Selain Pakistan dan Bangladesh, India menjadi salah satu pusat jamaah tablig terbesar di dunia. Namanya, Markas Tablik Nizamuddin, New Delhi. Gerakan dakwah ini didirikan 1920-an oleh Maulana Muhammad Ilyas Kandhalawi di Mewat. Dipimpin Maulana Yusuf, putra Maulana Ilyas sebagai amir/pimpinan kedua, gerakan ini mengembangkan aktivitas pada 1946. Dalam 20 tahun berhasil menyebarkan dakwah ke Asia Barat Daya dan Asia Tenggara.

Sore itu, September 2011, lalu lintas di depan Bangla Wali Masjid yang dikenal markas Jamaah Tabligh Nizamuddin, New Delhi, India sangat padat. Ratusan orang umumnya mengenakan jubah putih dan berjenggot memadati kios-kios sepanjang jalan menjual aneka suvenir, pakaian muslim, dan sejenisnya. Mirip-mirip kawasan sekitar Ampel, Surabaya menjelang memasuki Masjid Ampel. Suasananya sangat ramai. Beberapa pengemis menadahkan tangan kepada setiap pengunjung yang lewat.

Memasuki Bangla Wali Masjid jamaah harus melepas sepatu dan sandal. Petugas masjid yang berjaga dengan ramah bertanya, mencari siapa? ‘’Jamaah Indonesia.’’jawab penulis.

Petugas tadi karena pakaiannya hampir sama dengan jamaah lain lantas menunjuk lantai empat sambil menunjukkan keempat jarinya. Saat akan naik lantai dua tidak ada tangganya. Ternyata pintu yang penulis masuki keliru.
Seorang jamaah mendatangi penulis dan menunjukkan jalan ke tangga yang berada di sebelah pintu lainnya. ‘’Lewat sini,’’ katanya sambil berjalan di depan.
Suasana dalam Bangla Wali Masjid sangat ramai. Para jamaah tablig akbar dari seluruh dunia umumnya mengenakan jubah putih panjang tampak memenuhi ruangan tingkat 1. Para jamaah sedang melakukan khuruj, yakni meluangkan waktu secara total berdakwah. Biasanya dilakukan dari masjid ke masjid dan dipimpin seorang Amir.

Semua sandal dan sepatu jamaah tampak dijejer tidak beraturan. Bahkan ada banyak tumpukan sandal jamaah hanya sebelah.

Naik ke lantai dua juga dipenuhi jamaah. Pakaian, baju, tas, dan peralatan sehari-hari jamaah tampak bergelantungan di sudut-sudut masjid. Juga kasur-kasur tipis. Mereka terdiri berbagai kelompok. Masing-masing kelompok beranggotakan 5 – 15 orang.

Naik ke lantai tiga suasananya juga sama. Penuh jamaah. Pakaian, tas, tampak bergelantungan dimana-mana. Banyak kasur tempat alas tidur memenuhi lantai masjid.

Sore itu umunya jamaah melakukan taklim, yakni mulai mengaji, musyawarah, membaca Alquran, hadis, dan beberapa jamaah serius mencatat dalam agenda mereka. ‘’Jamaah seluruh dunia ada di sini. Bahkan lima jamaah Islam Israel juga ada di sini. Semua siap melakukan dakwah ke pelosok penjuru dunia,’’ kata Haji Bay, salah seorang jamaah tablig asal Indonesia yang menemui penulis.

Rasa persaudaraan sangat dijunjung tinggi di sini. Makanya, jamaah tablig hanya boleh berbicara, berdakwah, mengaji, dan mendengarkan ceramah. Sebaliknya, dilarang membicarakan politik apa pun atau mazab dan paham yang diyakini. Pokoknya, hanya bicara tentang berdakwah dan berdakwah.
Dia lalu bertanya ini itu. Setelah dijelaskan ingin menemui jamaah tablig asal Indonesia, Haji Bay naik ke lantai empat. ‘’Tunggu sebentar hanya dua menit. Akan dimusyawarahkan dulu,’’ katanya.

Para jamaah tablig umumnya sangat ramah. Meski tidak saling kenal, mereka umumnya menyapa saat berpapasan. ‘’Assalamualaikum, Malaysia?’’ tanyanya. ‘’Indonesia,’’ jawab penulis. ‘’Masya Allah, Masya Allah,’’ katanya sambil menjulurkan tangan.

Itu beberapa kali diterima penulis. Mereka berasal dari berbagai negara. Bahkan seorang jamaah dari Pattani, Thailand Selatan begitu girang saat berpapasan dengan penulis. ‘’Malaysia, Indonesia, kapan tiba?’’ tanyanya penuh semangat dengan logat Melayu.

Dua menit kemudian muncul Haji Bay. ‘’Ayo kita ke atas. Para jamaah sedang bermusyawarah di atas (lantai empat),’’ katanya.

Di lantai empat ratusan jamaah tampak bergerombol, membentuk kelompok kecil berjumlah antara 10 sampai 15 orang. ‘’Mereka sedang bermusyawarah untuk menentukan jadwal kegiatan besok . Mulai magrib sampai menjelang magrib berikutnya. Mereka berbagi tugas, siapa yang ke sini, siapa yang ke situ, dan seterusnya. Jadi semua terjadwal,’’ jelas Haji Bay.

Dalam musyawarah jamaah berbahasa Melayu terdiri atas Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam berkumpul jadi satu. Mereka dipimpin Haji Cecep, juga sebagai sesepuh Jamaah Tablig Akbar Kebun Jeruk, Jakarta Barat.

