MAGELANG-Jika paguyuban pedagang di Kabupaten Magelang dan Temanggung berani wadul ke dewan soal kelangkaan daging ayam broiler, sikap berbeda diperlihatkan pedagang di Kota Magelang.

Mereka yang sebelumnya memilih untuk mogok jualan selama tiga hari, kini justru jadi kebingungan sendiri. Karena aksi tersebut tidak berdampak positif, justru sekarang mereka harus menghadapi harga yang semakin tinggi.”Harapan kami itu, harga di peternak bisa turun, setelah kami melakukan aksi kemarin. Namun justru sekarang malah naik,” kata Tutik salah seorang pedagang daging ayam di Pasar Rejowinangun, Kamis (26/7).

Wanita yang telah berdagang daging ayam selama 35 tahun tersebut mengaku jika sebelum mogok berjualan harga daging hanya berkisar Rp 35 ribu per kilogram, tapi kini kembali naik menjadi Rp 40 ribu. Dampaknya, omset penjualan semakin menurun. “Biasanya, setiap hari bisa jualan 150 potong ayam. Tapi hari ini, berkurang jadi 130 potong ayam,” tuturnya.

Titik menilai, pemerintah pusat, termasuk Pemkot Magelang lambat dalam merespons dan menanggapi tingginya harga daging ayam saat ini. Dia berharap pemerintah turun langsung. Memantau ke peternakan-peternak menghimbau agar harga ayam jangan terlalu tinggi, kasihan masyarakat.

Mahalnya harga ayam pedaging dari tingkat peternak, membuat para pedagang daging ayam di sejumlah pasar tradisional di Kota Magelang memilih tidak berjualan. Jika dipaksakan berjualan, para pedagang merasa hanya akan mengalami kerugian.

Tidak berjualannya para pedagang tersebut, bagian dari “demo” agar harga daging dari peternak segera turun. “Harga beli dari peternak juga sudah termasuk tinggi, yakni mencapai Rp 25.000 per kilogram ayam hidup,” ungkap pedagang daging ayam di Pasar Kebonpolo, Maesaroh.

Menurutnya, harga beli dari peternak yang sudah tinggi tersebut, pedagang tidak bisa berbuat banyak. Sebab, kalau dijual mahal ke konsumen, maka pedagang takut tidak laku sehingga mengalami kerugian.

Dari peternak saja sudah Rp 25.000 per kilogram ayam hidup. Kalau dijual dengan harga Rp 35.000 per kilogram ke konsumen, pedagang yang merugi. Kalau dijual lebih mahal, merekatakut tidak ada yang membeli. “Kalau sudah begitu, kami memilih tidak berjualan untuk sementara waktu dan itu kesepakatn paguyuban pedagang di Kota Magelang,” jelasnya.

Naiknya harga daging ayam, ternyata tidak berimbas banyak pada penjualan ayam kampung dan ikan. Ratmi, salah satu pedagang ikan mengutarakan, pembelinya tidak naik signifikan sejak harga daging ayam naik. “Penjualan biasa-biasa saja, meski tidak ada yang jualan daging ayam selama tiga hari lalu. Ternyata pembeli tidak beralih ke ikan,” tandas Ratmi. (dem/din/fn)