GUNUNGKIDUL – Dampak musim kemarau di Gunungkidul semakin menyulitkan penduduk, terutama warga yang tinggal di zona krisis air. Di Desa Melikan, Kecamatan Rongkop, misalnya. Sebagian warga desa yang terdiri 13 pedukuhan ini hanya mengandalkan droping air. Penyebabnya, mereka tidak memiliki bak penampungan air.

”Kalau pun ada yang punya (bak penampungan, Red) hanya kecil,” keluh Tukijem, seorang warga Dusun Ngricik, Melikan, belum lama ini.

Ibu enam anak ini menyebut ada delapan kepala keluarga (KK) lain yang mengalami nasib serupa. Ketika ada bantuan droping air, mereka hanya bisa mengambil sebagian kecil. Itu pun di antara mereka ada yang hanya mengambil dengan ember. Praktis air dari bantuan ini hanya bertahan satu hingga dua hari.

”Kalau air habis minta ke tetangga atau mengambil air telaga,” tuturnya.

Karena itu, Tukijem berharap pemkab tanggap dengan kondisi yang dihadapi warga. Caranya dengan membangun bak penampungan representatif di perkampungan mereka. Agar mereka tak kesulitan lagi ketika musim kemarau datang.

”Paling baik, ya, memberikan bantuan bak penampungan di rumah,” harapnya.

Kepala desa Melikan Kartina mengatakan, pemerintah desa (pemdes) telah mengusulkan pembangunan bak penampungan air kepada kecamatan. Menyusul banyaknya KK di Desa Melikan yang memiliki bak penampungan kecil.

”Total ada 15 KK,” sebutnya.

Kendati begitu, Kartina memastikan pemdes juga tetap mengalokasikan anggaran untuk droping air. Totalnya Rp 3,9 juta. Anggaran itu untuk membeli 30 tangki air. Mengingat, Desa Melikan termasuk salah satu wilayah terparah.

”Bahkan sebagian warga tahun lalu ada yang menjual harta benda untuk membeli air,” tuturnya. (gun/zam/mg1)