KERJA BAKTI: Warga bersama-sama membersihkan lingkungan usai dihantam gelombang tinggi di Pantai Indrayanti, Kamis (26/7). (SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA)

GUNUNGKIDUL – Gelombang tinggi yang melanda pesisir Gunungkidul dan Kulonprogo menyisakan tumpukan sampah serta material bekas bangunan. Tumpukan sampah dan material bekas bangunan tersebut masih bertaburan di mana-mana.

Warga dibantu Tim SAR, kepolisian, dan TNI sibuk membersihkan puing-puing bangunan dan sampah yang berserakan di lingkungan sekitar pantai, kemarin (26/7). Sebab, selain bangunan yang porak poranda, berbagai macam sampah juga terbawa ombak.

Menurut keterangan warga setempat, meski sudah dilakukan bersih-bersih lingkungan namun upaya itu tidak maksimal karena kondisi tidak memadai. Melihat kondisi itu, warga terdampak meminta Pemkab Gunungkidul menambah bantuan alat dan personel untuk membersihkan puing dan sampah sisa air laut pasang.

”Harapan kami, semakin banyak yang terlibat penanganan sampah akibat gelombang tinggi bisa lebih cepat,” kata Sugiyanto, seorang pedagang di Pantai Sepanjang, Kemadang, Tanjungsari.

Menurut dia, selain mengganggu, sampah yang masih banyak menumpuk dikhawatirkan menjadi penyebab timbulnya penyakit.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul Agus Priyanto mengaku telah menerjunkan personel tambahan untuk mengatasi sampah. Baik yang terbawa dari gelombang tinggi maupun sampah dampak bangunan rusak. ”Hari biasa penempatan personel di pantai sebanyak 14 orang, sekarang 50-an,” kata Agus.

Dia menjelaskan, wilayah paling parah terdampak gelombang tinggi dan meningkatnya volume sampah yakni di Pantai Drini, Pantai Sepanjang, dan Pantai Indrayanti.

Di bagian lain, Koordinator SAR Satlinmas Korwil II Gunungkidul Marjono mengatakan,, kondisi gelombang mulai landai. Meski demikian pihaknya mengimbau masyarakat sekitar maupun wisatawan untuk selalu berhati-hati.
Sementara itu, gelombang tinggi pantai selatan Kulonprogo juga berangsur surut dan normal kembali. Para pedagang di objek wisata (obwis) Pantai Glagah, Temon juga mulai membersihkan lapak dan kios dagangan mereka.

PORAK PORANDA: Warga terlihat kesulitan beraktivitas pascagelombang tinggi. Sehari setelah kejadian warga di wilayah terdampak gotong royong bersih-bersih Pantai Sepanjang, Kemadang, Tanjungsari, Kamis (26/7). (GUNAWAN/RADAR JOGJA)

Pantauan Radar Jogja, obwis Pantai Glagah masih lengang. Sejumlah pedagang ada yang sudah membuka lapaknya, pengunjung lokal ada yang datang sekadar ingin melihat lebih dekat kerusakan pascapuncak gelombang tinggi yang terjadi Rabu (25/7).

Salah satu pedagang di Laguna Glagah, Yanto mengungkapkan, saat kejadian dia masih sempat menyelamatkan dagangnya, namun kiosnya tak luput dari terjangan gelombang pasang. Limpasan air laguna menggenangi kios miliknya setingg lutut orang dewasa.

”Tanggul Lagunan sisi barat sana jebol, air pasang masuk menyebabkan laguna meluap dan menggenangi kios saya. Pagi tadi sudah surut, saya manfaatkan untuk bersih-bersih, kalau benar-benar sudah normal. Minggu besok mulai jualan lagi,” ungkapnya.

Pedagang lain, Joko Hermanto mengatakan, air mulai surut sejak semalam, pagi area parkir dan jalan masuk ke Laguna sudah terbebas dari genangan air. Disinggung kerugian, Joko mengaku tidak banyak.

”Kali ini air datangnya cepat, surutnya juga cepat. Kalau kerugian pedagang di sisi selatan sana, kerugiannya mungkin mencapai puluhan hingga ratusan juta per orang,” ujarnya.

BERSIH-BERSIH: Pemilik warung di Laguna Pantai Glagah memanfaatkan waktu untuk bersih-bersih lapaknya yang sempat tergenang air laut, Kamis (26/7). (HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA)

Wakil Ketua Paguyuban Pondok Laguna Suyadi menegaskan, anggota paguyuban ada sekitar 150 pedagang. Dari sekian anggota yang terdampak gelombang pasang, sejauh ini belum bisa ditaksir berapa kerugiannya. ”Namun yang jelas ada sekitar sepuluh warung, empat kolam renang anak rusak parah dan butuh dana banyak serta perlu waktu untuk memperbaikinya,” tegasnya.

Ketua Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah V Pantai Glagah, Aris Widiatmoko menjelaskan, gelombang pasang sebetulnya adalah peristiwa tahunan. ”Ini sebetulnya siklus tahunan. Dampaknya garis pantai banyak yang abrasi pantai menjadi curam, namun biasanya akan kembali landai,” jelasnya.

Bagian Logistik Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah V Pantai Glagah Danang Heru Cahyono menambahkan, kondisi terkini gelombang sudah mulai surut. Kalau dilihat dari grafis perkiraan cuaca, ke depan masih akan terjadi gelombang tinggi, namun tidak lebih dari 8 meter seperti puncaknya Rabu (25/7) lalu.

”Anggota ada 40 personel, dengan status Siaga 1 kami berbagi tugas, di Pantai Glagah 20 anggota, Congot 10 anggota dan Trisik 10 anggota, patroli tetap setia hari. Perlengkapan pelampung, tari lempar, perahu dalam kondisi siap,” katanya. (gun/tom/ila/fn)

(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)