(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

JOGJA – Satresnarkoba Polresta Jogja meringkus 16 tersangka kasus penyalahgunaan obat-obatan terlarang, narkoba dan psikotropika. Seluruhnya ditangkap dalam kurun waktu sebulan. Mayoritas dari kasus tersebut mengandalkan transaksi online.

Wakapolresta Jogja AKBP Ardiyan Mustakim mengatakan transaksi online narkoba marak. Guna menyamarkan jual beli, ada sebuah kode khusus. Tujuannya agar penjual atau bandar mengetahui pembeli narkoba tersebut.
“Berhasil kami ungkap, lalu kami sidik proses transaksinya. Ternyata ada kode tertentu yang digunakan, jika transaksi itu mengandalkan online,” kata Ardiyan di Mapolresta Jogja Kamis (26/7).

Perwira dua melati di pundak ini mengakui transaksi online tergolong marak. Alasannya untuk mengelabuhi pemantauan kepolisian. Meski begitu jajarannya terus berusaha membongkar modus operandi ini.

Di satu sisi proses transaksi ini tetap mengandalkan tatap muka. Terutama untuk mengantarkan barang bukti transaksi narkotika. Beberapa di antaranya bahkan terbongkar usai tertangkap. Alhasil Polisi berhasil meringkus bandar yang berjualan secara online.

“Ada yang ditangkap di rumah berdasarkan hasil pengembangan. Khusus untuk penjualan online diterapkan untuk transaki jenis narkoba dan psikotropika. Kalau obat berbahaya bertemu langsung atau tatap muka dengan pembelinya,” ujar Ardiyan.

Terkait tersangka, hampir seluruhnya adalah pemain baru. Hanya ada satu tersangka RY yang tercatat sebagai residivis.

RY memiliki lima butir pil Alprazolam, satu butir pil Riklona, satu bungkus klip warna merah berisi dua butir pil Alprazolam dan Riklona.

“Selain residivis, kasus yang sama juga terbukti ada tindak pidana umum. Dia (RY) terbukti sebagai penyalahguna psikotropika golongan IV. Dikenakan Pasal 62 UU 5/1997 tentang Psikotropika,” katanya.

Kasat Narkoba Kompol Cahyo Wicaksono mengatakan ke-16 tersangka terlibat 11 kasus berbeda. Barang bukti yang diamankan di antaranya sabu-sabu seberat 0,2 gram, tembakau gorilla 32 linting, Alprazolam 54 butir, Riklona 27 butir. Terbanyak adalah Hexymer sebanayak 2.178 butir.

Selain pengguna, beberapa terdeteksi sebagai pengedar. Tercatat ada tujuh pengedar untuk keseluruhan kasus penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan. Ada pula satu tersangka di bawah umur berstatus pelajar berinisial KI, 17.

“Berdasarkan penyidikan harga jualnya beragam. Untuk narkotika dijual kisaran Rp 200 ribu lalu untuk jenis obat bervariasi dari harga Rp 30 ribu. Tidak hanya dari Jogjakarta, adapula yang kami tangkap di Sukoharjo untuk tersangka inisial CBH, 18,” kata Cahyo. (dwi/iwa/fn)