MAGELANG – Produksi buah salak di Magelang cukup melimpah. Butuh inovasi olahan agar masyarakat tidak cepat bosan dengan buah yang banyak tumbuh di lereng Gunung Merapi tersebut. Salah satunya dibuat agar lebih tahan lama dan berasa seperti kurma.

Ya, kurma salak. Barangkali nama ini masih asing di telinga masyarakat Magelang dan sekitarnya. Memang asing, karena camilan berbahan dasar buah salak ini belum lama diciptakan dan dipasarkan ke publik. Dari bentuk, siapa pun bisa mengira bahwa jajanan ini adalah kurma. Warnanya cokelat tua, agak lengket, dan rasanya manis laiknya kurma yang banyak terdapat di daratan Timur Tengah.

Nur Imron, 41, orang yang ada di balik produk Kurma Salak ini. Warga Kelurahan Kedungsari, Kota Magelang, ini mengolah salak sedemikian rupa sehingga menjadi mirip kurma. Ia pun mulai merintis usaha ini dan mengenalkannya sebagai oleh-oleh khas Magelang.

Sudah dua tahun ini ia memulai produksi yang dimulai dengan berpikir cara membuat inovasi makanan berbahan dasar salak. Di beberapa daerah sudah ada salak yang diolah menjadi berbagai camilan, seperti manisan, jenang dodol, dan cokelat salak. Tujuannya sama, agar buah yang kalau sedang musim panen jumlahnya sangat melimpah dan harganya jadi sangat murah, berkisar Rp 3.000 – Rp 5.000 per kilogram.

“Lalu kepikiran, kira-kira salak bisa diolah apa lagi selain dodol dan manisan. Ini supaya ada inovasi dan tentu memiliki nilai jual tinggi dari pada hanya menjual salak segar yang harganya murah,” katanya Senin (23/7).

Bersama istri, Iis Nurcholis, 39, kemudian Imron memproduksi kurma salak dengan memprosesnya cukup lama dan akhirnya jadi dengan rasa lebih enak. Dia melakukan pengolahan dimulai dari pengupasan buah salak, lalu direbus dengan air gula asli selama 7 jam, dioven, dan terakhir dijemur di bawah sinar matahari langsung selama dua hari.

“Prosesnya sampai bisa dikonsumsi berkisar 3-4 hari, kalau cuaca cerah. Kalau pas mendung proses pengeringannya saja tidak cukup dua hari. Tapi hasilnya jauh beda dari yang biasa saja, lebih enak, legit, tidak lengket, dan lebih awet meski tanpa bahan pangawet kimia,” jelasnya.

Iis Nurcholis menambahkan, dalam sehari rata-rata bisa memproduksi kurma salak antara 8-10 kilogram. Setiap hari ia memproduksi sesuai pesanan. Saat musim liburan, seperti Lebaran lalu pesanan bisa bertambah dua kali lipat, bahkan lebih.

Kurma salak dengan merk “Cap Tawon” ini, katanya, menggunakan salak pondoh dari perkebunan lereng Merapi yang memilik rasa manis alami dan tidak sepat. Buah salak juga harus berkualitas agar hasilnya bagus, dan tidak lembek atau berair. (dem/laz/mg1)