ANAK Muda di pedesaan yang hanya suka nongkrong itu kini sudah mulai berpikir produktif. Dengan sedikit pendekatan dan konsistensi, mereka mulai mampu merintis usaha dan membangun desa. Semangat itu terpantik dari Kusnoto di pertengahan 2014.
Sepulang merantau dari Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), dia melihat aktivitas anak muda di Dusun Maesan Wetan, Desa Wahyuharjo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulonprogo hanya habis untuk nongkrong. Merasa miris, Kusnoto lantas mengajak mereka yang hobi nongkrong melakukan kegiatan positif.

Kusnoto membina para pemuda desa untuk membuat kerajinan tangan berbahan spon dan lainnya. Seiring perjalanan waktu, semakin hari hasil karya mereka kian beragam. Mulai kaus olahraga, banner, billboard, tag nama, hingga aksesori desain interior pendukung pesta.
Mereka kemudian membuat sebuah organisasi sebagai wadah berkarya. Sehingga terbentuklah Karang Guna Taruna (KGT).
Kusnoto lantas menggandeng tiga orang pemuda TGT untuk mencari calon konsumen produk hasil karya mereka. Pesanan pertama datang untuk membuat papan keterangan ruangan kelas sebuah sekolah dasar (SD).
Tanpa dukungan modal tidak membuat mereka surut semangat. Mereka bertiga mengeluarkan modal patungan masng-masing Rp 150 ribu per orang untuk membeli bahan dan memproduksi barang. Pesanan berikutnya datang dari Mataram, yakni membuat mimbar masjid.

“Dengan kehadiran New Yogyakarta International Airport (NYIA) kami ingin membuat karya yang laku dan laik dijual. Seperti membuat patung Nyi Ageng Serang, tempat ballpoint yang ringan dan mudah dibawa pulang,” ucap Kusnoto, yang juga salah seorang pembina KGT.
Pelan tapi pasti bisnis KGT makin meluas. Mereka juga mengerjakan kerajinan batu alam, split, silika, batu hitam, dan beragam batu kali lainnya. Produknya berupa mozaik dan aksesori interior rumah. Dari bebatuan itu, mereka juga bisa membuat kaligrafi yang kini sudah terpasang di banyak masjid.
Salah satunya di dinding Masjid Jami’ Al Ula, Maesan Wetan. Karya batu alam KGT dibanderol Rp 200 ribu per meter persegi. “Kami juga pernah dapat pesanan untuk masjid di Banyuwangi, Bekasi, dan banyak tempat lain,” ujar Ganis Septiandaru, penggiat KGT lainnya.

Meski pesanan bisa dibilang cukup lumayan, anggota KGT sepakat belum akan memasarkan produk secara masif. Kepercayaan konsumen menjadi pertaruhan. Sementara KGT masih mengalami beberapa kendala produksi. Salah satunya, jumlah produksi yang masih sedikit. Pembuatan produk sebatas berdasarkan pesanan. “Mereka takut jika usaha terlanjur dikenal luas dan banyak permintaan, tapi malah tak bisa memenuhi,” katanya.

Kendala lainnya, bahan baku batu alam masih harus dipasok dari luar daerah. Ini membutuhkan ongkos produksi cukup besar. Selain itu, pergerakan KGT sejauh ini lebih untuk pemberdayaan masyarakat. Belum ke arah bisnis murni. Kendati demikian, ada wacana membesarkan usaha KGT demi kesejahteraan warga desa.
Untuk sementara, agar anggota KGT bisa terus berkegiatan, mereka diarahkan membuat aneka kerajinan berbahan batu lokal Kulonprogo. Seperti batu-batuan di Sungai Serang. Yang penting setiap anggota bisa belajar mandiri. “Lewat sistem gaji, anggota KGT bisa memiliki uang jajan sendiri tanpa harus meminta kepada orang tua mereka,” ucapnya.

Geliat KGT ditangkap Pemkab Kulonprogo sebagai langkah positif. Bahkan kini mulai mendapat dukungan dinas perdagangan setempat. Dinas siap membantu peralatan produksi senilai Rp 60 juta. Berupa satu set alat potong batu alam, molen, dan alat penyortir.
“Langkah KGT kami dukung penuh,” ujar Kabid Perindustrian, Dinas Perdagangan Kulonprogo Dewantoro.
Usaha KGT akan terus berada dalam pantauan dinas. Agar secara konsisten bisa menghasilkan karya unik dan berciri khas Kulonprogo. Selain berdampak ekonomi bagi usaha itu sendiri, keberadaan KGT memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan sosial dan kesejahteraan anggotanya. Selain itu, hasil karya pemuda KGT turut menopang tren industri Kulonprogo yang semakin baik. Terutama di sektor kerajinan.

Ketua Difabel Wahyuharjo Nuryanta mengapresiasi semangat anggota KGT. Bahkan, dia menjadi bagian di dalamnya. Nuryanta menegaskan, keterbatasan fisik bukan penghalang untuk mengembangkan bakat dan kreativitas. Selama ini dia membuat kerajian dari batu pualam untuk hiasan lantai. “Biasanya kami bergabung dengan karang taruna, saat karang taruna mendapat order, kami membantu,” ungkapnya.

Nuryanta mengaku senang. Terlebih banyak waktu luangnya. Sementara pekerjaan bisa dibawa pulang dan dikerjakan di rumah. “Cukup mudah. Kami hanya harus memilih batu pualam yang tingginya rata supaya lebih gampang memasang perekat sebelum finishing,” ujarnya.
Selain para pemuda bekas pengangguran, KGT diperkuat sedikitnya 34 orang difabel. Bagi mereka tak ada target. Kerja hanya sebagai sambilan. Sehar biasanya bisa membuat 5 -7 buah kerajinan. (yog/mg1)