DISTRUKTIF: Sejumlah pemilik warung di sisi selatan Laguna Obyek Wisata Pantai Glagah, Kecamatan Temon, mencoba meyelamatkan barang-barang yang tersisa akibat terjanga gelombang pasang, Rabu (25/7). (HENFRI UTOMO/RADAR JOGJA)
TERANCAM – Warga mengevakuasi harta benda yang bisa diselamatkan saat gelombang besar datang di Pantai Drini, Banjarejo, Tanjungsari Rabu (25/7). (GUNAWAN/RADAR JOGJA)
MEDESAK DITATA – Seorang warga termangu memandangi bangunan dekat bibir Pantai Drini Banjarejo, Tanjungsari yang rusak diterjang gelombang Rabu (25/7). (GUNAWAN/RADAR JOGJA)
(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

GUNUNGKIDUL – Ratusan warung makan di pesisir selatan Gunungkidul dan Kulonprogo rusak berat setelah diterjang gelombang tinggi Rabu (25/7). Bahkan sebagian besar bangunan semi permanen yang berhadapan langsung dengan pantai hilang terseret arus ombak. Demikian pula kondisi posko-posko SAR. “Ini kerusakan terparah sepanjang sejarah,” ungkap Suyanto, anggota SAR Pantai Drini, Rabu (25/7).

Gelombang tinggi juga menghancurkan ratusan gazebo, penginapan, dan kapal nelayan. Seperti di kawasan Pantai Drini, Banjarejo, Tanjungsari, Gunungkidul.
Suyanto menyebut, tingkat kerusakan infrastruktur pantai akibat gelombang tinggi kali ini jauh lebih besar dibanding kasus-kasus serupa sebelumnya.

Dia memastikan, semua bangunan yang berdiri di sempadan pantai tidak dapat dibangun lagi karena tergerus abarasi. Karena itu dia berharap kepada pemerintah agar segera melakukan penataan kawasan pesisir selatan.

“Kalau tidak (ditata, Red) gelombang tinggi akan terus menjadi ancaman kerusakan infrastruktur pantai,” katanya.

Alternatif mencegah ancaman itu dengan menjauh dari bibir pantai. Semua bangunan didesain dengan jarak aman dari gelombang tinggi.

Pantauan Radar Jogja kemarin puluhan pedagang di Pantai Drini berjibaku mengevakuasi harta benda mereka. Seperti diketahui, hentaman ombak yang berlangsung sejak beberapa hari terakhir nyaris tidak pernah surut.

Seluruh bangunan rusak dipastikan melanggar garis sempadan pantai sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah DIJ No 16 Tahun 2011 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Juga Peraturan Presiden No 51 Tahun 2016 tentang Batas Sempadan Pantai. Di mana kawasan sempadan berjarak 100 meter dari bibir pantai harus steril dari segala bentuk bangunan.

Ternyata bukan hanya bangunan masyarakat yang melanggar regulasi tersebut. Bangunan milik pemerintah pun tak luput. Seperti tempat pelelangan ikan (TPI) di Pantai Drini yang letaknya tak lebih 50 meter dari bibir pantai.

“Bangunan TPI ini berdiri 2012. Bantuan dari DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan) Gunungkidul,” kata Suyanto.

Semua bangunan rusak diketahui bukan hunian warga. Para pengelola sebagian besar berdomisili di desa terdekat yang berjarak sekitar 4 kilometer dari bibir pantai. “Kami hanya jualan di sini,” kata Waluyo, seorang pedagang.

Waluyo irit bicara saat ditanya seputar pelanggaran sempadan pantai dan ancaman gelombang tinggi. Kendati demikian, dia mengaku siap mengikuti aturan main yang ditetapkan pemerintah saat dilakukan penataan kawasan pantai. “Yang terpenting dapur tetap mengepul,” katanya.

Dibagian lain, terkait letak gedung TPI, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Gunungkidul Khairuddin belum dapat dikonfirmasi. Dihubungi melalui sambungan telepon juga belum direspons.

