PEMERINTAH dengan Keputusan Menteri Kesehatan nomor 450/SK/Menkes/VIII/2014 menetapkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan. Sebab pada ASI terdapat makronutrien (karbohidrat, protein, lemak), mikronutrien (vitamin dan mineral) dan air 87 persen yang dapat mencukupi kebutuhan bayi.

Menurut World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) memberi ASI kepada bayi merupakan jantung dari ketahanan pangan. Karena selain ekonomis, ASI merupakan pangan alami, praktis, dan selalu tersedia setiap saat dibutuhkan dengan suhu yang sesuai dan berkesinambungan demi masa depan manusia.
Pemberian ASI sebenarnya memberikan efek kesehatan yang baik bagi bayi dan ibu menyusui. Bayi yang mendapatkan kolustrum akan memperoleh kekebalan alami, mendapat suplai vitamin A dan zat besi, tercegah dari penyakit alergi, dan tingkat kecerdasannya lebih tinggi dibandingkan yang tidak mendapat ASI.
Sedangkan bagi ibu menyusui keuntungan yang didapatkan bisa tercegah dari kanker payudara dan kanker leher rahim. Tercegah dari osteoporosis serta anemia.

Menyusui juga dapat merekatkan hubungan emosional ibu dengan bayi, menghemat anggaran belanja rumah tangga dan waktu untuk menyiapkan makanan, menjarangkan kehamilan, mempercepat kesembuhan pasca bersalin, praktis, hangat, sesuai kebutuhan bayi dan selalu tersedia.

Kualitas dan kuantitas ASI dapat berbeda, karena pengaruh asupan makanan, kecukupan air minum, dan seringnya ibu menyusui bayinya. Banyak ibu menyusui beralih ke susu formula (sufor) karena produksi ASI menurun tanpa mencari penyebab dan mencoba menanganinya terlebih dahulu.

Secara mandiri ibu menyusui dapat meningkatkan produksi ASI dengan melakukan pemijatan akupresure pada sudut kuku jari kelingking tangan dan 4 jari di bawah lutut sebelah luar tulang kering sebanyak 33 kali. Jika dengan ramuan, bisa menggunakan air rebusan temulawak, meniran, dan pegagan yang diminum pagi-sore. (*)