(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

JOGJA – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIJ akhirnya menggelar operasi pasar (OP) guna menyikapi tingginya harga daging ayam potong di pasaran. OP digelar serentak di Pasar Kranggan, Beringharjo, dan Demangan Rabu (25/7). Daging ayam yang di pasaran masih menyentuh harga Rp 45 ribu – Rp 50 ribu per kilogram dijual Rp 32 ribu di OP.

Hal ini justru dikeluhkan para pedagang daging ayam karena dianggap merugikan. OP menyebabkan stok milik pedagang tak laku. “Selisihnya sangat jauh (Rp 13 ribu per kilogram, Red). Pembeli pasti pilih yang murah,” keluh Simon, pedagang daging ayam potong di Pasar Kranggan, Rabu (25/7).

Dikatakan, pedagang tak mungkin menjual daging ayam Rp 32 ribu per kilogram. Sebab, harga kulakan ayam hidup di peternak saja mencapai Rp 36 ribu. Itu belum termasuk jasa angkut dan pemotongannya.

Simon khawatir jika operasi pasar dilakukan secara kontinyu justru akan mematikan pendapatan pedagang daging ayam. Apalagi tingginya harga daging ayam menyebabkan jumlah konsumen menurun. Karena itu pula para pedagang pilih libur karena tak mau terus-terusan rugi. “Di sini (Pasar Kranggan) biasanya da 20-an pedagang, sekarang paling hanya lima orang yang jualan,” ungkapnya.

Pedagang lain, Heri Purwanto, 38, berpendapat, OP bukan solusi menekan tingginya harga daging ayam potong. OP daging ayam terbukti merugikannya. Heri mengaku, setiap hari rata-rata bisa menjual 150 kilogram daging ayam potong. Ketika ada OP, dagangannya tak begitu laku. “Padalah biasanya siang sudah habis. Ini masih sisa banyak,” sesalnya.

Heri berharap OP tak dilakukan terus-menerus. Menurutnya, pemerintah bisa ikut cawe-cawe menenak harga daging ayam dengan menyuport para peternak dan mengendalikan suplai stok. “Kalau dari peternak turun, kami pasti turunkan harga jualnya juga,” ujarnya.

Kepala Disperindag DIJ Tri Saktiyana mengatakan, pemilihan OP di tiga pasar tersebut berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Sebagai pasar indikator inflasi di DIJ. Sedangkan penentuan harga daging OP disesuaikan dengan acuan Permendag No 58 Tahun 2018. Setiap konsumen maksimal hanya boleh membeli dua kilogram. “Kalau kemudian harga menurun, kami anggap operasi ini punya efek dan akan diteruskan seminggu ke depan,” ujar Tri.

OP dilakukan karena harga daging ayam tak kunjung turun selama seminggu terakhir. OP di Pasar Beringharjo digelar di sisi timur pasar. Bekerja sama dengan salah satu distributor ayam terbesar di DIJ dari Sleman. Disediakan stok sebanyak 500 kilogram. OP diserbu konsumen sejak pukul 07.00. Hingga pukul 08.45 sedikitnya telah terjual 100 kilogram.

Tingginya harga daging ayam, menurut Tri, disebabkan kondisi cuaca yang kurang menguntungkan bagi peternak. Sehingga mengganggu perkembangan ayam petelur maupun pedaging. “Ada kemungkinan juga karena harga pakan sedikit lebih mahal,” tambahnya.

Tri mengakui, stok produksi ayam di DIJ tidak mencukupi. Sebagian suplai didatangkan dari Jawa Tengah. Menurutnya, kemampuan peternak DIJ hanya dapat memenuhi sekitar 60 persen kebutuhan pasar. Suplai dari Jawa Tengah pun menurun hingga 50 persen sejak beberapa hari lalu. Itulah yang menyebabkan suplai daging ayam potong di pasar tradisional DIJ terganggu sejak Minggu-Senin (22-23 Juli) lalu. “Sekarang sudah mulai lancar,” klaimnya.
Wagiyah, warga Kasongan, Bantul, mengaku cukup terbantu OP daging ayam. Dia biasa membeli daging ayam di Pasar Niten Bantul. Kemarin harganya masih menyentuh Rp 45 ribu per kilogram.

Terpisah, Sekretaris Daerah Bantul Riyantono mengatakan, harga pakan ternak yang sebagian masih impor turut berpengaruh pada tingginya harga jual daging ayam potong. Karena itu, Toni, sapaannya, mengimbau pemerintah pusat atau provinsi berupaya menstabilkan harga pakan terlebih dahulu. “Kalau harga pakan sudah stabil, harga pokok ditekan, maka harga (daging ayam, Red) stabil,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIJ Bayu Mukti Sasongko menyarankan masyarakat untuk beralih ke ikan sebagai pengganti protein daging ayam.

“Ikan lebih murah. Lele, misalnya, sekitar Rp 20 ribu per kilogram di pasar. dari petani Rp 15 ribu,” katanya.

Subtitusi konsumsi daging ayam ke ikan juga diharapkan bisa meningkatkan konsumsi ikan di DIJ. menurut Bayu, rata-rata konsumsi ikan DIJ mencapai 23,07 kilogram per orang/tahun. Jumlah tersebut masih di bawah rata-rata nasional 42 kilogram per orang/ tahun. Meski setiap tahun selalu meningkat, konsumsi ikan di DIJ masih ada di zona kuning acuan Kementerian Kelautan.
Dalam setahun kebutuhan ikan di DIJ mencapai 120 ribu ton. Namun yang berhasil dikumpulkan nelayan DIJ baru sekitar 82 ribu ton per tahun. Untuk memenuhi kekurangan, kebutuhan ikan tangkap laut biasanya didatangkan dari Semarang. Sedang untuk ikan tawar didatangkan dari Boyolali atau Tulungagung.

Di sisi lain, Bayu menilai rendahnya konsumsi ikan di DIJ karena daya beli masyarakat. “Jika melihat harga daging ayam Rp50 ribu per kilogram seharusnya masyarakat mulai melirik ke ikan. Apalagi pilihannya cukup banyak dari yang murah sampai mahal,” paparnya. (tif/ega/pra/yog/fn)