JOGJA – Pengurus Daerah (Pengda) Persatuan Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) DIJ meminta kepada atlet muda khususnya pelajar, agar memiliki loyalitas terhadap daerah. Sebab ada indikasi, para atlet muda yang masih berusia pelajar, lebih mementingkan membela sekolah ketimbang daerah.

Hal itu disampaikan Ketua Pengda DIJ Yosep Junaidi menjelang gelaran pekan olahraga pelajar pelajar wilayah (Popwil) November mendatang. Junaidi menerima laporan, keberadaan atlet pelajar yang menolak panggilan Perbasi DIJ, untuk ikut dalam persiapan Popwil mendatang.

“Atlet-atlet inikan selama ini berdomisili dan bersekolah di DIJ. Seharusnya saat dibutuhkan oleh daerah, harus menunjukkan loyalitasnya,” kata Junaidi di Kantor Koni DIJ Jumat (27/7).

Atas persoalan atlet yang terjadi di DIJ, Perbasi DIJ akan mempertegas aturan dalam anggaran dasar dan angaran rumah tangga (ADRT) organisasi. Salah satu penegasannya yakni pembuatan nomor registrasi atlet. Nantinya, untuk teregistrasi sebagai anggota Perbasi, atlet harus mendaftar ke klub yang menginduk pada Perbasi.

Disebutkan, dalam kasus yang terjadi di DIJ, ditemukan atlet basket yang muncul dari sekolah basket dan bersekolah formal memiliki talenta. Namun tidak tercatat sebagai anggota Perbasi lantaran belum menginduk kepada klub resmi.

Sejauh ini, sambungnya didapati atlet “liar” karena tidak diketahui dari mana tempat berlatih. Padahal dari atlet tersebut ada yang berprestasi. “Yang disayangkan bila mereka tidak membela Jogjakarta,”ketusnya.

Dikatakan, Perbasi dapat memberikan sanksi tegas terhadap atlet yang tidak menaati AD/ART yang berlaku seperti. Bukan tidak mungkin, atlet bersangkutan diskorsing denhan larangan bermain.

Dijelaskan, untuk atlet di DIJ tidak harus terdaftar sebagai atlet di klub DIJ, namun bisa mendaftar di klub di luar daerah yang penting klub anggota Perbasi. Saat mengikuti kompetisi basket, atlet yang bersangkutan tinggal dimintakan rekomendasi dari klub asal untuk dicatat.

Selain sanksi, kewajiban seorang atlet basket menginduk pada klub ini tak lepas untuk meminimalisasi kemungkinan perpindahan seorang atlet dari daerahnya dengan jalur tak resmi. Harapannya, dengan kembali ditegakkannya aturan tersebut, maka perpindahan pemain akan lebih teratur dan sesuai dengan regulasi yang ada.

Melalui pendactaran atlet Pengda Perbasi DIJ maupun Pengkab dan Pengkot Perbasi akan membuat register nomor bagi atlet basket yang ada di DIJ. Bila tak tak terdaftar, maka mereka dibina di DIJ sejak kecil di sekolah masing-masing.

“Kenyataannya saat sudah bagus dan potensial, justru tak mau membela DIJ dan diboyong daerah lain,” jelasnya. (bhn/fn)