BANTUL – Ruang gerak makelar tanah maupun perizinan semakin sempit. Itu seiring dengan semakin terbukanya peta tata ruang. Cukup dengan mengakses http://dptr.bantulkab.go.id/hal/peta-tata-ruang, investor dapat mengetahui seluruh informasi seputar tata ruang. Komplet dengan pembagian seluruh zonanya. Mulai kuning, hijau, hingga merah.

Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) Bantul Isa Budi Hartomo mengaku sengaja mem-publish informasi seputar tata ruang. Tujuannya agar roda perekonomian di Kabupaten Bantul segera berputar. Sebab, informasi seputar tata ruang selama ini terkesan eksklusif. Hanya menjadi monopoli kalangan tertentu. Seperti makaler. Salah satu akibatnya tidak sedikit investasi tak kunjung berjalan. Jamak pula investor harus merogoh koceknya terlalu dalam untuk sekadar mengurus perizinan tata ruang.
”Dengan cara seperti ini investor dapat mengurus sendiri. Tanpa harus pasrah kepada makelar,” jelas Isa di Lapangan Trirenggo pekan lalu.

Dengan mengakses situs ini pula, investor dapat mengetahui pemanfaatan lokasi investasi yang ditawarkan apakah sesuai atau tidak. Bila tidak sesuai, investor dapat segera mencari lokasi pengganti. Menurutnya, ada dua bentuk jenis peta yang dapat diakses. Yakni, PDF dan cybernetics. Namun, baru cybernetics yang dapat memberikan informasi secara detail. Saking detailnya, peta ini juga sekaligus menampilkan berbagai garis sempadan hingga harga tanahnya. Itu untuk mempersempit ruang makelar.
”Tapi baru tiga kecamatan yang dapat diakses. Yaitu, Sewon, Kasihan, dan Bantul,” sebutnya.
Berkat transparansi tata ruang, Isa mengaku dispertaru belum lama ini mendapatkan sertifikat ISO 9001:2015.
”Salah satu indicator sertifikat ini adalah transparansi informasi tata ruang,” tambahnya.

Anggota Komisi C DPRD Bantul Uwaisun Nawawi tak menyanggah bahwa informasi seputar tata ruang selama ini merupakan “barang” mahal. Hanya kalangan tertentu yang dapat mengaksesnya. Dengan terobosan baru, politikus PKB ini berharap tak ada lagi makelar tanah maupun perizinan yang bermain.
”Kalau proses berbelit-belit kasihan investornya,” tambahnya. (zam/mg1)