DALAM perjalanan haji darat ke Makkah, Arab Saudi, penulis menyempatkan mampir di markas jamaah tablig dunia di Bangla Wali Masjid, Nizamuddin, New Delhi, India September 2011. Begitu banyak ilmu yang penulis dapatkan di situ. Tak sedikit jamaah asal Indonesia yang ikut bergabung. Haji Cecep, misalnya. Sesepuh jamaah Tablig Akbar Kebun Jeruk, Jakarta Barat, itu telah keliling dunia untuk berdakwah.

Haji Cecep meyakini, berdakwah kemana pun seluruh dunia pasti dimudahkan Allah. Saat ke Jerman hendak tukar uang, begitu keluar bandara ada seorang bule menyapa. ”Assalamulaikum,” kata Haji Cecep yang ketika itu mengenakan jubah. ”Kalau untuk Anda saya tidak ambil komisi,” kata bule keturunan Turki tadi seperti dituturkan haji Cecep..

Begitu juga saat ke Amerika setelah mengantar balik seorang jamaah tablig yang sakit. Begitu berjalan di bandara Los Angeles, tiba-tiba disapa seorang bule juga. ”Assalamualaikum,” sapanya. Ternyata warga tadi keturunan Mesir. Setelah itu pria tadi membantu Haji Cecep. ”Saya rindu dengan pakaian ustad seperti ini,” ujar pria tadi.

Hampir setiap hari ada sekitar empat ribu jamaah tablig akbar menginap di Bangla Wali Masjid. Lantas bagaimana soal makan bagi mereka? Ternyata ada petugas khusus yang melayani para jamaah. Orang-orang yang sedang berkhidmat atau melayani jamaah yang akan berdakwah biasa disebut Khuruj. Yakni, seseorang yang meluangkan waktu untuk berdakwah dari masjid ke masjid dipimpin seorang Amir.

”Posisi saya sekarang lagi berkhidmat,” aku Haji Bay. Setelah itu nanti Haji Bay juga akan ditugaskan menjadi khuruj. ”Soal berapa hari nanti akan berdakwa itu akan dimusyawarahkan,” tambahnya.

Saat berdakwah pun orang-orang jamaah tablig di sekitar tempat dakwah banyak yang membantu. ”Ini sama dengan zamannya kaum Muhajirin yang hijrah ke Madinah. Disambut sangat ramah kaum Ansor dijaman Rasulullah,” jelas Haji Dedeh, sesama jamaah tablig asal Indonesia.

Soal biaya makan, menurut Haji Dedeh, memang tidak masuk akal di pemikiran kebanyakan orang. Masak untuk empat ribu orang kali tiga kali sehari. Dalam manajemen modern ini tidak masuk akal. Mungkin negara saja akan kesulitan. Tapi, kalau apa-apa sudah diridai Allah, tidak ada yang tidak mungkin. “Dananya ya dari jamaah sendiri,” ungkapnya.

Yang jelas, makan minum jamaah tablig dijamin. Tak hanya nasi. Ada susu dan roti juga. Jamaah akan dilayani sampai benar-benar kenyang. Petugas akan berkeliling menawarkan makanan sampai sudah tidak ada yang minta makanan lagi.

Meski menerima sumbangan, pengelola Bangla Wali Masjid sangat selektif. Tidak sembarangan menerima orang beramal. Harus jelas siapa, dari mana, dan tujuannya. “Apalagi menyumbang pakai nama segala. Itu pasti ditolak,” ungkapnya.

Bangla Wali Masjid Nizamudin juga menampung sementara kaum muslim yang bukan anggota jamaah tablig, tapi butuh tempat sementara. Seorang traveler asal Indonesia saat bertemu penulis di Oman mengaku sempat menginap di Bangla Wali Masjid Nizamuddin selama tiga hari. Itu karena traveler tadi benar-benar kehabisan uang dan tidak punya kenalan, apalagi jujukan selama di India.
Bahkan untuk mencapai lokasi Bangla Wali Masjid Nizamuddin sang traveler tadi harus berjalan kaki dari Bandara Internasional Indira Gandhi.

Setelah tiga hari menginap dan dijamu semua keperluannya, si traveler ditanya mau gabung jamaah tablig atau tidak. Kalau gabung boleh tinggal di Bangla Wali Masjid sampai waktu tidak terbatas sambil belajar dakwah. Tapi, kalau enggan bergabung dipersilakan mencari tempat lain. Karena tidak ada paksaan bergabung jamaah tablig, akhirnya traveler tadi pilih melanjutkan perjalanan dengan menumpang di KBRI India.

Kabarnya traveler tadi bisa terbang ke Oman karena staf KBRI India terpaksa “patungan” untuk membelikannya tiket pulang.

“Saya ingin umrah, tapi tidak ada uang,” kata traveler asal Jakarta yang bertemu penulis di perwakilan RI di Oman Saat itu statusnya belum KBRI). Entah bagaimana nasib traveler tadi. Lanjut ke Arab, atau pulang ke Indonesia.
Sementara jamaah tablig dalam bahasa Urdu atau Arab adalah gerakan transnasional dakwah Islam. Jamaah tabligh didirikan akhir dekade 1920-an oleh Maulana Muhammad Ilyas Kandhalawi di Provinsi Mewat, India.

