Tak ada gerakan selain dakwah yang dilakukan jamaah tablig Nizamuddin di New Delhi, India. Mereka berasal dari berbagai negara dengan satu tujuan. Selain mengajak orang kembali ke jalan Allah, juga belajar sabar, menerima apa pun perlakuan orang terhadap diri saat berdakwah. Diusir, dicaci maki, bahkan difitnah. Tapi, karena dakwah itu di jalan Allah ya diterima saja.

‘’Kita tidak membalas kejahatan atau keburukan dengan kejahatan atau keburukan yang lain. Tapi, dengan kebaikan. Insya Allah menolong hamba-Nya yang kesulitan,’’ ungkap Haji Cecep kepada penulis yang menyempatkan mampir di Markas Nizamuddin September 2011. Haji Cecep adalah sesepuh jamaah tablig akbar Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Ketika itu dia sedang memimpin musyawarah berbahasa Melayu yang diikuti jamaah asal Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Cecep menambahkan, entah sudah berapa kali Markas Tabligh Akbar berlokasi di Jalan Hayam Wuruk, Kebun Jeruk, Jakarta Barat, diisukan macam-macam. Mulai sesat, kiblatnya menghadap Bangladesh, salah satu markas Tabligh Akbar. Dan fitnah lainnya. ‘’Ya, kami biarkan saja. Sebab, mereka yang menyebarkan isu tidak mengerti. Dakwah terus berlanjut dan tidak terpengaruh isu-siu yang begituan,’’ ujar pria yang sudah berdakwah melalang dunia itu. Mulai Amerika, Eropa, dan negara lainnya. ‘’Jadi, kami sudah kenyang dengan fitnah seperti itu,’’ akunya.

Begitu juga mencari kebahagiaan dalam agama harus dipraktikkan. Caranya, dengan melakukan dakwah. Ini salah satu ajaran Nabi Muhammad SAW. ‘’Kalau sampeyan mau ikut dakwah tiga hari saja, Insya Allah dijamin paham, apa itu mencari kebahagiaan. Kalau hanya mendengar atau bertanya, sulit memahami. Makanya, luangkan waktu tiga hari ikut dakwah mumpung ada di India,’’ ajak Haji Cecep. Tapi, karena ada tugas lain yakni, harus melaksanakan Perjalanan Haji Nekat Lewat Jalur Darat, penulis terpaksa tak bisa memenuhi itu.

Puncak fitnah kepada para pendakwah terjadi pasca serangan WTC Amerika, 11 Septermber 2001 oleh para teroris. Para pendakwah tablig akbar yang melaksanakan tugas di pelosok masjid Indonesia banyak yang diusir, diinterogasi, bahkan ditangkap.

Itu semata-mata karena ketidaktahuan masyarakat dan aparat daerah. Dakwah yang dilakukan secara damai dicurigai macam-macam hanya gara-gara pendakwah mengenakan jubah sorban. ‘’Tapi, kami sudah kenyang dengan fitnah tuduhan miring lainnya. Makanya, dakwah terus jalan,’’ ungkap Haji Dedeh, penggiat tablig akbar yang mendampingi Haji Cecep.

Kadang pengikut tablig akbar dituduh tidak bertanggung jawab pada keluarga karena meninggalkan mereka cukup lama. Haji Dedeh yang juga pengusaha menepis itu.

Justru mereka paling cinta keluarga. Saat meninggalkan berhari-hari keluarga ada kerinduan mendalam terhadap mereka. Tapi, untuk mengejar kebagihaan dan rida Allah memang perlu pengorbanan. Yakni, menyisihkan waktu untuk berdakwah di jalan Allah. ‘’Jadi, jangan disalahartikan. Apalagi, kebutuhan keluarga selama ditinggal juga terpenuhi,’’ ungkapnya.

Tak terasa azan Magrib berkumandang. Para jamaah tablig Indonesia pun buka bersama. Ada kurma, apel, dan buah-buahan lainnya. Juga ada teh. ‘’Sudah wudu? Tanya Haji Dedeh. “Kalau belum cepat-cepat waktunya mepet,’’ sarannya. Sayang aktivitas di dalam masjid tak boleh difoto. ‘’Jangan diambil gambarnya. Kami berdakwah bukan pamer ke publik. Semua karena ikhlas,’’ ingat Haji Dedeh.

Para jamaah dari berbagai negara wudu dilanjutkan salat berjamaah ke lantai satu dan dua. Penulis dan jamaah tablig asal Indonesia dan negara seluruh dunia salat di lantai dua. Imam di lantai satu. ‘’Kalau Anda punya waktu nanti kita makan dulu sambil mengobrol,’’ ajak Haji Dedeh. (yog/bersambung)