PURWOREJO – Gelaran lomba permainan anak tradisional menjadi hal nyata jika jenis permainan “ndeso” kian terpinggirkan. Anak lebih asyik bermain individu dengan smartphone yang dimiliki.

Hal itu terlihat dalam tiga mata lomba yang diselenggarakan Dinas Sosial Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Purworejo untuk memeriahkan Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) dan Hari Anak Nasional (HAN) di sisi selatan Alun-Alun Purworejo (22/7). Anak masih bertindak sesuai kemauan sendiri dan kesulitan bekerjasama dalam tim.

Tiga permainan tradisional yang dipertandingkan dan diikuti perwakilan dari 16 kecamatan itu meliputi gobak sodor, lompat tali, dan egrang. Kegiatan itu diarahkan agar anak paham dengan permainan “tempo doeloe” yang mengandalkan kerja sama.

“Agak repot memilih anak mengikuti lomba seperti ini. Sekarang harus dilatih dulu,” kata guru pengampu dari SDN Somongari, Kecamatan Kaligesing, Sahono.

Dikatakan, anak sekarang tidak akrab dengan jenis permainan
tradisional tersebut. Saat di sekolah pun, hal itu jarang terlihat ada. “Mungkin mereka jenis mainnya sudah beda dengan kita dulu ya. Jadi memang mereka kesulitan untuk memainkannya. Tapi latihannya juga cepat kok, karena itu kan permainan sederhana dan bisa dimainkan siapa saja,” jelas Sahono.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kenik Mujianingsih membenarkan, anak terlihat kesulitan saat harus
melakukan permainan itu. Ia melihat anak masih tampak kaku dan
kurang enjoy memainkannya.

“Memang sudah sangat jarang melihat anak bermain lompat tali, gobak maupun egrang ya,” kata Kenik. Ia sempat mengamati permainan anak jenis lompat tali di mana tidak ada penghayatan dari anak. Hal itu tampak dari kombinasi gerakan tali yang diayunkan dan lompatan anak.

Ditambahkan, kegiatan perlombaan permainan anak itu memang menjadi salah satu kegiatan yang diselenggarakan untuk menyambut Peringatan Harganas dan HAN 2018 tingkat Provinsi Jawa Tengah yang diselenggarakan di Purworejo. Pemilihan jenis permainan tradisional diharapkan akan mengembalikan keinginan anak untuk memainkan lagi. (udi/laz/mg1)