Sedangkan nama Nizamuddin dulunya merupakan sebuah dusun di pinggiran New Delhi yang masih hutan belantara. Setelah dibangun Bangla Wali Masjid yang sebenarnya tempat istirahat Maulana Muhammad Ilyas, Nizamuddin berubah menjadi masjid sekaligus markas jamaah tablig dunia di India. Nama Jamaah tablig hanya sebutan bagi mereka sering menyampaikan dakwah.
Sebenarnya gerakan ini tidak mempunyai nama. Cukup Islam saja. Bahkan Muhammad Ilyas mengatakan, seandainya aku harus memberikan nama pada usaha ini maka akan aku beri nama “gerakan iman”.

Ilham mengabdikan hidupnya total hanya untuk Islam terjadi ketika Maulana Ilyas melangsungkan ibadah haji kedua-nya di Hijaz pada 1926. Maulana Ilyas menyerukan slogannya, ‘Aye Musalmano! Musalman bano’ (dalam bahasa Urdu), yang artinya ‘Wahai umat muslim! Jadilah muslim yang kaffah (menunaikan semua rukun dan syari’ah seperti dicontohkan Rasulullah)’.

Tablig resminya bukan merupakan kelompok atau ikatan. Tapi gerakan muslim guna menjadi muslim kaffah dalam menjalankan agamanya. Dan hanya satu-satunya gerakan tanpa memandang asal-usul mazab atau aliran pengikutnya.
Dalam waktu kurang dari dua dekade, jamaah tablig berhasil berjalan di Asia Selatan. Dipimpin Maulana Yusuf, putra Maulana Ilyas, sebagai Amir (pimpinan) yang kedua. Gerakan ini mulai mengembangkan aktivitas pada 1946. Dalam waktu 20 tahun penyebarannya telah mencapai Asia Barat Daya, Asia Tenggara, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara.

Sekali terbentuk dalam suatu negara, jamaah tablig mulai membaur dengan masyarakat lokal. Meskipun negara barat pertama yang berhasil dijangkau jamaah tabgil adalah Amerika Serikat, fokus utama mereka justru di Britania Raya. Ini mengacu populasi padat orang Asia Selatan di sana yang datang pada 1960 – 1970-an.

Pada 1978 Liga Muslim Dunia menyubsidi pembangunan Masjid Tablig di Dewsbury, Inggris, yang kemudian jadi markas besar jamaah tablig di Eropa. Pimpinan mereka disebut Amir atau Zamidaar atau Zumindaar.

Setiap negara juga mempunyai markas pusat nasional. Dari markas pusat dibagi markas-markas regional/daerah yang dipimpin seorang Shura. Sedangkan markas pusat internasional tetap di Nizzamudin.

Kemudian di tiap daerah dibagi lagi jadi ratusan markas kecil. Disebut Halaqah. Kegiatan di Halaqah berupa musyawarah mingguan. Sebulan sekali mereka khuruj selama tiga hari. Orang yang khuruj tidak boleh meninggalkan masjid tanpa seizin Amir. Tapi para karyawan diperbolehkan tetap bekerja dan langsung mengikuti kegiatan sepulang kerja.

Sewaktu khuruj, kegiatan diisi dengan taklim (membaca hadis atau kisah sahabat, biasanya dari kitab Fadhail Amal karya Maulana Zakaria), jaulah (mengunjungi rumah-rumah di sekitar masjid tempat khuruj dengan tujuan mengajak kembali pada Islam yang kaffah), bayan, mudzakarah (menghafal) 6 sifat sahabat, karkuzari (memberi laporan harian pada amir), dan musyawarah. Selama masa khuruj mereka tidur di masjid.

Mengapa ada tiga markas jamaah tablig seluruh dunia di India, Pakistan dan Bangladesh (IPB)? Kata seorang anggota jamaah tablig, tiga tempat tadi mewakili tiga karakter besar umat manusia di dunia. Hingga metode atau cara dakwah yang disampaikan mengikuti cara-cara ketiga karakter, watak, atau situasi yang dihadapi para pendakwah.

Jamaah tablig Pakistan mewakili didikan bapak terhadap anak yang cenderung keras. Jadi, pendakwah jamaah tablig dibiasakan menghadapi masyarakat yang keras agar tidak gampang menyerah. Khususnya masyarakat di negara kawasan Timur Tengah yang karakternya cenderung keras. Makanya, kalau jamaah tablig diusir, dicemoh, bahkan dianiaya, itu bagian dari dakwah.

Sedangkan karakter jamaah tablig di Bangladesh mewakili pendidikan ibu yang santun, lembut. Nah, jamaah tablig Bangladesh disiapkan menghadapi masyarakat yang normal. Jadi, cara-cara penyampaian dakwah juga harus lembut sesuai karakter masyarakat yang dihadapi.

Sementara jamaah tablig India disiapkan untuk berdakwah di lingkungan orang-orang kafir dan musyrik. “Jadi, begitu jamaah tablig bisa menghadapi tiga situasi atau karakter umat manusia di dunia tadi, maka tidak ada kesulitan bagi jamaah tablik berdakwah di mana pun pelosok dunia. Karena sudah diajari, dibekali mengenal tiga karakter atau situasi masyarakat di dunia tadi,” kata anggota jamaah tablig tadi. (yog/bersambung)