BANTUL – Pelaku pengeroyokan hingga tewasnya M. Iqbal Setiawan usai derby DIJ antara PSIM Jogja menjamu PSS Sleman di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul (27/7), satu per satu berhasil diringkus jajaran Polda DIJ. Tercatat dua pelaku berinisial LGF, 21, dan WTP, 19, berhasil diamankan Sabtu pagi (28/7). Keduanya dibekuk di kediaman masing-masing di seputaran Kabupaten Bantul.

Kasatreskrim Polres Bantul AKP Rudy Prabowo belum berani berkomentar lebih banyak mengenai penangkapan pelaku penganiayaan korban suporter di SSA itu. Menurutnya, kini Polres Bantul tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui pelaku-pelaku lain yang terlibat dalam kasus ini.
“Sebaiknya konfirmasi langsung ke Kabid Humas Polda DIJ, agar informasi didapatkan jelas dari satu pintu,” tegas Rudy saat dikonfiormasi Radar Jogja di Polres Bantul, Sabtu (28/7).

Kapolda DIJ Brigjen Polisi Ahmad Dofiri membenarkan adanya penangkapan kedua pelaku. Dikatakan, selanjutnya sedang dalam pengembangan penyelidikan terutama melacak pelaku lainnya. Jika terbukti, maka status keduanya bisa dinaikkan menjadi tersangka.

“Masih dalam pengembangan, sementara ini keduanya sudah mengakui melakukan penganiayaan. Intinya adalah, siapa pun pelakunya harus bertanggu jawab dan akan kami usut tuntas,” tegas Kapolda saat ditemui di Mako Brimob Gondowulung, Sabtu (28/7).

Dofiri menyayangkan terjadinya aksi kekerasan hingga berujung meninggal dunia. Terlebih penyebab dari penganiayaan itu adalah ego jiwa muda. Tanpa berpikir panjang memikirkan dampak bagi korban maupun dirinya sendiri.
Jenderal bintang satu ini juga mengimbau agar pelaku lain menyerahkan diri. Hingga saat ini Polda telah mengantongi sejumlah ciri dan identitas pelaku. Terlebih adanya rekamam video saat proses penganiayaan berlangsung.

“Para pelaku ini umurnya masih sepantaran, ya belasan hingga 20 awallah. Masih labil dan tidak bisa memendam emosi. Kami imbau agar segera menyerahkan diri,” ujarnya.

Kejadian ini, setidaknya menjadi catatan penting bagi Polda DIJ. Berulang kali bersikap lunak, ternyata tim suporter tetap bertindak anarkistis. Tidak menutup kemungkinan ada peringatan keras jika aksi kekerasan masih berlanjut.
Sebagai polisi yang lama berdinas di Jogjakarta, Dofiri memahami karakter kedua tim suporter. Bahkan diakui olehnya, pertemuan kedua tim suporter dalam satu pertandingan cukup riskan. Meski begitu, jajarannya tetap konsisten menginisiasi pertemuan antartim suporter.

“Kami selalu mendukung sepak bola di Jogjakarta, sehingga tidak mungkin kami larang. Tapi jika kondisinya seperti ini, tentu kami berikan warning,” katanya.

Tercatat Polda DIJ telah menginisiasi lima pertemuan. Seluruhnya dihadiri oleh masing-masing perwakilan tim suporter. Kendalanya justru di tingkat grassroot, pada lini ini masih kerap terjadi rivalitas tidak sehat antartim suporter.
Dalam pertemuan terakhir di Hotel Merapi Merbabu, Polda DIJ meminta korodinator wilayah (korwil) dan koordinator lapangan (korlap) aktif. Setidaknya mampu mengendalikan rombongan suporter dari wilayah masing-masing.

“Fakta kejadian kemarin suporter sudah berangkat sejak pukul 09.00. Padahal perjanjian awal hanya ada kuota 30 orang perwakilan suporter. Peran korwil dan korlap harus lebih kuat ke depannya,” katanya.

Dampak peristiwa ini berimbas pada leg pertandingan kedua. Sesuai jadwal ada pertandingan antara PSS melawan PSIM di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Polda DIJ berencana memanggil kembali perwakilan kedua tim sepak bola dan panitia pelaksana. (dwi/ega/laz/fn)