KULONPROGO – Sektor kelautan dan perikanan merugi Rp 956 juta akibat gelombang tinggi. Kerugian berasal dari rusaknya sarana dan prasarana nelayan dan jebolnya tambak udang.

Ada tujuh perahu motor tempel (PMT) rusak, 16 katir patah, 740 set jaring raib tersapu ombak. Lingkungan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) juga hancur.

“Sebelas tambak udang jebol,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulonprogo Sudarna Minggu (29/7).

Pengelola TPI diperintahkan melakukan pembersihan. Perahu dan jaring nelayan yang rusak akan diganti pemerintah.

“Selalu ada bantuan untuk nelayan. Tahun ini kami akan memberikan bantuan dua unit PMT,” kata Sudarna.

PMT ada yang rusak karena tidak dipelihara. Ada juga yang rusak diterjang gelombang tinggi. ‘’Jika masih bisa diperbaiki, sebaiknya yang retak ditambal,” ujarnya.

Dikatakan, Juli hingga awal September 2018 akan terjadi paceklik ikan. Target tangkapan ikan tidak akan sesuai harapan nelayan.

“Hasil tangkapan ikan nelayan pada semester I sebanyak 220,936 ton. Pada semester I tahun lalu 214,912 ton,” kata Sudarna.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo Ariadi mengimbau nelayan tetap waspada. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi gelombang tinggi masih terjadi hingga hari ini.
“Tim SAR akan terus melakukan patroli pantai,” kata Ariadi.

Ketua Paguyuban Pedagang Kuliner Laguna Glagah Gunarti Miharyati mengatakan gelombang tinggi merusak ekosistem laguna. Intrusi air laut membunuh ribuan ikan dan membawa sampah.

“Padahal benih ikan nila baru ditebar 2017. Sampah dan bangkai ikan yang bau busuk menganggu wisatawan,” kata Gunarti.

Jumlah pengunjung turun hingga separo. Gunarti khawatir jumlah pengunjung semakin turun karena banyaknya sampah.

Para pelaku kuliner pun membersihkan kawasan wisata. Mereka bersih-bersih pasca puncak gelombang tinggi Rabu (25/7).

“Agar wisatawan kembali nyaman,” ujar Gunarti. (tom/fn)