Terjadi Sabtu Dini Hari, Mulai Pukul 00.14

SLEMAN-Tahun ini peristiwa gerhana bulan total (GBT) tidak hanya sekali. Setelah pada 31 Januari lalu, GBT akan terjadi lagi Sabtu (28/7) mendatang. GBT akan dimulai sejak pukul 00.14. Peneliti memerkirakan gerhana ini akan menjadi yang terlama abad ini.

Ketua Tim Observasi GBT PKBHI FIAI Univesitas Islam Indonesia (UII) Sofwan Jannah menjelaskan, mulai pukul 00.14, saat itu bulan memasuki bayangan penumbra bumi. Kita dapat mengamati gerhana parsial atau gerhana sebagian pada pukul 01.24. GBT baru bisa diamati pada pukul 02.30 sampai 04.31. Selanjutnya kembali menjadi gerhana parsial sampai pukul 05.19. Selanjutnya rangkaian akan berakhir pada 06.29.”Jadi, ini gerhana bulan berdurasi terpanjang abad ini, yakni 1 jam 43 menit,’’ jelas Sofwan.

Menurut Sofwan, GBT akhir Juli ini berbeda dengan peristiwa GBT pada Januari lalu yang merupakan peristiwa Supermoon, posisi bulan pada saat gerhana jaraknya mencapai titik terdekat dengan bumi yang disebut perigee. “Gerhana kedua nanti akan bertepatan dengan peristiwa Lunar Apogee atau jarak terjauh bulan dari bumi sehingga nantinya bulan akan tampak lebih kecil dari biasanya,” ungkap Sofwan.

Menurutnya, pada GBT nanti durasinya terlama di abad 21 Masehi ini. GBT kali ini akan terlihat berwarna kemerahan atau disebut Blood Moon, juga pada GBT tersebut akan disaksikan peristiwa berkonjungsinya Mars dengan Bulan yang digerhanai.

Menariknya pada saat terjadi GBT akan bersamaan terjadi hujan meteor sebagai Delta Akuarid yang berasal dari titik radian tempat, yakni meteor-meteor seolah muncul, dekat bintang Skat (Delta Akuarii) di rasi bintang Akuarius. “Hujan meteor Delta Akuarid ini akan nampak sedikit redup, tetapi beberapa meteor terang diprekdisi masih dapat terlihat dengan intensistas 15 sampai 20 meteor per jam jika diamati dari lokasi yang relatif gelap,” tuturnya.

Sofwan menambahkan, peristiwa GBT baik yang terjadi pada 31 Januari lalu mapun pada 28 Juli nanti patut disyukuri oleh umat muslim karena diberi kesempatan Allah SWT untuk dapat memanen pahala dengan melakukan salat Gerhana (Khusuf). Ini sekaligus juga melakukan observasi ilmiah dengan membandingkan hisab atau perhitungan gerhana bulan dengan realitas hasil amatan di lapangan. “Besar harapan kami semoga di kemudian hari UII akan memiliki observatorium dan menara rukyat hilal semacam di UMSU dan Taman Pintar Jogja agar bisa melakukan observasi lebih lanjut dan mendalam,’’ kata Sofwan. (ita/din/fn)