SLEMAN – Generasi muda penting memiliki bekal yang cukup dan cerdas untuk memahami Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sehingga, ke depan saat terjun di dunia pemerintahan maupun swasta dapat menjalankan penggunaan APBN sesuai prosedur. Ini disampaikan Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Eko Suwardi dalam kuliah umum bertajuk Membangun Generasi Muda yang Kuat dan Generasi Muda yang Cerdas APBN, di FEB UGM, Senin (23/7).

Kegiatan ini bertujuan agar mahasiswa mendapatkan informasi langsung terkait pengelolaan APBN pada sumbernya langsung. Narasumber yang dihadirkan adalah Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman. Menurut Eko, pentingnya APBN sebagai instrumen pembangunan. Sehingga, mahasiswanya sebagai kaum muda dan intelektual harus memahami APBN dengan benar.

Dia berharap para mahasiswa bisa cerdas membaca APBN dari kuliah umum ini. Karena dengan cerdas APBN, pasti akan memanfaatkan APBN dengan sebaik-baiknya. Setidaknya baik ketika kelak sebagai pengusaha yang menjadi rekanan pemerintah atau sebagai pelaksana di pemerintahan.

Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan, sebagai mahasiswa fakultas ekonomi penting untuk mengetahui struktur ekonomi Indonesia. Penguasaan pengetahuan ini sangat penting karena bisa menjadi dasar dalam menentukan kebijakan. Dengan itu mahasiswa bisa memahami sejumlah kebijakan ekonomi masyarakat. Tak terkecuali kebijakan terkait utang Indonesia. Karena sebenarnya utang itu diperlukan agar pemerintah dapat menjalankan fungsi penting dan mendesak dengan lebih cepat tanpa penundaan.”Utang juga untuk investasi sebagai pemerataan tanggung jawab antargenerasi dalam penyediaan aset,’’ jelasnya.

Ditambahkannya, utang diperlukan karena dapat meningkatkam pertumbuhan ekonomi. Karena dalam kondisi perekonomian sebuah negara yang melamban, stimulus fiskal melalui utang dapat mendorong pertumbuhan. Kemudian pertumbuhan itu dapat mendorong peningkatan penerimaan pajak di masa mendatang, untuk dapat kembali membayar utang-utang tersebut. (din/mg1)