BANTUL – Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Jogjakarta memastikan keluarga almarhum Wiwid Sutrisnoputra,25, berhak mendapatkan santunan asuransi Rp 85 juta dari pemerintah. Itu lantaran korban meninggal dalam kecelakaan di Perusahaan Awak Kapal Busan, Korea Selatan tersebut berstatus TKI resmi lewat program G to G. Wiwid berangkat 2016.

Kasi Perlindungan dan Pemberdayaan TKI, BP3TKI Jogjakarta Sri Purwanti menyatakan, besaran santunan yang berhak diterima keluarga Wiwid sesuai aturan pemerintah. “Kalau dari perusahaan (tempat Wiwid bekerja, Red) kami belum bisa memastikan,” ujarnya, Minggu (22/7).
Guna memastikan hak-hak Wiwid sebagai korban kecelakaan, BP3TKI Jogjakarta terus berkoordinasi dengan KBRI Korea Selatan.
Sri menegaskan, kecelakaan kerja merupakan musibah. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan setiap pekerja wajib berhati-hati. Disiplin kerja menjadi hal terpenting. Ikuti aturan perusahaan dan tidak memforsir diri. Belajar dari peristiwa yang dialami Wiwid, Sri berharap, seluruh TKI memperhatikan kemampuan masing-masing. “Pastikan daya tahan tubuh memadai. Jika tidak kuat, jangan dipaksakan,” tuturnya.

Dari data sistem komputerisasi tenaga kerja luar negeri (Sisko-TKLN) nasional 2017, sedikitnya 3.728 TKI bekerja di Korea Selatan. Dari jumlah tersebut, 112 orang asal DIJ. ” Mudah-mudahan tidak ada lagi peristiwa serupa,” harap Sri.
Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja, Perluasan Kerja, dan Transmigrasi, Disnakertrans Bantul Istirul Widilastuti memastikan keberangkatan Wiwid ke Korea Selatan pada 2016 sesuai prosedur. Lembaganya menerbitkan rekomendasi untuk paspor. Sedangkan urusan lain-lain menjadi kewenangan BP3TKI Jogjakarta. “Tapi kalau sudah kejadian begini semua pihak harus berkoordinasi,” ungkap Tirul.
Tirul bersyukur jenazah Wiwid bisa dipulangkan ke Indonesia dalam waktu cukup cepat.

Sebagaimana diketahui, Wiwid tewas setelah terpeleset dan tercebur di kubangan biji besi bersuhu panas Rabu (18/7). Jenazah warga Dusun Jarakan, Triharjo, Pandak, Bantul itu dipulangkan ke rumah duka Sabtu (21/7) malam. Jenazah sampai di Bandara Adisutjipto sekitar pukul 22.30. Selanjutnya dijemput menggunakan mobil ambulans milik Pemkab Bantul. Sampai di rumah duka pukul 00.00.
“Kami menunggu di rumah,” ungkap Sumiarsih, ibu korban.
Menurutnya, jenazah Wiwid diantar bupati Bantul dan perwakilan dinas tenaga kerja dan kepolisian. Serta empat orang dari Korea, perwakilan dari perusahaan di mana Wiwid bekerja selama lebih dari setahun.
Meninggalnya Wiwid mengundang duka mendalam bagi keluarga. Terlebih sang adik, Ari Kristianto,19. Dia terkenang pesan Wiwid tentang semangat mengejar cita-cita mulia untuk keluarga. Karena Wiwid pula Ari termotivasi untuk melanjutkan sekolah setinggi mungkin. “Insya Allah tahun depan daftar kuliah jurusan Bahasa Jawa.” ungkap Ari.

Sementara bagi Sumiarsih dan suaminya, Ngadino, kehilangan Wiwid ibarat mimpi. Mereka masih merasa jika putranya itu masih bekerja di Korea. “Semua sudah kehendak yang Maha Kuasa,” ucap Ngadino.
Belakangan Ngadino dan Sumiarsih baru mengetahui jika perusahaan tempat Wiwid bekerja memang berisiko tinggi. Namun, sejauh ini Wiwid merahasiakan pekerjaannya karena khawatir tak mendapat restu kedua orang tua saat hendak berangkat dulu. “Saya dapat cerita ini malah dari teman Wiwid sesama perusahaan,” ungkap Sumiarsih.

Setelah mengetahui kisah tersebut Sumiarsih merasa tak rela melepas anaknya kerja di Korea. “Kalau tahu dari dulu tentu saya tak mengizinkan. Tapi bagaimana juga niat Wiwid itu baik,” sambungnya.
Di mata Sumiarsih, Wiwid adalah sosok anak yang sudah mandiri dan suka bekerja sejak kecil. Wiwid terbiasa memenuhi kebutuhannya sendiri karena tak ingin membebankan kepada orang tua. Seperti untuk biaya les bahasa Korea dan persiapannya berangkat ke Negeri Ginseng itu. “Tidak mungkin hanya mengendalkan saya sebagai buruh tani dan bangunan. Sedangkan istri saya buruh batik,” timpal Ngadino. (ega/cr6/yog/mg1)