PANCASILA berisi lima pedoman hidup masyarakat Indonesia. Tak terkecuali generasi muda, calon pemimpin yang sedang belajar untuk meneruskan cita-cita bangsa.

Menurut Ketua Osis SMAN 3 Jogja (Padmanaba) Najla Mumtaza Pancasila harus diimplementasikan. Di antaranya toleransi, musyawarah, serta bertanggung jawab pada semua kewajiban.

“Pelajar harus bertanggung jawab dengan kewajiban untuk meneruskan cita-cita bangsa. Tanggung jawab adalah sikap yang menjadi fondasi agar bisa mengamalkan Pancasila,” ucap Lala, sapaan Najla.

Dia percaya toleransi seharusnya mengakar pada masyarakat. Pada sila pertama Pancasila, Ketunan yang Maha Esa, implementasinya harus real. Warga Indonesia menganut berbagai agama dan kepercayaan di luar enam agama yang diakui negara. Harus memahami dan merangkul mereka.

“Aku yakin pengamalan Sila I Pancasila itu juga tentang mengapresiasi, memahami, dan tidak membedakan kepercayaan-kepercayaan lokal. Harus menghargai semua kepercayaan di Indonesia yang sudah maupun belum diakui negara.” kata Lala.

Toleransi antar umat beragama dan kepercayaan harus dimiliki anak muda. Sebab anak muda turut membangun bangsa. Pembangunan tak hanya di perkotaan tapi juga di desa.

“Kalau ingin jadi pemimpin, harus bisa memanusiakan manusia. Sikap ini tak akan bisa dibentuk tanpa memahami masyarakat. Maka penting memiliki toleransi untuk bisa beradaptasi,” kata Lala.

Dia berusaha menjadi pendengar yang baik. Tidak terburu-buru memutuskan sesuatu. Pengambilan keputusan harus berasaskan musyawarah.

“OSIS milik seluruh warga sekolah. Sehingga musyawarah tidak sekadar dilakukan di tubuh organisasi. Harus bisa menyebar dan mendengarkan semua pendapat warga sekolah. Keputusan harus bisa dihargai semua pihak. Mereka ambil bagian menentukan sesuatu,” kata Lala.

Dia menyadari saat ini banyak anak muda merasa belum punya pengaruh untuk masyarakat. Namun belajar menjadi calon pemimpin harus dimulai sejak sekarang.

“Mulai pada tingkat paling rendah, misalnya pada diri sendiri, keluarga lalu lingkungan sekitar. Proses tidak terjadi dalam semalam. Melewati proses. Apapun karya, hobi, aktivitasmu, jalani dengan berpedoman pada Pancasila. Tidak perlu meniru bangsa lain. Kita punya fondasi sendiri,” ujar Lala. (*/ata/iwa/mg1)