Dari dulu, sepak bola menjadi olahraga paling populer di dunia. Tua, muda, pria, dan perempuan, semua menggandrungi olahraga ini. Dalam sepak bola, ada suporter yang menjadi ruh dari sebuah tim. Begitu juga dengan Rahmat Kurniawan, ”darah biru” telah mengalir sejak kecil.

JAUH HARI WS, Jogja

PRIA yang akrab disapa Mame itu sudah sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) menyukai sepak bola. Diakui oleh pria 31 tahun itu, sepak bola merupakan warisan turun temurun dari kakeknya.

”Dari kakek saya diturunkan ke ayah, lalu ke kakak, dan baru saya mulai tertarik,” kata Mame ketika dihubungi Kamis (26/7).

Baginya, sepak bola bukan hanya sekadar olahraga yang dimainkan oleh sebelas pemain melawan tim lain yang memperebutkan satu bola untuk kemudian dimasukkan ke jala tim lawan. Baginya, sepak bola lebih dari itu.

”Sepak bola adalah jalan hidup saya,” ungkapnya.

Walaupun dia bukan seorang pemain bola dan bahkan tidak bisa bermain sepak bola, tapi ada tempat khusus untuk olahraga yang satu ini di hatinya. Terkhusus untuk PSIM Jogjakarta.

”PSIM adalah bagian hidup saya juga,” bebernya.

Dia masih ingat, pertama kali ke stadion untuk melihat pertandingan tim biru itu. Saat itu usianya delapan tahun. ”Saya masih ingat saat itu kelas 3 SD, saya melihat PSIM di Mandala Krida,” jelasnya.

Namun, dia tidak ingat dengan tim apa PSIM berhadapan. Hanya, medio 1999 saat PSIM berhadapan dengan Arema yang paling dia ingat. Bukan karena kerusuhan, saat itu PSIM terpaksa turun kasta.

Tentu sebagai suporter, dia amat sedih lantaran PSIM harus memulai lagi perjuangan dari awal. ”Sedih melihat tim kebanggaan turun kasta,” tutur mantan Ketua Brajamusti periode 2015-2018 itu.

Namun, apapun kondisinya, dia tetap setia pada satu laskar. Laskar Mataram PSIM Jogjakarta. Dia pun berharap yang terbaik untuk PSIM dan seluruh suporter di DIJ. Termasuk dalam pertandingan Derby DIJ antara PSIM vs PSS di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul.

Dia meminta, agar para suporter fokus kepada tim masing-masing. Perihal rivalitas, menurutnya, hanya sekadar bumbu.

”Yang terpenting fokus mendukung tim masing-masing dan redam ego,” imbaunya.

Terkait dengan Derby DIJ, dia ingin agar semua pihak menekan ego dan saling menaruh rasa hormat. Kepada Radar Jogja, dia menuturkan tidak ada masalah apa-apa antarpengurus. ”Bahkan kami sering komunikasi,” jelas anak terakhir dari tiga bersaudara ini.

Diakuinya untuk mengedukasi dan menyatukan semua pihak perlu peran aktif dari pemerintah. ”Nyuwunsewu, kalau bisa Ngarso Dalem (Sultan Jogja) juga ikut membantu,” pintanya. (ila/fn)