(GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA)

BANTUL – PSIM Jogja meraih poin absolut saat menjamu PSS Sleman di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul, Kamis (26/7). Selain meraih kemenangan 1-0, laga ini juga menghadirkan rekor jumlah penonton terbanyak selama PSIM Jogja bermain di SSA.

Jumlah pendukung yang hadir mencapai 15 ribu. Besarnya animo masyarakat yang ingin mendukung Hendika Arga Cs, membuat aparat kepolisian ekstra keras mengamankan jalannya laga. Beruntung, hingga peluit akhir dibunyikan, tidak ada kejadian besar berarti di dalam stadion. Meski di luar stadion diwarnai beberapa insiden.

Masalah keamanan memang cukup krusial pada laga Derby DIJ ini. Belasan ribu pendukung tuan rumah yang hadir memenuhi SSA benar-benar memberikan teror bagi tim tamu. Bahkan, untuk menjaga keamanan, sesi konferensi pers yang sedianya digelar bagi ke dua tim akhirnya ditiadakan.

Sesi konferensi pers hanya diberikan untuk tim tuan rumah yang diwakili pelatih PSIM Jogja Bona Simanjuntak dan bek Crah Angger. ”Karena alasan keamanan, Polda DIJ segera mengamankan pemain dan official PSS, sehingga konferensi pers bagi tim tamu ditiadakan,” kata Media Officer PSIM Jogja Rob Sumiarno, kemarin.

Terpisah, Pelatih PSS Sleman Seto Nudiyantara menyampaikan permohonnan maaf atas sesi memberi keterangan kepada wartawan yang ditiadakan. Sebab, pihak panitia pelaksana (panpel) dan keamanan langsung membawa mereka ke luar dan tidak memberikan waktu yang cukup banyak.

”Saya mohon maaf karena tidak bisa melakukan sesi jumpa pers usai pertandingan,” jelasnya

Sementara itu, kericuhan antarsuporter yang terjadi di luar stadion Sultan Agung (SSA) Bantul terjadi ketika kick off antara PSIM vs PSS dimulai. Pantauan Radar Jogja, salah seorang suporter PSS Sleman yang berhasil masuk tanpa atribut ketahuan oleh suporter PSIM yang berujung pada aksi pengeroyokan.

”Tadi saya lihat dia (suporter PSS) kaya ngotot gitu ke orang yang pakai kaus Brajamusti, hampir mau main fisik juga. Akhirnya curiga dan ketahuan kalau dia dari suporter sebelah,” kata Dana, salah satu suporter yang ada di lokasi.

Petugas kepolisian langsung terjun ke lokasi kericuhan untuk mengamankan suporter PSS dari amukan rivalnya itu. Satu tembakan peringatan ke langit akhirnya dikeluarkan oleh pihak kepolisian untuk menghentikan aksi pengeroyokan tersebut.

Akhirnya suporter dari PSS Sleman yang belum diketahui namanya tersebut diamankan oleh pihak kepolisian yang bertugas untuk menghindari amukan dari supporter PSIM.

Di tengah-tengah pertandingan, juga sempat ada kericuhan. Kronologi awal di gerbang 11 ada suporter PSS Sleman akan memasuki SSA. Nahas, dia ketahuan. Suporter PSIM yang berada di dalam lantas ada yang ke luar stadion dan langsung mengeroyok suporter PSS yang ketahuan itu.

Kurang puas, suporter PSIM terus menghajar suporter PSS yang dinilai menyusup tersebut. Akhirnya terjadi gesekan antara suporter PSIM dan aparat kepolisian karena polisi datang untuk mengamankan suporter PSS. Tak ayal, polisi mengeluarkan gas air mata. Warga sekitar pun menyayangkan penggunaan gas air mata yang sampai ke perkampungan itu.

Puncak kericuhan yang terjadi antarsupporter di bagian timur stadion. Terjadi adu lempar batu, polisi yang berada di stadion mencoba untuk menghentikannya. Karena tidak direspons baik, terpaksa polisi menembakkan gas air mata.

”Saya belum tahu pasti penyebab kericuhan. Tadi ketika kerusuhan terjadi, saya berada di dalam,” ungkap Kapolres Bantul Sahat M. Hasibuan kepada Radar Jogja usai pertandingan.

Pengamanan pertandingan derby antara PSIM vs PSS sedianya sudah dilakukan secara maksimal oleh Polres Bantul dibantu Polda DIJ. Untuk mengamankan dalam stadion saja diterjunkan 250 personel. Sedangkan total personel pengamanan di dalam dan di luar stadion mencapai 1.00 personel.

Akhir pertandingan derby ini dimenangkan oleh PSIM. Salah satu suporter PSIM Harseto, 23, ditemui usai pertandingan mengatakan, permainan PSIM pada laga ini sangat baik. Bahkan bisa mencuri point PSS Sleman. ”Semoga bisa naik kasta ke liga satu,” harapnya. (bhn/mg3/ega/ila/fn)