Masjid Faisal salah satu ikon Kota Islamabad sekaligus menjadi landmark kebanggaan Pakistan karena terbesar di Asia Selatan. Tak heran, masjid ini jadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat dan negara. Juga jadi jujukan turis lokal dan mancanegara.

Sabtu (15/10/2011) siang itu, sebelum memasuki kompleks Masjid Faisal, puluhan pelajar berseragam mengerumuni loket. Mereka adu cepat melepas sepatunya lalu memasukkan dalam keranjang untuk dititipkan ke penjaga loket.
Dengan riang para pelajar lari berhamburan ke berbagai sudut Masjid Faisal, Islamabad yang merupakan masjid terbesar di Pakistan, juga Asia Selatan. Ada yang keliling masjid, naik ke atas tempat salat, sebagaian duduk dekat kolam yang airnya sudah dikeringkan karena lagi musim demam berdarah.

Namun pengunjung tidak bisa masuk ke tempat utama salat karena dikunci. Selain masih dibersihkan petugas, juga belum waktunya salat Duhur. Pengunjung hanya bisa mengintip ruang dalam masjid lewat kaca cendela.
Muladi, mantan mahasiswa Internasional Islamic University Islamabad (IIUI) yang menemani penulis merayu petugas keamanan agar penulis diizinkan masuk beberapa menit. ‘‘Teman saya jauh-jauh dari Indonesia ingin masuk ke dalam masjid hanya untuk mengambil foto,’’ pinta Muladi. ‘’Indonesia, Masya Allah,’’ kata petugas tadi seraya mempersilakan masuk masjid. Interior masjid sangat bagus dengan berbagai ornamen khas Pakistan. Dekat mimbar masjid ada buku bertulis Alquran dengan huruf besar.

JUJUKAN WISATA. Warga Pakistan dengan tertib memasuki Masjid Feisal, Islamabad, Pakistan.

Saat keluar ruangan masjid, petugas tadi yang tahu saya sedang menjalani haji nekat lewat jalur darat memberi kenang-kenangan berupa post card Masjid Faisal. Serta memasangkan sejenis pin bergambar Masjid Faisal di baju saya. ‘’Saya doakan mudah-mudahan sampai Makkah,’’ ujar petugas berbadan tinggi besar yang hafal atau hafiz Alquran itu.

Penghafal Alquran di Pakistan sangat dihormati, bahkan begitu diistimewakan dalam masyarakat Pakistan. Bahkan penghormatanya lebih tinggi dari mereka yang bergelar haji. Makanya, mereka yang hafal Alquran bangganya luar biasa.
Tradisi keluarga Pakistan minimal punya dua orang anak. Satu anak dididik, disekolahkan menjadi ustad, memperdalam ilmu agama, dan mendorong jadi penghafal Alquran. Satu anaknya lagi dididik menjadi pengusaha. Tujuannya, agar kehidupan dalam keluarga tadi seimbang. Kebutuahn dunia akan dicukupi anaknya yang pengusaha. Sedangkan bekal agama untuk masa depan akherat akan dibimbing anaknya yang menjadi ustad tadi.

Masjid Faisal tak hanya menjadi terbesar di Pakistan. Tapi, juga jadi sentral kegiatan keagamaan dan akademik Islam di Pakistan. Di kompleks masjid ini juga ada kampus Internasional Islamic University Islamabad (IIUI), ada perpustakaan, ada pusat pelatihan dakwah, ada tempat riset, perkantoran, tempat seminar, bank, semacam hall tempat pertemuan dan seminar. ‘’Jadi, semua ada di sini,’’ kata Muladi.

Makin siang, warga yang berkunjung ke masjid kian banyak. Bahkan sebagian datang dari luar Islamabad. Seperti dari Lahore, sekitar 5 jam perjalanan dari Islamabad. ‘’Kalau sore warga yang datang tambah banyak karena udaranya tidak panas,’’ kata Akhmad Faruki, mahasiswa Indonesia di Islamabad yang menemani penulis.

Masjid Faisal selain jadi ikon Kota Islamabad juga jadi kebanggaan masyarakat Pakistan. Karena itu masjid ini juga kerap disebut Masjid Nasional. Masjid Faisal yang dibangun tahun 1976 menjadi jujukan turis lokal maupun asing. Selain terbesar, arsitekturnya unik dengan empat menara lancip mirip pencil dan tidak berkubah membuat masjid ini sedikit berbeda dengan masjid pada umumnya.

Apalagi, lokasi masjid berada persis di bawah bukit Margalla makin membuat pemandangan sekitar kian elok. Beberapa juru potret amatir seraya membawa hasil bidikannya sibuk keliling menawarkan jasanya memotret pengunjung dengan latar belakang masjid dan bukit Margalla nan elok.

Masjid Faisal merupakan terbesar di Pakistan sekaligus menjadi Masjid Nasional Pakistan. Masjid ini merupakan masjid terbesar di Asia Selatan dan salah satu masjid besar ketiga di dunia.

Nama Faisal diambil dari nama Raja Faisal bin Abdul-Aziz dari Arab Saudi yang mendukung dan membiayai proyek nasional Pakistan yang saat itu menghabiskan dana 120 juta USD.

Ide membangun mulai mengemuka tahun 1966 ketika almarhum Raja Faisal bin Abdul-Aziz dari Saudi Arabia mendukung prakarsa Pemerintah Pakistan membangun sebuah masjid nasional di Islamabad selama kunjungan resmi ke Pakistan.

Tahun 1969, sebuah kompetisi internasional diadakan bagi para arsitek dari 17 negara . Mereka menyerahkan 43 proposal desain gambar masjid. Setelah empat hari bermusyawarah, desain dari arsitek Turki Vedat Dalokay ‘s yang terpilih.

Pembangunan masjid sendiri dimulai tahun 1976 oleh Konstruksi Nasional Pakistan, dipimpin Azim Khan dan didanai pemerintah Arab Saudi sekitar 130 juta riyal Saudi (sekitar 120 juta USD hari ini). Raja Faisal bin Abdul Aziz berperan dalam pendanaan. Sayang pembangunan masjid belum selesai sang Raja Faisal keburu meninggal karena dibunuh keluarga kerajaan. Alhamdulillah masjid selesai pada 1986.

Semula banyak muslim konservatif mengkritik desain masjid yang dianggap desainnya non konvensional desain serta kurang sentuhan tradisional kubah struktur. Tetapi semua kritik itu reda setelah jamaah tahu skala masjid yang super besar dan pengaturan terhadap posisi Margalla Hills agar pemadanganya tidak terhalangi. Begitu indahnya Masjid Feisal dengan latar Bukit Margalla menjadikan orang takjub.

Arsitek Turki, desain Vedat Dalokay berpandangan desain masjid harus modern dan mencerminkan aspirasi rakyat. Karena itu, dia meniadakan kubah masjid seperti banyak dijumpai pada masjid umumnya. Sebagai gantinya, ruang doa utama terdiri segi delapan perwakilan shell beton tenda padang pasir. Ketinggian shell mencapai 40 meter didukung pada empat balok utama permukaan beton raksasa dengan marmer putih yang dihiasi mosaik dan lampu gantung gaya spektakuler Turki. Ruang seluas 5000 m2 ini dapat menampung 10.000 jamaah.

Masjid ini diapit oleh empat menara tinggi berukuran 90 meter diipengaruhi arsitektur Turki. Menara dibuat ramping dan menunjuk, membentuk sebuah abstraksi yang berasal dari dasar persegi dibentuk persimpangan dua pesawat.
Pintu masuk dari timur dan didahului halaman utama dengan portico.Portico dapat menampung 24.000 jamaah, sementara halaman dapat memberikan ruang tambahan 40.000 jamah. International Islamic University adalah ditempatkan di bawah halaman utama. Kini universitas sudah pindah ke kampus baru berjarak 30 menit dari kampus lama.

Ada tambahan kemudian ke dasar Masjid Faisal adalah makam Jenderal Zia-ul-Haq, Presiden Pakistan, 1978-1988 yang menerima orang-orang yang berhenti untuk menawarkan al-Fateha (doa bagi almarhum).

Masjid Faisal karya arsitek Turki terkenal, Vedat Dalokay memenangkan Aga Khan Award Arsitektur. Desain masjid relatif tidak biasa sekering garis kontemporer dengan tampilan lebih tradisional dari Arab Badui tenda ‘s, dengan ruang doa besar segitiga dan empat menara lancip mirip pencil.

Namun, tidak seperti desain masjid tradisional, masjid ini tidak memiliki kubah. Desain menara meminjam mereka dari tradisi Turki dan pensil tipis dan sejenisnya. Interior ruang doa ini memegang lampu gantung sangat besar dan dindingnya dihiasi mosaik dan kaligrafi seniman terkenal Pakistan Sadequain. Pola mosaik menghiasi dinding barat, dan memiliki kalimat yang ditulis pada awal Kufic skrip, diulang dalam pola cermin gambar.

Arsitektur masjid berawal sejarah panjang arsitektur Islam di Asia Selatan .Ini adalah salah satu contoh paling menonjol dan modern arsitektur Islam di dunia. (laz/bersambung)

MEGAH: Bahari dan Ahmad Faruki Ketua PPI Pakistan di ruang dalam Masjid Feisal, Islamabad. Pakistan.