Di sudut lain ada puluhan jamaah asal Inggris juga bermusyawarah. Mereka muslim asli warga Inggris. Kulitnya putih, badan tinggi besar, dan berjenggot. ‘’Semua keputusan diambil secara musyawarah dalam jamaah tablig. Itu ajaran Rasulllulllah dan dipraktikkan dalam berdakwah,’’ tambah Haji Bay.

Haji Cecep mengatakan, semua jamaah yang datang ke tempat itu ingin mencari kebahagiaan lewat agama. Yakni, dengan jalan berdakwah. ‘’Itu perintah Rasul dan agama,’’ kata Haji Cecep.

Orang selama ini berpikir bahwa kebahagiaan bisa dicapai dengan mengumpulkan harta, punya pangkat tinggi, atau jabatan tinggi. Apakah setelah mencapai kedudukan itu itu mereka bahagia? ‘’Belum tentu. Sebaliknya, justru banyak masalah,’’ ungkapnya.

Cecep mencontohkan, dalam pilkada-pilkada banyak calon setelah jadi pemenang, baik menjadi bupati, wali kota, maupun gubernur justru bermasalah di kemudian hari. Mereka dipenjara akibat korupsi dan seterusnya. ‘’Jadi, kalau mau bahagia ya agama sumbernya. Bukan yang lain,’’ ingatnya.

Tapi, mencari kebahagiaan lewat agama perlu pengorbanan dan harus dipraktikkan, bukan teori saja. Misalnya, orang ingin bisa berenang ya harus praktik belajar berenang agar tidak tenggelam.

Dengan dakwah, selain mengajak orang kembali ke jalan Allah, juga belajar sabar, menerima apa pun perlakuan orang terhadap diri saat berdakwah. Diusir, dicaci maki, bahkan difitnah. Tapi, karena dakwah itu di jalan Allah ya diterima saja. ‘’Kita tidak membalas kejahatan atau keburukan dengan kejahatan atau keburukan yang lain. Tapi, dengan kebaikan. Insya Allah menolong hamba-Nya yang kesulitan,’’ ungkapnya.

Cecep menambahkan, entah sudah berapa kali Markas Tabligh Akbar berlokasi di Jalan Hayam Wuruk, Kebun Jeruk, Jakarta Barat, diisukan macam-macam. Mulai sesat, kiblatnya menghadap Bangladesh, salah satu markas Tabligh Akbar. Dan fitnah lainnya. ‘’Ya, kami biarkan saja. Sebab, mereka yang menyebarkan isu tidak mengerti. Dakwah terus berlanjut dan tidak terpengaruh isu-siu yang begituan,’’ ujar pria yang sudah berdakwah melalang dunia itu. Mulai Amerika, Eropa, dan negara lainnya. ‘’Jadi, kami sudah kenyang dengan fitnah seperti itu,’’ akunya.

Begitu juga mencari kebahagiaan dalam agama harus dipraktikkan. Caranya, dengan melakukan dakwah. Ini salah satu ajaran Nabi Muhammad SAW. ‘’Kalau sampeyan mau ikut dakwah tiga hari saja, Insya Allah dijamin paham, apa itu mencari kebahagiaan. Kalau hanya mendengar atau bertanya, sulit memahami. Makanya, luangkan waktu tiga hari ikut dakwah mumpung ada di India,’’ ajak Haji Cecep. Tapi, karena ada tugas lain yakni, harus melaksanakan Perjalanan Haji Nekat Lewat Jalur Darat, penulis terpaksa tak bisa memenuhi itu.

Puncak fitnah kepada para pendakwah terjadi pasca serangan WTC Amerika, 11 Septermber 2001 oleh para teroris. Para pendakwah tablig akbar yang melaksanakan tugas di pelosok masjid Indonesia banyak yang diusir, diinterogasi, bahkan ditangkap.

Itu semata-mata karena ketidaktahuan masyarakat dan aparat daerah. Dakwah yang dilakukan secara damai dicurigai macam-macam hanya gara-gara pendakwah mengenakan jubah sorban. ‘’Tapi, kami sudah kenyang dengan fitnah tuduhan miring lainnya. Makanya, dakwah terus jalan,’’ ungkap Haji Dedeh, penggiat tablig akbar yang mendampingi Haji Cecep.

Kadang pengikut tablig akbar dituduh tidak bertanggung jawab pada keluarga karena meninggalkan mereka cukup lama. Haji Dedeh yang juga pengusaha menepis itu.

Justru mereka paling cinta keluarga. Saat meninggalkan berhari-hari keluarga ada kerinduan mendalam terhadap mereka. Tapi, untuk mengejar kebagihaan dan rida Allah memang perlu pengorbanan. Yakni, menyisihkan waktu untuk berdakwah di jalan Allah. ‘’Jadi, jangan disalahartikan. Apalagi, kebutuhan keluarga selama ditinggal juga terpenuhi,’’ ungkapnya.

Tak terasa azan Magrib berkumandang. Para jamaah tablig Indonesia pun buka bersama. Ada kurma, apel, dan buah-buahan lainnya. Juga ada teh. ‘’Sudah wudu? Tanya Haji Dedeh. “Kalau belum cepat-cepat waktunya mepet,’’ sarannya. Sayang aktivitas di dalam masjid tak boleh difoto. ‘’Jangan diambil gambarnya. Kami berdakwah bukan pamer ke publik. Semua karena ikhlas,’’ ingat Haji Dedeh.

Para jamaah dari berbagai negara wudu dilanjutkan salat berjamaah ke lantai satu dan dua. Penulis dan jamaah tablig asal Indonesia dan negara seluruh dunia salat di lantai dua. Imam di lantai satu. ‘’Kalau Anda punya waktu nanti kita makan dulu sambil mengobrol,’’ ajak Haji Dedeh. (yog/bersambung)