LINE UP PSS VS PSIM

JOGJA-Derby damai diharapkan akan tersaji dalam laga PSIM Jogja kontra PSS Sleman di Stadion Sultan Agung (SSA) sore hari ini (26/7). Tak hanya itu, bagi pelatih dan beberapa pemain derby Jogjakarta ini juga membawa nostalgia.
Bagaimana tidak. Pelatih PSIM Jogja Bona Simanjuntak, selama tiga tahun pernah menjadi pujaan publik Sleman. Bersama Seto Nurdiyantara-pelatih PSS Sleman, Bona mengantarkan PSS Sleman berada pada posisi keempat klasemen kasta tertinggi Liga Indonesia periode 2004/2005.

Sedangkan Seto, selain pernah merumput bagi kedua tim, kakak dari pemain Fajar Listiantara ini pun mengawali karir kepelatihan dengan menukangi skuad Laskar Mataram -julukan PSIM Jogja di 2013.

Tak hanya nama kedua pelatih. Sejumlah pemainpun kerap kali menyeberang ke masing-masing klub. Musim ini, Rangga Muslim Perkasa memilih berseragam Super Elja (Elang Jawa, Red) setelah sempat merapat ke Persebaya Surabaya. Sedangkan di kubu PSIM Jogja, terdapat nama Crah Eka Angger dan Candra Lukmana. Nama tarakhir, bahkan besar dari tim PSS Sleman junior.
Mereka kini harus bahu membahu melawan tim yang sebelumnya pernah dibela. “Tidak ada dendam pribadi. Justru laga nanti membuat saya lebih bersemangat untuk bisa memenangkan pertandingan,” kata Crah Angger Rabu (25/7).

Angger, kini memiliki peran vital di barisan belakang Laskar Mataram. Penampilannya saat melawan Kalteng Putra, dapat menutup celah sektor kiri pertahanan PSIM Jogja yang sebelumnya kerap diisi Fandy Edy. Bertanding di laga derby yang sarat tekanan, pemain asal Bojonegoro ini mengaku lebih rileks. Bahkan ditegaskan sudah tidak sabar bertemu dengan para koleganya di PSS dahulu. “Secara tim sudah siap. Yang terpenting kami harus memenangkan laga,” tegasnya.

Sementara bagi Bona, bertemu dengan Seto Nurdiyantara bak de javu pada nostalgia kesuksesan mengarungi Divisi Utama 2004/2005. Demi poin penuh, Bona wajib menanggalkan nostalgia di PSS Sleman dulu. “Saya punya hubungan baik dengan Seto, karena kami pernah menjadi rekan satu tim. Bagaimanapun juga PSS Sleman pernah menjadi bagian dari karir saya. Namun saya harus profesional dan menanggalkan semua kenangan itu,” tegasnya,

Begitu juga dengan Seto. Dia tak menampik memiliki kenangan indah besama Laskar Mataram. PSIM Menjadi tim penutup karir sebagai pesepakboola profesional. Dan di sisi lain, dia pun memulai karir kepelatihan di tim yang bermarkas di Stadion Mandala Krida.

Dia mengaku banyak belajar dari tim ini. Dia juga banyak belajar dari asistennya yang kini menjadi manajer (Erwan Hendarwanto, Red). “Artinya PSIM adalah tim yang lebih tua dari kami. Harapannya mereka memberikan masukan bagi kami dan tentunya kami belajar dari mereka,” ujarnya. (bhn/din/fn)