JOGJA – Derby besar bakal tersaji di Stadion Sultan Agung (SSA) hari ini. PSIM bakal menjamu PSS Sleman dalam lanjutan kompetisi Liga 2. Dalam duel bertajuk derby Mataram ini kedua kesebelasan diyakini bakal all-out karena tampil di depan “publik” sendiri. Terlebih, kedua tim ini terakhir bertemu pada 2014 lalu.

Sejumlah tokoh di DIJ pun tak ketinggalan menaruh perhatian terhadap pertandingan sarat gengsi tersebut. Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti, misalnya. Bekas ketua umum PSIM ini tak menyoroti langsung bakal jalannya pertandingan. Melainkan suporter kedua kesebelasan. Mengingat, rivalitas kedua tim selama ini tidak hanya di lapangan hijau. Tapi, merembet hingga ke luar lapangan.

”Padahal, Kota Jogja maupun Sleman itu masih sama-sama di wilayah DIJ. Ngapain ribut terus. Sekarang saatnya bersama-sama menjaga Jogja Istimewa,” ajak HS ketika dikonfirmasi Selasa (24/7).

HS, sapaannya menekankan, aksi suporter yang sering dikeluhkan adalah saat berangkat dan pulang stadion. Bahkan tak jarang aksi konvoi di jalanan ini memicu keributan antarsuporter. Dari itu, HS berpesan agar suporter kedua kesebelasan ikut menjaga ketertiban. Juga menahan diri agar tak terjadi keributan. Toh, sikap positif suporter ini bakal berpengaruh terhadap citra klub.
”Ini ujian bagi suporter klub. Apakah sudah berubah dalam mendukung klub,” ujarnya.

Menurutnya, kalah dan menang merupakan hal biasa dalam pertandingan. Suporter kedua tim harus bisa memahaminya. Bila tim yang didukung menang tak perlu umuk. Sebaliknya, suporter tak perlu ngamuk bila tim kesayangannya kalah.

”Junjung tinggi marwah sepak bola,” serunya.

Bupati Sleman Sri Purnomo menaruh harapan serupa. Dia mengingatkan Kota Jogja dan Sleman adalah tetangga. Keributan antarsuporter bakal mencoreng wajah DIJ. Dari itu, SP, sapaannya mengajak suporter PSS Sleman menghindari berbagai hal yang merugikan klub. Baik Slemania maupun Brigata Curva Sud. Toh, PSS Sleman merupakan klub kebanggaan warga Sleman.

”Semua saudara. Bersikaplah sportif,” serunya.

Kendati pernah ada keributan antarsuporter di SSA, Sekretaris Daerah Bantul Riyantono percaya bahwa pendukung kedua tim telah dewasa. Mereka dapat menjaga ketertiban.

”Kita sama-sama Jogjakarta. Harus bisa menghargai satu sama lain,” pesannya.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana (panpel) Pertandingan Wendy Umar menyebut tiket hampir ludes terjual. Sebab, panpel menjual secara presale. Tiket tidak dijual langsung di stadion.

”Informasi terakhir sudah lebih dari 75 persen,” sebutnya. (pra/har/ega/zam/fn)