MANTAN atlet panahan yang pernah berlaga di Asian Games, Doha, Qatar 2016 lalu ini punya kiat agar para juniornya yang berlaga di Asian Games Jakarta-Palembang ini menjadi terbaik di ajang panahan.

Di Asian Games 2018 ini, atlet panahan Indonesia harus menghadapi lawan-lawan tanggung dari negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang, dan Tiongkok.

“Di level Asia, tiga negara tersebut, memang cukup merajai,” ujar Ramhat Sulistyawan yang menjadi salah satu dari 10 mantan atlet yang dipercaya membawa obor pada pawai Obor Asian Games, Kamis (19/7) lalu.

Sebagai seorang pelatih panah, dia cukup bangga karena tiga juniornya, yakni Oka Bagus Subekti, Titik Kusumawardani, dan Prima Wisnu Wardana mewakili Jogjakarta berlaga di ajang empat tahunan tersebut. Meski persaingan cukup berat, dia yakin para juniornya tersebut bisa menyumbangkan medali bagi Indonesia.

Dia pun membagi tips kepada juniornya sebelum bertolak ke Jakarta. Dia berpesan, agar tidak perlu takut dan gentar dalam menjalani pertandingan.

“Kuncinya ada di mental. Memang saat latihan dan berlaga ada perbedaan. Melihat musuh yang berada di atas, terkadang bikin minder dan menurunkan mental,” kata peraih perak SEA Games 2005.

Ke tiga wakil DIJ saat ini, lanjutnya, memiliki peluang besar untuk merebut medali. Terutama Prima Wisnu Wardana. Nama Wisnu pernah bersinar saat menyumbangkan satu emas di ajang SEA Games Malaysia 2017. Dia berharap kepada juniornya tersebut, untuk bisa tampil seperti laga SEA Games sebelumnya.

“Pokoknya percaya diri saja. Dari mereka saya yakin bisa menggondol perak atau perunggu. Untuk emas realistis karena beratnya saingan, tetapi bisa punya tekad yang besar, bukan tidak mungkin bisa mengalahkan,” jelasnya.

Kepada Radar Jogja, dia juga menuturkan pengalaman pahitnya. Betapa terpukulnya Rahmat saat gagal meraih medali di Asian Games 2006. Padahal, ketika itu Rahmat sempat mengalahkan juara dunia. Namun pada laga perebutan perunggu, pria asal Bantul ini dikalahkan atlet Korea Selatan.

“Saat perebutan perunggu melawan atlet Korea Selatan, saya gagal. Memang Korea Selatan menjadi lawan kuat bagi tim Indonesia,” kenang Rahmat.

Saat ini, Sebagian besar waktunya dihabiskan melatih generasi muda untuk menjadi atlet-atlet panahan. Diakui Rahmat, untuk mengenalkan panahan menjadi olahraga yang digemari masyarakat tidaklah mudah. Kendala yang dihadapi adalah mahalnya peralatan panahan.

“Untuk satu set busur dan anak panah saja harganya cukup mahal. Kadang ini yang menjadi kendala,” ujarnya. (ila/mg1)