa anggur, stroberi, tomat, dan buah-buahan lainnya. “Juga manambah keakraban sesama teman karena bisa dilakukan bareng-bareng tiga sampai empat orang,” katanya.

Di desa ini pada malam tertentu ada hiburan musik panggung dengan iringan organ tunggal. Atau menampilkan pemain gitar tradisional Pakistan dan musik Timur Tengah lainnya. “Jadi, sambil menikmati cae (miunuman khas India-Pakistan terbuat dari teh dicampur susu kerbau) pengunjung dihibur musik,” ungkapnya.

Ke depan Desa Saidpur tidak akan kalah dengan desa wisata di belahan dunia lainnya. Hanya, tempat parkirnya sangat terbatas. Kalau jumlah pengunjung membeludak, tak sedikit yang kesulitan mencari lahan parkir kosong.

Bagi pecinta sejarah atau yang ingin mengetahui awal mula berdirinya Kota Islamabad bisa mengunjungi museum yang berada di salah satu sudut Desa Saidpur. Lokasi bangunannya sederhana. Hanya berukuran sekitar 5 x 10 meter persegi. Suasananya sangat bersih, meski bangunan museum sedikit kuno yang terbuat dari batu bata merah.

Di situ dipajang foto dan gambar Desa Saidpur sebelum direnovasi menjadi desa wisata seperti sekarang. Dulunya, desa ini kumuh dan hanya terdiri bangunan batu bata. Tapi, setelah dipugar otoritas Islamabad, Saidpur menjadi desa wisata yang bersih dan nyaman. “Baru sekitar dua sampai tiga tahun ini desa itu jadi tempat jujukan turis,” kata Muladi.

Di museum juga bisa dilihat sejarah pembangunan Islamabad. Kompleks pertokoan, bank pusat, masjid, dan bangunan pemerintah dibangun secara bersamaan.

Sebelumnya, ibu kota Pakistan adalah Karachi. Seiring perkembangan zaman sekaligus melestarikan sejarah, budaya dan keindahan alam, desa kuno, ibu kota Development Authority (CDA) mengembangkan Saidpur menjadi model desa wisata dengan modal awal sekitar 400 juta rupees.

Tujuan utama proyek ini melestarikan budaya desa yang terletak di pinggiran Kota Islamabad. Uniknya, di tengah banyaknya restoran dan rumah warga, ada juga peninggalan tiga bangunan kuno berupa mandir, gereja, dan Gurdwara. Di desa ini sebagaian warganya masih menekuni kerajinan tembikar dan keramik yang berbahan baku tanah liat.

Pintu masuk Desa Saidpur melalui dua gerbang yang terbuat dari kayu dan tanah sebagai keseimbangan budaya lama dan baru.
Saidpur dinamai oleh Kata Khan, salah seorang putra Sultan Sarang dalam pemerintahan Kekaisaran Islam Mughal.

Memoar Kaisar Jahangir, Tuzke Jahangiri, menyebutkan dia terhenti pada tempat di luar Rawalpindi dalam perjalanan ke Kabul, yang kini namanya Desa Saidpur. Khan mengatakan, Desa Saidpur menjadi tempat putrinya menikah dengan putra Kaisar Mughal Akbar.

Desa diubah menjadi tempat ibadah Hindu oleh seorang komandan Mughal, Raja Man Singh. Dia membangun beberapa kolam kecil, seperti Rama Kunda, Sita Kunda, Lakshaman Kunda, dan Hanuman Kunda. Sampai kini peningalan Kuil Sikh masih bisa dilihat di sini. Yang jelas Desa wisata Saidpur kini jadi oase masyarakat Islamabad di tengah hiruk pikuk politik Pakistan yang tiada hentinya. (yog/bersanbung)