Kerusakan akibat gelombang tinggi juga dirasakan warga pesisir selatan Kulonprogo. Terutama warga Padukuhan Sidorejo, Banaran, Galur, yang terletak tak jauh dari Pantai Trisik. Gelombang tinggi menghantam rumah milik Dwi Surya yang tak jauh dari kawasan konservasi penyu abadi Trisik. Tanggul buatan dari pasir setebal 40 cm setinggi pinggang orang dewasa pun jebol akibat tak kuat menahan terjangan gelombang pasang kemarin pagi. “Penyunya aman, tapi permukiman penduduk di sekitarnya sempat terendam air bah,” ungkap Kadus Sidorejo Joko Samudra.

Menurutnya, gelombang tinggi Samudra Hindia kemarin mencapai delapan meter. Ombak bahkan sampai menerjang area parkir objek wisata Laguna Pantai Trisik. Ombak tersebut juga menyeret sampah hingga sejauh 300 meter dari bibir pantai. “Gelombang terbesar dan tertinggi terjadi tadi pagi (kemarin) dan malam sebelumnya,” kata Joko.

Gelombang tinggi di kawasan itu juga memporak-porandakan TPI setempat dan lima kapal nelayan. Joko menaksir kerugian akibat cuaca ekstrem ini mencapai lebih Rp 5 miliar.

Lebih lanjut Joko mengatakan, terjangan ombak Pantai Trisik selama sepuluh tahun terakhir menyebabkan abrasi cukup parah. Inilah yang menyebabkan bibir pantai semakin dekat area permukiman warga dan TPI. Gelombang tinggi sejatinya menjadi fenomena rutin tahunan bagi warga pesisir selatan. Namun, Joko melihat terjangan gelombang saat ini lebih ganas dibanding kejadian serupa sebelum-sebelumnya. “Setiap tahun rata-rata tinggi gelombang lima meter. Karena abrasi bangunan TPI jadi tampak sangat dekat dengan pantai,” ucapnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo Ariadi mengatakan, dampak gelombang tinggi dilaporkan terjadi di empat pantai Kulonprogo. Yakni Trisik, Bugel, Glagah, dan Mangrove Jangkaran. “Belum semua data kerusakan akibat gelombang tinggi kami terima,” katanya.
Berdasarkan laporan sementara, lanjut Ariadi, gelombang tinggi di Pantau Bugel juga mengakibatkan beberapa warung rusak, puluhan pohon cemara hanyut, serta 10 perahu nelayan terpental ke daratan. Sedangkan di Pantai Mangrove Jangkaran gelombang tinggi merusak tambak udang dan warung makan.

Kerusakan cukup parah juga menimpa objek wisata, warung, tambak udang, dan permukiman nelayan Pantai Glagah. Radar Jogja sempat menyaksikan ketika puncak gelombang tinggi menyapu warung-warung kawasan pesisir selatan sekitar pukul 07.00 kemarin. “Air pasang sejak tadi malam (Selasa, 17/7). Tapi tak setinggi dan sebesar pagi ini (kemarin),” ungkap Yuli, pemilik warung di Pantai Glagah. “Semua rusak parah. Hanya tiga kali kena ombak pasang dalam waktu dua jam,” sambungnya.

Pedagang lain, Sularso, mengungkapkan, sepuluh tahun berjualan di pantai Glagah telah mengalami tiga kali fenomena gelombang tinggi. “Yang terparah kali ini, mencapai sembilan meter,” katanya.

Ketua Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah V Pantai Glagah Aris Widiatmoko memprediksi hari ini merupakan puncak gelombang tinggi Samudera Hindia di selatan DIJ. Namun, Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIJ memperkirakan fenomena ini masih akan berlangsung hingga akhir Juli 2018. “Kalau ini puncaknya, maka akan menurun seiring waktu, masuk Agustus 2018 semoga sudah normal,” jelasnya. (gun/tom/yog/fn)