KULONROGO-Selain keterbatasan fisik, penyandang disabilitas kategori miskin, juga kesulitan mengakses fasilitas kesehatan (faskes). Kasus ini menimpa 20 persen dari total penyandang disabilitas di DIJ.
Menyikapi itu, Balai Penyelenggaran Jaminan Kesehatan Sosial (Bapeljamkesos) DIJ dan Pemkab Kulonprogo melaksanakan Program Pelayanan Jamkesus Terpadu Penyandang Disabilitas, di Kecamatan Panjatan, Selasa (24/7). “Melalui program ini, mereka cukup sekali datang selesai dengan pelayanan one stop service,’’ kata Koordinator Pelayanan Jamkesos Terpadu Bapeljamkesos DIJ Agus Priyanto.

Pelayanan yang diberikan meliputi kasus-kasus yang belum tertangani dalam layanan faskes. Misalnya yang harus operasi otak, tulang dan lainnya. Juga penyediaan alat bantu seperti kursi roda, kaki dan tangan palsu hingga kacamata, bahkan pelatihan gratis.”Program ini sudah ada sejak 2015 dan banyak sekali yang mendukung,” jelasnya.

Berdasarkan Survei World Health Organization (WHO), 70 persen penyandang disabilitas di DIJ dalam kondisi miskin. Akibatnya mereka terkendala dalam mengakses faskes. Dampaknya, penderitaan yang mereka alami bertambah parah karena tidak tertangani dengan baik. “Mereka jarang mendapat pelayanan kesehatan atau memeriksakan kesehatan, karena keterbatasan kondisi fisik, ekonomi,” katanya.

Menurutnya, kondisi di Jogja masih lebih baik dibanding daerah lain. Sebab ada banyak program untuk membantu setiap penyandang disabilitas dalam mengakses faskes. Di antaranya Jamkesus terpadu, Posbindu dan homecare disabilitas. Dalam hal ini pihaknya menggandeng dinas sosial, puskesmas, dinas kesehatan, dinas pendidikan termasuk perkumpulan penyandang disabilitas. “Banyak program dikembangkan supaya mereka terakses. Kami jemput bola. Semuanya gratis, mulai dokter, alat batu, dan reparasi dijamin,” ujarnya.
Assek I Setda Kulonprogo Jumanto menyatakan ada 1.622 penyandang disabilitas yang ikut ambil bagian dala program kali ini. Mereka berasal dari Kecamatan Panjatan 563 orang, Kecamatan Lendah (571), dan Kecamatan Galur (588).

Salah satu pasien, Sunarto, 46, warga Pedukuhan Nabin, Desa Sidomulyo, Kecamatan Pengasih mengaku senang dan berterimakasih mendapat kesempatan mengakses program Jamkesus terpadu kali ini. Ia menderita kelumpuhan kaki, setelah melaukan perawatan selama tiga bulan. “Sebetulnya sudah sembuh tetapi tidak bisa jalan. Harapannya saya bisa mendapat kursi roda dan alat pekembangan jalan agar jaringan otot di kaki tidak mati,” jelasnya.(tom/din/fn)