Kakak beradik asal Gunungkidulmengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Bohemian dan Bonaga. Itu panggilan akrab mereka. Keduanya berhasil menyisihkan ribuan peserta dari berbagai negara dalam ajang “International Singapore Drum Fest 2018”. Berikut kisah mereka.

GUNAWAN, Gunungkidul
KEDUANYA baru saja pulang sekolah ketika Radar Jogja berniat menyambangi kediaman mereka di Dusun Karangrejek, Wonosari, Gunungkidul kemarin (24/7). Bohemian Renaisance Purnama,10, dan Bonaga Renaisance Purnama, 7. Bohemian adalah siswa kelas VI SD Mujahidin, Wonosari. Adiknya, Bonaga kelas II di sekolah yang sama. Keduanya putra pasangan Sidiq Purnama dan Dyah Tri Murti.

Keluar dari gedung sekolah pukul 14.00 Bohemian dan Bonaga tampak akur satu sama lain. Juga kompak. Sama-sama hobi bermain musik, keduanya sepakat bahwa pendidikan tetap nomor satu. “Ngedrum hanya jam waktu tertentu. Belajar di sekolah ya belajar,” ucap Bonaga, penggila grup musik Paramore itu.

Bohemian dan Bonaga lolos audisi drummer di ajang “Drummer International Singapore Drum Fest 2018”. Bohemian kategori junior, sementara Bonaga super junior. Keduanya melakukan pendaftaran online. Para juri memberikan penilaian berdasarkan video yang setiap peserta yang diunggah melalui kanal Youtube masing-masing. Biaya pendaftaran SGD 100 atau sekitar Rp 1,2 juta. Singkat cerita keduanya ditahbiskan sebagai semifinalis dan harus berangkat ke Singapura untuk berkompetisi langsung pada 1-6 Agustus mendatang. Mereka akan bersaing dengan peserta asal Thailand, Taiwan, Amerika Serikat, dan Tiongkok. Dari Indonesia total lima peserta, termasuk dua bocah asal Kota Gaplek itu.

Pantas keduanya mampu menyisihkan ribuan drummer cilik dunia. Sederet piala dan piagam penghargaan prestasi menghiasi rumah mereka. Baik tingkat lokal maupun nasional. Seperti juara 2 DD Drum Semarang 2017, best player hammer drum competition, finalis Murat Diril New Heroes 2018, juara 3 Sragen Fest Drum Competition, juara 1 drum competition HUT Surakarta, hingga menjadi jawara drum competition UNS Solo dan juara 1 GDGD Gilang Ramadhan Semarang 2018.

Bohemian dan Bonaga rupanya memiliki darah pemusik dari sang ayah. Bakat ngedrum diturunkan secara otodidak. Mendapatkan dukungan penuh, lalu difasilitasi lantas dibukakan pintu masuk menuju kontes tingkat dinia.
“Bagi saya, juara atau tidak bukan persoalan. Kami hanya ingin mengajarkan kepada anak agar kemampuan yang dimiliki dapat menginspirasi orang lain,” ujar Sidiq diamini istrinya.

Bentuk dukungan terhadap bakat anak harus dilakukan secara menyeluruh. Tidak sekadar memfasilitasi. Namun wajib mendampingi. Membentuk pribadi anak agar patuh pada nilai agama dan berbakti kepada kedua orang tua adalah muaranya. “Ajaran positif demikian harus ditanamkan sejak dini,” tegasnya.
Kembali ke kontes Singapore Drum Fest 2018, giliran Dyah Tri Murti angkat bicara. Ibu rumah tangga ini tampak antusias memaparkan awal mula kedua buah hatinya mengenal musik hingga rencana perjalanan ke Singapura.

“Jadi si kakak (Bohemian), sejak usia dua tahun memang sudah terlihat bakat ngedrum. Kami ikutkan kompetisi lokal dan nasional. Alhamdulillah dapat juara. Rupaya adik (Bonaga) tertarik ikut bermain musik bersama kakak,” tutur Dyah.

Sebagai orang tua, mendukung kegiatan positif anak menjadi keharusan. Agar kemampuan dalam bermain music mereka meningkat. Dari situlah Dyah sibuk mencari informasi kompetisi tingkat nasional. Dia mendafrakan anak melalui jalur online.

“Kalau pendaftaran offline kami harus kompetisi langsung di Singapura,” katanya.

Nah, melalui kanal Youtube Bohemian Purnama dan Bogana Renaisance Purnama, dewan juri meloloskan keduanya dan berhak mendapatkan tiket dalam kompetisi di Singapura. Saat ini mereka sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Selain menjaga kesehatan, belajar tetap menjadi prioritas utama kedua bocah itu. Dan tak kalah penting adalah bermain. Ya, umur keduanya memang masih tergolong usia bermain. Makanya, meski sibuk latihan drum dan belajar, Bohemian dan Bonaga tetap bermian bersama teman-teman mereka seperti hari-hari biasa. (yog/fn)