HAMPIR setiap hari ada sekitar 4 ribu jamaah tablig akbar menginap di Bangla Wali Masjid di Nizamuddin, New Delhi, India. Mereka datang dari seluruh penjuru dunia. Makan minum, tiga kali dalam sehari gratis . Dari mana mereka mendapat dana menghidupi ribuan jamaah setiap harinya?

Begitu penulis keluar dari markas Bangla Wali Masjid September 2011, suasana kian malam makin ramai. Selain pedagang dan pembeli terus bertambah. Ada beberapa kelompok jamaah tablig sore itu bersiap meninggalkan masjid untuk berdakwah di daerah sesuai yang ditentukan amir setiap kelompok.

Beberapa koper ditumpuk, seorang jamaah sibuk mengabsen, yang lain memanggil nama jamaah untuk dicocokkan sesuai daftar absen. Begitu semua oke, mereka siap berangkat ke daerah dakwah yang ditentukan dengan angkutan mobil.

Saat ratusan bahkan ribuan jamaah keluar berdakwah, ratusan jamaah tablig yang lain hadir. Baru sampai di Bangla Wali dari berdakwah. Sebagian lainnya baru sampai di India dari negara asal jamaah. Mereka pun melapor asal negara. Serta surat pengantar dari pengurus jamaah tablig negara bersangkutan. ‘’Itu aktivitas rutin di sini sehari-hari,’’ kata Haji Dedeh, jamaah tablig yang juga pengusaha asal Indonesia.

Soal biaya selama berdakwah dan tiket masuk ke India ditanggung sendiri para jamaah. Ini yang kemudian diplesetkan beberapa pihak bahwa jamaah tablig berhaji di India, Pakistan, atau Banghldesh. ‘’Ini konyol. Kami tetap berhaji di Makkah,’’ tegasnya.

Haji Dedeh menambahkan, banyak pihak menyebarkan fitnah bahwa jamaah tablig yang datang ke India untuk menyembah kuburan seorang ulama terkenal yang dimakamkan tak jauh dari Bangla Wali Masjid Nizamuddin.

‘’Itu ngawur. Kuburannya saja agak jauh dari masjid. Anda juga lihat sendiri apa aktivitas jamaah tablig di sini. Tapi, kalau fitnah itu ditanggapi, makin besar. Makanya, kami pilih diam dan dakwah terus. Kalau ditanggapi itu bagian skenario penyebar fitnah tadi. Mereka tentu makin senang. Kalau didiamkan nanti hilang sendirinya,’’ paparnya.

Obrolan dilanjutkan ke RM Karim yang lokasinya di jalan masuk gang sekitar 50 meter dari Bangla Wali Masjid. Selain bersih, masakan di sini terkenal halal, toyib, dan enak. Konon, saat Kekaisaran Islam Mughal di India jatuh, koki kerajaan lari menyelamatkan resep masakannya. Lalu anak turunannya mendirikan rumah makan. Jadilah resep masakan tadi bertahan hingga sekarang.

‘’Ya, benar masakan di sini peninggalan resep koki Kekaisaran Mughal,’’ kata Haji Cecep, sesepuh Masjid Tablig Akbar Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Makanan pembuka sup ayam cukup enak. Bahkan hidangan daging kambing empuk dan tidak beraroma kambing sedikit pun. ‘’Kalau jamaah tablig makan di sini dapat potongan 25 persen,’’ ujar Haji Dedeh.

Selama di India, baru kali ini penulis menemukan makanan senikmat dan selezat itu. Penulis yang beberapa hari tinggal di Wisma KBRI India bersama teman-teman mahasiswa dan staf KBRI di New Delhi suka makan di restoran Kashmir, sekitar 200 meter dari KBRI.

Negara bagian Khasmir meski semua beragama Islam, wilayahnya masuk India. Itu yang menyebabkan Kahsmir sering bergolak, menuntut pemisahan dari India. Makanya, restoran Kashmir yang ramai itu juga dijaga tentara India. Setiap pengunjung juga ditanya, terutama warga asing.

Masakan restoran Kahsmir selain halal juga enak. Dan, yang penting harganya terjangkau. Makanya, restoran Kashmir tadi selalu menjadi jujukan banyak mahasiswa Indonesia yang kuliah di pelosok India kalau sedang ke New Delhi. Terutama masakan manten, semacam kare gulai kalau di Indonesia. Ada manten berbahan daging, ada mantan ayam. Dua duanya sangat enak dan cocok di lidah orang Indonesia. Tapi, makan di RM Karim dekat Bangla Wali Masjid lebih… lebih… enak. Pokoknya mak nyus… nyus…

Kembali ke Bangla Wali Masjid, setiap hari ada sekitar empat ribu jamaah dari seluruh dunia menginap di sini sebelum diterjunkan berdakwah ke seluruh dunia. Mereka ditatar, diberi aturan main bagaimana cara berdakwah yang santun. Tidak boleh membicarakan politik dalam berdakwah, tidak melawan saat dicaci maki, bahkan diusir sekali pun. ’’Setelah itu baru bisa berdakwah,’’ ujarnya.

Haji Dedeh pernah berdakwah keliling enam negara di Eropa, seperti Spanyol dan Belanda, pada 2006. Kali pertama datang, warga setempat curiga. Ini kok ada turis pakai jubah segala. Mereka pun tanya ini itu. Tapi, setelah tahu dari jamaah tablig ya tidak masalah. ‘’Wong, kami datang baik-baik untuk berdakwah ya tidak masalah. Mereka juga tahu,’’ ungkapnya.

Dalam berdakwah jamaah selalu mendatangi kaum muslim yang ada di daerah itu. Misalnya, saat ke Spanyol jamaah meminjam garasi pemilik rumah yang kebetulan pemeluk Islam. Di sana jamaah salat dan seterusnya. Akhirnya, pemilik garasi merelakan garasi tadi jadi musala. Setelah jamaahnya makin banyak baru dibangun masjid. Begitu seterusnya.

Bahkan jamaah tablig pernah salat di lapangan terbuka di salah satu negara Eropa. Masyarakat sekitar bertanya-tanya. Apa ini? ‘’Kalau mau tahu ya mari kita belajar,’’ ujar Dedeh kepada warga sekitar yang keheranan.

Lama kelamaan ada warga datang mencari tahu. Setelah paham mereka bergabung. Satu, dua sampai lima warga muslim setempat bergabung salat. ’’Sekarang tempat di tempat itu sudah ada musala dan pemeluk Islam terus bertambah, ‘’ ujarnya.

Tahun 2009 ke Australia dan New Zealand. Sedangkan tahun 2001 bersama istri yang sudah jadi pendakwah ke Inggris. Disana banyak jamaah tablig yang membantu. ‘’Kadang makan di sini belum habis, jamaah yang lain sudah menawari makan di rumah mereka,’’ akunya. (yog/bersambung)