MUNGKID-Para pedagang dan pengecer daging ayam di Kabupaten Magelang dan Temanggung wadul ke DPRD Kabupaten Magelang, Rabu (25/7). Mereka mengeluhkan kelangkaan daging ayam yang berimbas pada tingginya harga jual.

Mereka meminta agar masalah tersebut segera diatasi. Termasuk meminta dukungan DPRD agar kelangkaan daging ayam tidak berbuntut dengan dibukanya kran impor. “Karena proses impor lebih lama dari pada proses beternak ayam menjadi layak potong,” kata M Ruri salah satu anggota Paguyuban Pedagang dan Pengecer Ayam Magelang-Temanggung.

Niatnya mereka bertemu dengan Komisi C dan pimpinan dewan. Tetapi karena adanya agenda yang lain, maka mereka hanya ditemui oleh Wakil Ketua DPRD Kabupaten Magelang, Suharno. Dinas Peternakan dan Perikanan (Dipeterikan) ikut juga mendampingi.

Mereka juga mempersoalkan harga pakan ayam yang menjadi tinggi. Itu katanya karena AGP (Antibiotik Growth Promotor) yang telah lama digunakan dalam pakan ayam tidak boleh digunakan lagi, dan antibiotik penggantinya lebih mahal.”Semoga ini bukan menjadi akal-akalan untuk masuknya produk baru, yang justru akhirnya membuat harga daging ayam mahal,” tambah anggota paguyuban lainnya, Panut S.

Nok Urip dari Dispeterikan Kabupaten Magelangmembenarkan AGP sekarang dilarang digunakan dalam pakan ayam. Alasannya karena sifatnya tidak bisa dicerna dengan baik oleh ayam dan berbahaya bila dikonsumsi oleh manusia.

Pemkab Magelang berencana mempertemukan peternak dan pedagang ayam dengan stakeholder, dalam waktu dekat ini. Yakni pada Jumat (27/7). “Untuk mengatasi kesehatan ayam dalam cuaca yang tidak bagus ini, kami sarankan menggunakan kunyit. Ini sudah kami terapkan pada peternak ayam di Bandongan dan Salaman,” ungkap Nok.

Suharno sepakat dengan keinginan pedagang untuk bertemu dengan stakeholder untuk mengatasi kelangkaan daging ayam di Kabupaten Magelang. Termasuk keinginan pedagang untuk menertibkan perizinan perusahaan yang bergerak dalam bidang pakan ayam. Terutama untuk meneliti kandungan mineral atau zat yang terkandung dalam pakan tersebut.

“Intinya kita sepakat agar impor daging dari luar, ketika terjadi kelangkaan menjadi solusi pemerintah saat ini. Kita juga sepakat, kalau Dispterikan melakukan uji petik terhadap kandungan dalam pakan ayam. Sudah sesuai label atau apa yang tertulis dalam kemasan atau belum,” tegas politisi Partai Gerindra tersebut.

Sementara itu, setelah tiga hari tidak jualan, para pedagang daging ayam di pasar-pasar tradisional Kota Magelang kembali berdagang, Rabu (25/7). Yuli, salah satunya. pedagang daging ayam di Pasar Rejowinangun mengaku dilarang berjualan oleh paguyuban pedagang ayam selama tiga hari dari Minggu (22/7) sampai Selasa (24/7). “Saya diberi tahu dilarang jualan selama tiga hari. Jadi, kami semua mogok. Gara-garanya harga ayam naik. Biasanya Rp 32.000- Rp 33.000 per kilogram, sekarang sampai Rp 38.000- Rp 40.000 per kilogram,” tandas Yuli. (dem/din/fn)