Waktu luang Dwi Surya Putra dihabiskan untuk merawat telur penyu di pesisir selatan Kulonprogo. Gelombang tinggi yang menghantam pantai selatan akhir-akhir ini membuatnya gelisah. Bagaimana kiprahnya menjaga populasi hewan langka itu?

HENDRI UTOMO, Kulonprogo

GELEGAR deburan ombak laut selatan jauh lebih keras dibanding hari-hari biasanya. Lidah ombak terlihat lebih panjang menjilat daratan. Gelombangnya tinggi hingga sembilan meter membuat siapa saja yang melihatnya ciut nyali.
Searah matahari lewat ke barat, tatapan mata Dwi Surya Putra tersimak sedikit nanar. Tampak jelas kecemasan dalam benaknya. Tak sebanding dengan semangat gelombang pasang yang menerjang dan menghancurkan apa saja yang dihadapinya.

Lokasi konservasi penyu abadi Pantai Trisik berjarak tak lebih 200 meter dari tubir pantai. Sudah pasti kawasan ini menjadi objek ancaman terjangan gelombang tinggi. Ada dua petak penangkaran tukik (anakan penyu) di tempat itu. Satu petak tempat penetasan dan berjajar akuarium menghadap matahari terbit.

“Kebetulan rumah bapak tepat di sisi utara kolam penangkaran dan petak penetasan, kami mencoba menahan laju gelombang pasang itu dengan karung bekas pakan udang diisi pasir. Saya tumpuk setinggi pinggang,” ucap warga Sawahan, Desa Banaran, Galur, Kulonprogo.

Seperti membuat benteng pertahanan, karung pasir itu dipasang memutar membentuk barier. Ada hammock rautan tali plastik mengantung di antara pohon rindang yang menaungi halaman lokasi konservasi. Sejuk, rimbun, dan nyaman serta aman bagi tukik-tukik cantik untuk bercanda.

Konservasi penyu abadi dirintis warga setempat sejak 2002. Namun, keberadaannya diakui pemerintah dua tahun kemudian. Kegiatan inti konservsi adalah menyelamatkan poluasi penyu dan mengamankan telur dari predator di alam liar.

“Predator banyak. Ada kepiting, musang, burung, dan kucing. Manusia juga termasuk predator utama,” ungkapnya.

Kepiting, musang, dan manusia adalah pemangsa telur penyu. Jika sudah menetas menjadi tukik, burung dan kucing yang menjadi ancaman.
Jumlah penyu yang mendarat di pesisir selatan setiap tahunnya tidak sama. Tahun ini sedikitnya ada 14 sarang yang berhasil diselamatkan. Satu sarang rata-rata berisi seribu butir telur. Pada 2016 ada 17 sarang berhasil ditetaskan. Setahun berikutnya hanya tiga sarang dengan 250 butir telur penyu. Sedangkan tahun ini ada 14 sarang. Setiap tahun selalu ada penyu mendarat di Pantai Trisik.

Penyu yang mendarat di pesisir selatan Kulonprogo biasanya tergolong baru. Indukan penyu biasa bertelur tiga tahun sekali. Menurut Dwi, tak sedikit indukan penyu berulang kali bertelur di kawasan yang sama. “Mungkin karena penyu itu sudah merasa nyaman bertelur di sini (kawasan konservasi),” jelas pemuda 28 tahun itu.

Penyu yang mendarat di Pantai Trisik umumnya jenis hijau dan lekang. Biasanya bertelur di dekat rumput-rumput. Pantai dengan hamparan pasir landai menjadi lokasi favorit penyu untuk bertelur. “Kalau pantainya curam kadang penyu balik lagi (ke laut, Red) untuk mencari yang landai,” sambungnya.
Pantai Trisik sudah lama menjadi lokasi favorit pendaratan penyu karena garis pantainya jauh. Mulai muara Sungai Progo hingga Pantai Bugel sejauh kurang lebih tujuh kilomater. Hanya, Pantai Bugel ke barat di luar jangkauan konservasi. Dwi menduga, tak sedikit penyu mendarat dan bertelur di pasir Pantai Bugel. Jika ada warga Bugel yang menemukan telur penyu dan menyerahkan ke pengelola konservasi akan mendapat kompensasi.
Banyak suka duka dialami Dwi selama menjadi perawat penyu. Ditanya soal dukanya, raut muka Dwi tampak sedikit getir. Menjaga telur penyu hingga menetas menjadi tukik untuk dilepas kembali ke laut bukan perkara mudah. Butuh kesabaran dan ketelatenan ekstra.

Dwi merasa sangat beruka ketika banyak telur yang menetas, tapi dia kerepotan memberi pakan berupa ikan dan udang. Belum lagi masih harus memikirkan uang penggantian telur yang ditemukan warga. Yang lebih memberatkan karena saat ini tak ada lagi suntikan dana dari pemerintah untuk membantu konservasi penyu. Dwi berharap, ke depan pemerintah tak hanya datang ke area konservasi untuk mendata. Tapi kembali mengucurkan dana untuk kepentingan penyelamatan hewan langka itu. “Senangnya kalau bisa melihat telur menetas menjadi tukik,” katanya. “Sehari saja tidak melihat penyu rasanya kok gimana ya,” sambung Dwi.

Saat musim kemaru cerah, telur penyu bisa menetas dalam kurun waktu 40 – 50 hari. Namun, saat musim penghujan bisa lebih lama. Hingga 60 hari. Setelah menetas tukik masih harus dipindahkan di kolam penangkaran. Tukik dilepasliarkan di laut setelah berusia 3 – 4 bulan. “Nah, kalau menetas semua bisa dibayangkan biaya perawatannya,” ujar Dwi.

Dari semua telur yang menetas biasanya disisakan sekitar 10 ekor untuk objek penetilian. Ya, kawasan konservasi penyu abadi memang menjadi langganan peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dan perguruan tinggi lain di Jogjakarta.

Satu hal yang memotivasinya bergabung di komunitas konservasi penyu tak lepas dari peran Mbah Kromo. Nelayan andal Pantai Trisik itu ayah Dwi.
Dwi juga aktif menjadi anggota Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah V Pantai Glagah. Saat terjadi gelombang pasang Dwi total membantu warga pesisir mengevakuasi barang-barang. Bungsu dari dua bersaudara ini cukup kenal dengan tipikal laut. Apalagi dia sudah terbiasa hidup di pantai sejak kecil menjaring ikan bersama ayahnya.

“Menjadi anggota SAR bagi saya tidak ubahnya seperti aktivitas memberi pakan tukik saat pagi dan sore. Sama seperti mengganti air setiap tiga hari sekali,” ujarnya. (yog/fn)