PERKEMBANGAN teknologi informasi yang begitu pesat memberikan dampak yang sangat signifikan pada kehidupan manusia. Salah satu dampak yang ditimbulkannya ialah dalam hal berinteraksi sosial yang kini lebih didominasi oleh media sosial (medsos) melalui gawai pintar (smartphone).

Berkomunikasi menggunakan smartphone memang banyak memberikan kemudahan karena sekat-sekat formal yang selama ini membatasi jalur komunikasi kini tiada lagi ditemui.

Kemudahan tersebut nyatanya tidak lantas tanpa risiko, salah satu risikonya ialah menurunnya komunikasi dan interaksi sosial di dunia nyata. Adalah sebuah ironi jika interaksi sosial dengan orang yang jauh lebih mudah, dan dengan orang yang dekat justru susah.

Berjalan merunduk fokus ke layar gawai sepertinya sudah menjadi pemandangan rutin yang ditemui di mana-mana. Phubbing, kependekan dari phone snubbing yaitu istilah untuk orang yang lebih fokuskan gawainya daripada lingkungan sekitar.

Menurut data National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA), kematian akibat kecelakaan lalu-lintas di Amerika Serikat saja meningkat 14,4% sepanjang tahun 2014 hingga 2016. Dari data tersebut diketahui bahwa salah satu penyebab kecelakaan terbesar di lalu-lintas disebabkan karena pengendara berkendara sambil sibuk menggunakan gawai maupun orang mabuk gawai yang berjalan tanpa memperhatikan lingkungan sekitar.

Apatis karena Gawai

Yang tidak kalah penting untuk diperhatikan terkait dampak dari penggunakan gawai ialah degradasi adab penggunanya. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adab ialah kehalusan dan kebaikan budi pekerti. Adab berkaitan dengan etika, kesopanan, dan akhlak seseorang. Jika dikaitkan dengan phubbing, menurunnya adab karena penggunaan gawai memang sepertinya diamini semua orang.

Bagaimana tidak, seseorang acuh pada lingkungan sekitar dan berfokus pada apa yang sedang terjadi di layar beberapa inchi dalam genggaman tangannya. Tidak sampai disitu, seseorang merasa bahwa dirinya mampu beraktivitas dan memberi pengaruh dalam dunia maya, sehingga kondisi emosionalnya pun turut dipengaruhi apa yang disaksikannya di dunia maya.

Fenomena phubbing ialah bukti bahwa kepekaan sosial di era ini turut mengalami degradasi, selain itu solidaritas dan toleransi pun juga ikut terkikis. Tidak mengherankan jika kepedulian terhadap sesama juga memudar dan sikap apatis semakin meningkat.

Jika hal demikian tidak segera dijadikan konsentrasi untuk segera diselesaikan, maka lambat laun karakter bangsa ini akan terkikis. Indonesia yang memiliki semangat kebersamaan dan persatuan bisa menjadi bangsa yang tidak beradab seketika hanya karena masyarakatnya “mabuk gawai”.

Degradasi adab paling kentara terjadi di medsos. Dengan setaranya setiap akun di medsos, menjadikan seseorang berlaku seakan tidak ada nilai-nilai yang berlaku ketika bermedsos.

Padahal, ketika berinteraksi dalam medsos setiap akun merepresentasikan kepribadian pemilik akun tersebut. Artinya, adab dalam berinteraksi di dunia nyata juga harus diterapkan di dunia maya.

Porsi menggunakan gawai yang melampai batasan nyatanya tidak lantas menjadikan seseorang beradab di dunia maya, justru semakin liar karena merasa bebas dari hukum-hukum di dunia nyata.

Dengan luar biasanya intervensi dunia nyata terhadap dunia nyata, perilaku informasi seseorang pun kian berubah. Seseorang cenderung mudah mempercayai apa yang mereka ingin percayai, dan mencari rujukan informasi dari sumber yang mereka inginkan.

Fenomena tersebut sangat berkaitan dengan istilah post truth, yaitu keadaan yang menunjukkan dimana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding dengan emosi dan keyakinan pribadi.

Padahal, distorsi informasi sangat rawan terjadi ketika seseorang berkomunikasi melalui gawai. Pesan yang disampaikan oleh komunikator (pengirim informasi) sering diterima berbeda oleh komunikan (penerima informasi) lantaran banyak gangguan (noise) yang terdapat di dunia maya seperti hoaks dan ujaran kebencian.

Phubbing sebagai dampak dari mabuk gawai tersebut ternyata bukan hal yang bisa disepelekan, terutama dampak akumulasinya dalam jangka panjang. Generasi milenial yang sudah sangat familiar dengan gawai terancam memiliki adab yang buruk dan gagap berkomunikasi secara langsung lantaran terbiasa berkomunikasi menggunakan gawai.

Kesadaran untuk mulai menjalin komunikasi nyata perlu ditingkatkan karena manusia hidup di dunia nyata, bukan di dunia maya.

Hal tersebut bukan berarti mengesampingkan etika berkomunikasi di dunia maya, akan tetapi penekanannya adalah berkomunikasi secara proporsional baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Dengan demikian, maka keseimbangan hidup di dunia nyata dan dunia maya akan terjaga. (ila)

*Penulis adalah Dosen Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta