Gubernur DIJ HB X mengaku sangat malu dengan jatuhnya korban jiwa saat pertandingan PSIM Jogja melawan PSS Sleman. Gubernur bahkan mengaku siap turun langsung untuk melakukan dialog bersama seluruh suporter di DIJ.

“Semoga Pak Bupati dan Wali Kota bisa membantu dialog (antarsuporter). Saya membantu bolehlah,” ujar HB X ketika ditemui di sela Orasi Keabangsaan di Bangsal Kepatihan Jogja, Sabtu malam (28/7).

HB X menambahkan, tawuran antarsuporter sepak bola itu juga hanya terjadi jika ada pertandingan. Menurutnya, hal itu karena sudah ada dendam antarsuporter. “Kalau tidak ada pertandingan, tidak ada masalah. Tapi kalau ada pertadingan, kenapa harus ada kerusuhan,” sesalnya.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIJ Kadarmanta Baskara Aji tegas meminta supaya tidak ada pertandingan sepak bola di DIJ. Itu melihat jatuhnya korban jiwa saat diadakannya pertandingan sepak bola di DIJ. “Sebaiknya dijeda dulu sampai ada jaminan suporter tidak berbuat onar,” katanya.

Disdikpora juga menaruh perhatian serius, selain karena korbannya adalah pelajar, banyak juga suporter sepak bola yang masih duduk di bangku sekolah. Korban terakhir adalah Muhammad Iqbal Setiawan, pelajar 16 tahun warga Balong, Timbulharjo, Sewon, Bantul.

Suporter tewas buntut pertandingan bola di DIJ ini bukan yang pertama. Sebelumnya pada 13 Maret 2012, suporter PSIM yang baru berusia 16 tahun, Muhammad Nur Huda, tewas setelah menjadi korban pegeroyokan di Kuncen, Wirobrajan. Kemudian ada suporter PSCS Cilacap Muhamad Ikhwanudin, yang juga mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Jogja, tewas saat bus yang ditumpanginya diserang sekolompok suporter di bawah Jembatan Layang Janti, 14 Oktober 2014.

Ada juga suporter PSS Stanislaus Gandhang Deswara, 16, yang tewas setelah ditusuk di Jalan Magelang pada 22 Mei 2016. “Satu nyawa itu lebih berharga dari apa pun. Masak setiap pertandingan sepak bola harus ada korban jiwa,” kecamnya.

Sementara itu tadi malam (28/7) Polres Bantul mengundang pihak Brajamusti, termasuk BM dan panitia pelaksana untuk melakukan evaluasi terkait kasus kericuhan yang terjadi pada derby (26/7). Dalam evaluasi ini seluruh komponen ikut serta menganalisa insiden yang sudah terjadi.

“Kami berusaha kooperatif dengan petugas, bersama-sama menemukan titik terang dari insiden itu,” ungkap Wakil Presiden Brajamusti Saga Susanto. Pihaknya sudah melakukan prosedur yang benar, termasuk instruksi dan imbauan kepada suporter dengan jelas. (pra/ega/laz/fn)