BANTUL – Aktivitas di Pantai Parangtritis lumpuh. Itu akibat gelombang tinggi yang menerjang pesisir pantai selatan selama dua hari terakhir. Tak terkecuali pantai yang lekat dengan mitos Nyi Roro Kidul tersebut. Dibanding tahun-tahun sebelumnya, fenomena alam kali ini jauh lebih parah. Saking parahnya, tempat parkir, kios, bahkan permukiman warga terendam. Bahkan, beberapa pos pantau Tim SAR Pantai Parangtritis juga ambruk.

Komandan Tim SAR Pantai Parangtritis Ali Sutanto mengungkapkan, gelombang tinggi terparah terjadi Selasa (24/7) malam. Persisnya pukul 19.30. Air laut sempat surut. Namun, gelombang tinggi kembali menerjang pukul 04.00 Rabu (25/7) pagi.

”Total ada enam bangunan warung dan empat tempat parkir yang mengalami kerusakan,” jelas Ali di Posko Tim SAR Pantai Parangtritis kemarin (25/7).
Guna menghindari korban jiwa, Ali mengimbau warga lebih berhati-hati. Sebab, pasang-surut air laut cukup ekstrem.

Arnawi, seorang pedagang di kawasan Pantai Parangtritis memilih menutup warungnya kemarin. Selain warungnya terendam air, jumlah wisatawan yang datang juga minim.

Pada bagian lain, Dekan Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada (UGM) Muh Aris Marfai memaparkan, tipologi setiap pantai di pesisir pantai selatan DIJ berbeda. Tipologi ini berpengaruh terhadap dampak gelombang tinggi. Dampak terparah terjadi di pantai dengan tipologi landai seperti Pantai Gua Cemara, Pantai Baru, dan Pantai Trisik. Sebab, jangkauan terjangan ombak bisa mencapai 20 meter hingga 30 meter. Saking parahnya, pepohonan di tiga pantai ini rusak.

”Bahkan ada abrasi sekitar tiga sampai empat meter. Butuh biaya mahal untuk rehabilitasi,” jelas Aris menyebut hasil pengamatan Fakultas Geografi bersama Badan Meterorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIJ.

Dalam kesempatan itu, Aris juga mengingatkan agar pemprov maupun pemkab melakukan peninjauan ulang dalam penataan tata ruang kawasan pesisir. Agar penataan tak hanya berorientasi pada aspek ekonomi. Melainkan juga menekankan pada perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana.

”Sebaiknya menghindari aktivitas dan investasi di daerah 100 meter atau sempadan,” sarannya.

Sementara itu, Prakirawan BMKG DIJ Sigit Hadi Prakosa memprediksi gelombang tinggi di pantai selatan DIJ masih akan terjadi hingga 29 Juli. Puncaknya diperkirakan pada Selasa (25/7). Dengan tinggi gelombang sekitar enam meter.

“Berangsur akan turun sekitar 5 meter,” ujarnya. (cr6/tif/zam/fn)