MAGELANG – Masyarakat Kota Magelang sempat dibuat bingung dengan tidak banyaknya pedagang ayam broiler di beberapa pasar. Bahkan di Pasar Rejowinangun Magelang, los penjual daging ayam sepi. Tidak ada satu pun pedagang yang menjual daging ayam negeri itu.

“Iya, dari rumah niatnya beli daging ayam. Sampai sini tidak ada yang jual. Saya akan cari ke Pasar Gotong Royong,” kata Murni, 34, warga Malangan, Rejowiangun Selatan, Magelang Selatan, Minggu (22/7).

Tidak jualannya puluhan pedagang ayam di Pasar Rejowiangun, dibenarkan petugas keamanan pasar itu, Agus S. “Biasanya di sini ada 50 sampai 80 pedagang ayam. Tetapi sejak pukul 02.00 tadi pagi (kemarin pagi), tidak ada satu pun yang berjualan. Katanya sih demo, karena harga beli ayamnya mahal,” tutur Agus.

Astuti, 40, salah seorang pedagang ayam yang tidak berjualan tetapi masih berada di sekitar Pasar Rejowinangun mengaku para pedagang kesulitan mencari ayam. Ketika ada, harga beli di peternak sudah mencapai 28 ribu/kg. Padahal, mereka harus menjual sekitar Rp 35 ribu/kg.

“Kalau harus menyembelih, mencabuti bulu dan selisih daging belum dipotong dengan sudah bersih, ya untung kami mepet. Kalau mau menaikkan harga ya kasihan pembeli. Pilihannya tidak jualan dulu. Ini bukan demo lho,” ungkap perempuan asal kampung Bogeman.

Suasana lapak pedagang ayam di pasar tradisional Rejowinangun pun terlihat sepi dan tidak ada transaksi jual beli. Hanya terlihat alas kayu yang digunakan untuk memotong dan serbet yang ditinggalkan oleh para pedagang.

Para konsumen dibuat kelabakan untuk mencari daging ayam sebagai lauk makan ataupun bahan masakan. Aceng, 47, salah seorang pedagang bubur ayam mengaku kebingungan untuk mencari daging ayam sebagai pelengkap buburnya.

“Ya bingung kalau seperti ini mau cari di mana. Tapi kemarin memang sudah dikasih tahu sama langganannya bahwa hari ini pada mogok jualan karena harganya yang tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, selama ini harga ayam per kilogram bisa rata-rata mencapai Rp 45 ribu hingga Rp 50 ribu untuk bagian paha saja. Rata-rata sehari biasanya bisa habis 30 kg daging ayam. Dia terpaksa akan menggunakan daging ayam kampung.

“Besok tetap akan jualan, tapi mungkin kami pakai daging ayam kampung, namun kalau ayam kampung susah mengolahnya karena dagingnya lebih alot,” paparnya.

Sementara Yanti, salah seorang warga Kelurahan Magelang mengaku harus beralih dengan memasak telur dan tahu akibat tidak ada pedagang yang jual ayam. “Ya, kalau engak ada ayam saya masak telur dan tahu saja. Toh saya tidak setiap hari harus memasak ayam,” tandasnya. (dem/laz/mg1)