SLEMAN – Selain faktor cuaca, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditengarai menjadi penyebab tingginya harga daging ayam potong saat ini. Terlebih sejak beberapa hari belakangan kurs rupiah terhadap dolar tembus di atas Rp 14 ribu.

Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Heru Saptono menyebutkan, melonjaknya harga daging ayam potong di pasaran disebabkan biaya produksi di tingkat peternak terus naik. Menurut Heru, 70 persen biaya produksi ternak ayam pedaging berasal dari pakan. Sementara 75 persen komponen pakan merupakan produk impor. “Karena itu harga pakan naik,” ungkapnye Selasa (24/7).

Kondisi cuaca turut berpengaruh terhadap produksi ayam potong. Mengakibatkan masa panen mundur.

Biasanya, memasuki usia 35 hari peternak sudah bisa panen. Kondisi cuaca saat ini membuat Day old Chicken (DOC) banyak yang sakit, bahkan mati. Karena itu masa panen mundur menjadi 40-45 hari. “Hal ini tentu mengakibatkan pembengkakan biaya produksi,” jelasnya.

Penggunaan antibiotik untuk mengobati penyakit ayam juga sudah dilarang. Para peternak hanya mengandalkan jamu untuk mengobati ayam sakit. Ini juga mempengaruhi masa panen karena ayam sakit tak bisa cepat sembuh.
Menurut Heru, peternak ayam di Sleman telah menggenjot produksi untuk memenuhi kebutuhan Lebaran lalu. Namun permintaan konsumen usai Lebaran ternyata masih tinggi. Sementara para peternak tak lagi punya stok produksi karena telah dihabiskan menjelang Lebaran.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman Tri Endah Yitnani membenarkan, harga daging ayam bulan mencapai puncak tertinggi sejak awal 2018. Mencapai Rp 50 ribu per kilogram. Penyebabnya karena produksi memang rendah.

Kendati demikian, Endah mengaku tak bisa berbuat banyak mengendalikan masalah tersebut. Alasannya, operasi pasar untuk menekan harga ayam menjadi kewenangan Kementerian Perdagangan.

Langkah solusi yang bisa ditempuh hanya berkoordinasi dengan DP3 Sleman untuk menggenjot produksi di tingkat peternak. “Sembari berupaya menekan angka kematian DOC,” ungkapnya.

Terpisah, Kabid Perdagangan Dalam Negeri, Disperindag DIJ Yuna Pancawati mewacanakan menggelar operasi pasar dengan menggandeng Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jogjakarta. Operasi pasar daging ayam potong direncanakan hari ini (25/7) di tiga pasar tradisional. Yakni Beringharjo, Kranggan, dan Demangan. Ketiga pasar tersebut masuk wilayah Kota Jogja.

Dikatakan, beberapa waktu lalu Kementerian Perdagangan sudah berkoordinasi dengan para stakeholder dan distributor ayam untuk menurunkan harga dalam seminggu ini. Jika tetap tidak turun, maka dilakukan operasi pasar. Operasi pasar akan dilakukan hingga harga daging ayam potong mendekati acuan
acuan Peraturan Menteri Perdagangan No 58 Tahun 2018 tentang Penetapan Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen. Adapun harga acuan untuk daging ayam potong Rp 32 ribu per kilogram. “Kenaikan harga daging ayam ini tak hanya di DIJ. Tapi secara nasional,” tuturnya.

Yuna mengakui, tingginya harga ayam di tingkat petani akibat pengaruh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Sehingga harga jual ayam di tingkat distributor dan peternak sudah tinggi, sementara stok produksi minim. “Mungkin itu kendalanya. Pasokan dari distributor turun 50 persen,” katanya.

Menurut Yuna, pasokan daging ayam potong di DIJ sebagian besar dari Jawa Tengah. Sedangkan distributor lokal terbanyak di Sleman dan Gunungkidul.
Sementara itu, Aswandi, pedagang ayam di Pasar Terban, mengungkapkan, minimnya suplai dari peternak membuatnya repot memenuhi permintaan konsumen. Menurutnya, suplai dari peternak tersendat lantaran ada kesepakatan larangan mengambil ayam dari luar DIJ. Begitu pula sebaliknya. Peternak ayam DIJ dilarang menyuplai pasar di luar daerah. Ini terjadi juga lantaran stok ayam di luar DIJ minim. “Dulu banyak stok pengepul obral, sekarang kami yang harus mencari,” keluhnya.

Aris Budianto, peternak di Seyegan, Sleman, mengungkapkan, dua kandang yang dikelolanya bisa menghasilkan hingga 11 ribu ayam dewasa. Jumlah itu bisa ludes dalam sehari.

Soal harga daging yang tinggi, Aris menduga ada permainan oleh pengepul. “Ayam hidup kalau stok minim dihargai Rp 25 ribu per ekor. Pas banyak stok Rp 18 ribu,” bebernya. Itu dilakukan pengepul lantaran mereka sebagai tangan pertama dari produsen harus menyuplai distributor. Dan begitu seterusnya hingga sampai pengecer di pasar. Karena itu sesampai di konsumen harga daging ayam tinggi. (har/tif/cr5/yog/fn)