JOGJA – Wajah Reza, 5, tampak semringah. Berulang kali dia memainkan gasing bambu yang ditemukannya dalam Festival Dolanan Anak Cilik-cilikan di Titik Nol Kilometer Jogja, Minggu (22/7). Gasing bambu menjadi satu di antara sekian banyak permainan tradisional yang baru dikenal Reza ketika itu. Dia juga baru tahu jika gasing bambu bisa mengeluarkan suara merdu. ”Senang sekali, ternyata mainan tradisional asyik juga,” ujarnya sambil menggulung tali gasing.
Reza merasa sangat senang bisa ikut memainkan aneka permainan tradisional. Selain gasing, Reza tampak kagum dengan dakon. Ya, alat permainan berupa biji-bijian dengan papan panjang yang biasa dimainkan anak perempuan itu cukup membuat Reza girang.

Gempuran teknologi modern memang sempat membuat aneka jenis permainan tradisional makin tersisih oleh gawai dan berbagai alat canggih lainnya. Tak sedikit anak cenderung bermain handphone daripada bergaul bersama teman sejawat untuk bermain alat tradisional.
Karena itu, peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2018 hari ini (23/7) diharapkan bisa menjadi momen penting untuk mengembalikan kejayaan permainan tempo doeloe.

Minggu (22/7) aktivis Omah Kreatif Jogja dan Perempuan Tatto Indonesia mengawalinya dengan menggelar Festival Dolanan Anak Cilik-cilikan.
Beragam alat permainan tradisional tersedia. Siapa pun boleh bermain sesuka hati. Seperti egrang , bakiak , gasing , kelereng , layang-layang , dan dakon. Perpustakaan yang menyediakkan bacaan khusus anak-anak juga ada. “Permainan tradisional membuat kedekatan orang tua dan anak akan terjalin lebih erat,” ujar Agustina, salah seorang panitia.

Agustina menegaskan, festival dolanan sengaja digelar untuk memfasilitasi anak-anak agar tak hanyut dalam permainan modern. Dia melihat, anak-anak zaman now hanya memiliki sedikit waktu untuk bermain. Selain padatnya jam sekolah, juga kesibukan belajar seperti les privat menghabiskan waktu anak untuk bermain. Menurut Agustina, hal ini terjadi karena sebagian besar orang tua lebih mementingkan pendidikan formal daripada waktu luang anak untuk bermain. Di sisi lain, sebagian yang memiliki waktu luang justru dihabiskan untuk bermain handphone dan internet.

“Permainan anak yang melibatkan fisik dengan sedikit kotor dan rasa sakit juga penting,” ingat anggota Perempuan Tato Indonesia itu.
Menurut Agustina, anak-anak memerlukan waktu bermain di luar ruangan demi pertumbuhan mereka. Karena itu, dia berharap, ke depan akan ada lebih banyak acara dolanan anak terselenggara. Dengan konsep lebih bagus dan lebih banyak permainan tradisionalnya.

Penanggung jawab acara Teguh Laksono meyakini, permainan tradisional bisa menjadi alternatif melepaskan anak dari ketergantungan dengan gawai. Ditegaskan, gawai tak sepenuhnya bernilai positif. Banyak konten negatif yang bisa diakses dengan gawai. Tanpa pengawasan orang tua, bukan tak mungkin akan akan terpengaruh konten negatif seperti pornografi, kekerasan, dan sejenisnya. Sementara permainan tradisional lebih banyak mengandung makna edukasi. “Kami juga menggelar workshop membatik jumputan, membuat egrang, dan merakit layang-layang,” ujarnya. (cr5/yog/mg1)