JOGJA – Tinggal di bantaran Sungai Code membuat Dyas sudah sangat terbiasa memegang ular. Terlebih ayah dan beberapa tetangganya juga memelihara hewan melata yang biasa ditemukan di sungai. Dibanding ular, Dyas lebih takut dengan kecoa.

“Takutnya dengan kecoa. Kalau ular di rumah ayah juga punya,” ujar Dyas dalam Festival Anak Sahabat Satwa Ratmakan Mini Zoo Jumat (27/7).

Bersama teman sebayanya di RW 07 Ratmakan, Ngupasan, Gondomanan, Dyas berkesempatan mengenal lebih dekat beberapa satwa yang dibawa oleh Forum Edukasi Satwa dan Tumbuhan (Forest) dan Lembaga Pemberdayaan Penguatan Pendidikan Nasional.

Dalam kegiatan yang juga untuk memperingati Hari Anak Nasional itu, didatangkan hewan yang sudah familiar bagi anak-anak. Mulai kucing, anjing, ular, iguana, biawak, kura-kura hingga hewan yang jarang ditemui seperti sugalider, gecko atau belut laut.

Menurut Ketua Panitia Acara Catur Pujihartono, kegiatan ini juga untuk mengenalkan dunia satwa kepada anak-anak. Terlebih nenek moyang dulu juga banyak menggunakan hewan sebagai pertanda jika ada bencana atau kematian.

Di Jawa kan ada kepercayaan kalau ada orang meninggal dikubur terlihat burung gagak,” ungkapnya.

Sedang bagi anggota Forest drh Antonia Agnes, kegiatan ini dimaknainya sebagai edukasi bagi anak-anak untuk mencintai satwa. Untuk itu mereka diberikan pemahaman terkait pencegahan maupun penanganan jika menangkap hewan. Seperti ular, lanjut dia, masyarakat biasanya akan menaburkan garam di sekitar rumahnya.

“Padahal ular tidak takut garam. Lebih baik semprotkan karbol atau bau-bauan yang menyengat, karena ular tidak suka bau menyengat,” paparnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Jogja Octo Noor Arafat yang ikut hadir dalam kegiatan ini menilai, aktivitas pengenalan satwa baik bagi anak-anak. Termasuk anak-anak yang tinggal di bantaran kali dan biasa menemukan hewan tertentu di sungai. (pra/laz/fn)