GUNUNGKIDUL – Ancaman yang mengintai Kabupaten Gunungkidul saat musim kemarau tidak hanya kekeringan. Melainkan juga kebakaran. Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Pemadam Kebakaran Gunungkidul Diyono mengungkapkan, selama tiga bulan terakhir setidaknya telah terjadi lima kali insiden kebakaran. Angka ini berpotensi bertambah.

”Selama musim kemarau tahun lalu 19 insiden,” jelas Diyono di kantornya Jumat (27/7).

Ada sejumlah faktor penyebab tingginya kebakaran saat musim kemarau. Di antaranya, korsleting listrik dan kelalaian. Menurutnya, faktor kelalaian paling banyak. Tak jarang pemilik rumah lupa mematikan kompor usai memasak.

”Terkadang juga lupa mematikan api setelah membakar sampah di dekat rumah,” ucapnya.

Diyono juga mencatat bahwa kebakaran saat musim kemarau tidak hanya menyasar bangunan rumah. Melainkan juga lahan kosong dan hutan. Seperti kebakaran di Alas Pucanganom, tepatnya di Dusun Gubar, Giripurwo, Purwosari beberapa waktu lalu. Biasanya, kebakaran di lahan kosong terjadi lantaran kelalaian.

”Seperti membakar sampah sembarangan,” lanjutnya.

Atas dasar itu, Diyono mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati. Itu untuk meminimalisasi insiden kebakaran. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul Edy Basuki mengatakan, salah satu wilayah paling rawan kebakaran adalah Kecamatan Wonosari. Namun, mayoritas kebakaran di wilayah ini terjadi di lahan kosong.

”Belum lama ini sepeda motor hangus terbakar di tengah ladang,” katanya. (gun/zam/fn)