Kendati demikian, faktanya masih ada yang tidak suka minum kopi karena berbagai alasan. Namun, sangat suka dengan aroma kopi. Melihat peluang yang besar di depan mata, Yudha Prasetyo, 26, owner KoKe Kopi Kreatif berfikir bagaimana cara untuk memfasilitasi mereka yang tidak suka minum kopi tapi sangat suka dengan aromanya. “Jadi bisa menikmati kopi tanpa harus diminum,” jelas Yudha ketika ditemui di Prambanan.

Dengan studi yang lama dan berfikir tentang cara mengolah biji kopi, akhirnya pada 2015 tercetus ide untuk menyulap biji kopi menjadi gelang. Ya, gelang dari biji kopi ini merupakan produk yang dibuatnya dengan memanfaatkan biji kopi defect atau biji yang tidak layak untuk dikonsumsi.
Pria asal Palembang itu mengatakan sengaja memilih kopi yang tidak layak karena melihat masih ada manfaat yang bisa didapat dari setiap keping biji kopi. Bagaimana proses dari hulu ke hilir inilah yang dia jaga. Sehingga dari biji kopi yang tidak layak pun masih bisa diolah. “Edukasi ini yang sedang gencar kami lakukan ke masyarakat,” bebernya.

Setidaknya ada dua misi utama yang ingin dicapai Yudha. Pertama selain untuk mengedukasi masyarakat, dia juga ingin menambah taraf hidup masyarakat. Dari proses pembuatannya, dia sengaja mengajak para ibu rumah tangga di sekitar kediamannya di Prambanan untuk proses produksi. Selain itu dia juga ingin menyejahterakan petani kopi dengan menyisihkan sebagian keuntungan untuk membelikan fasilitas pada petani.

Saat ini dia bekerja dibantu dengan sembilan orang karyawan. Empat di antaranya mengurusi produksi. Jenis produk yang dihasilkan dari biji kopi ini juga beragam. Mulai dari gelang, tasbih, parfum hingga pengharum ruangan. “Dalam sehari empat pekerja bisa memproduksi 1.000 gelang dan 500 parfum untuk satu orang,” kata pria yang usahanya juga ikut dalam Rumah Kreatif Jogjakarta bekerjasama dengan Bank BRI itu.

Pria lulusan S-1 Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jogjakarta itu menyebutkan, saat ini permintaan pasar sangat banyak. Terutama laris diburu oleh kaum Hawa. Dalam kurun waktu satu bulan, dia berhasil memroduksi hampir 20.000 gelang.
Namun, permintaan dari konsumen lebih tinggi daripada jumlah produksi. Sehingga dia merasa kewalahan untuk memenuhi permintaan pasar. “Biasanya cewek kalau lihat langsung bilang unik dan lucu,” jelasnya.

Kendati gelang dengan bahan utama biji kopi ini sudah banyak beredar di pasaran, dia tidak terlalu memusingkannya. Menurutnya, filosofi dan nilai yang terkandung dalam gelangnya berbeda dengan produk serupa. “Tidak takut karena kami dari awal sudah konsisten, berkomitmen dan dari segi konten berbeda sehingga yang lain bisa saja membuat tapi dari segi nilai pasti akan berbeda sehingga taste-nya juga berbeda,” kata Yudha menambahkan.
Yudha memastikan, semua produk yang dia buat murni dari kopi asli. Sehingga aroma yang dihasilkan pun sama dengan aroma kopi asli. Meskipun terbuat dari kopi asli, dia tidak menyarankan untuk menyeduhnya. “Aroma kopi ini dapat bertahan hingga dua bulan lamanya,” jelasnya.

Jika aroma kopi ini mulai pudar, karena sering terkena air, Yudha memiliki tips untuk mengembalikan aroma. Caranya dengan memasukkan gelang ke wadah berupa karung goni dan ditaburkan serbuk kopi selama satu hari. “Tapi aroma kopinya tidak akan sama seperti semula,” ujarnya.
Untuk produk gelang, dia menggunakan biji kopi Arabika Bali Kintamani. Alasannya jelas, dari segi bentuk lebih presisi dan cocok jika dijadikan gelang. Bukan hanya itu, aroma dari kopi Arabika lebih terasa. “Tekstur dan aromanya sangat kental jika menggunakan arabika,” bebernya.

Sedangkan produk selain gelang, dia mengambil kopi jenis Robusta yang diambil langsung dari Temanggung dan Gimbo (Sumatera Selatan). “Dalam sebulan kami membutuhkan 300 kilogram biji kopi,” jelasnya.
Produk KoKe ini sudah dipasarkan hingga luar negeri tepatnya Kuwait. Sedangkan pasar domestik sudah hampir ke seluruh Indonesia. Bahkan, para artis juga telah menggunakan gelang ini. Termasuk juga Menteri BUMN Rini Soemarno juga turut mengenakan.

Yudha menjelaskan, untuk produk-produknya dia banderol mulai harga Rp 35 ribu hingga Rp 150 ribu. Dia juga turut menjelaskan ke depan akan membuat gelang kopi dengan tema khusus. Yaitu dengan menggunakan biji kopi di daerah-daerah sembari memberikan edukasi terkait kopi yang dijadikan bahan utama pembuatan gelang. “Misalnya bulan ini pakai biji kopi Bali dan Ciwidey bulan depan bisa pakai biji kopi jenis lain,” ungkapnya. (har/din/mg1)