Masjid Badshahi, Lahore, Punjab, Pakistan pernah tercatat sebagai masjid terbesar di dunia saat Kerajaan Mughal Islam berjaya di India. Masjid Badshahi menjadi saksi sejarah saat dikuasai Sikh, dalam genggaman Inggris lalu dikembalikan ke kaum muslim. Kini, dalam penguasaan penuh Republik Islam Pakistan. Masjid Badshahi tetap berfungsi penuh dan menjadi ikon, landamark kota Lahore, Punjab, Pakistan.

Bahari-Lahore Pakistan

SENIN malam (9/10/2011) menjelang salat Isya suasana Masjid Badshahi yang terletak di pusat kota Lahore, Propinsi Punjab, Pakistan agak sepi dan gelap. Pintu gerbang masjid yang diportal dijaga beberapa tentara dan polisi.
Namun karena masih buka, pengunjung diperbolehkan masuk. Begitu memasuki kompleks, terhampar halaman cukup luas dengan makam di tengahnya. Tampak hanya satu dua pedagang saja yang masih bertahan di halaman luar masjid tertua di Pakistan itu.

Beberapa pengunjung tampak santai duduk bersendau gurau di halaman masjid terluas di dunia itu yang bisa menampung 95 ribu jamaah itu. Beberapa pengunjung mengambil gambar berlatar belakang eloknya masjid.
Masjid Badshahi adalah masjid tertua di Pakistan, peninggalan kekaisaran Islam Mughal ke enam. Masjid dibangun oleh Muh-ud-din Muhammad Aurangzeb pada 1671 dan selesai pada 1673.

Masjid ini selain tertua juga terbesar di Pakistan selama tiga abad tepatnya, 313 tahun atau periode 1673-1986. Sebelum akhirnya dibangun Feisal Mesjid di Islamabad yang merupakan masjid terbesar di Asia Selatan bahkan ke tiga di dunia setelah Masjidil Haram, Makkah, dan Masjid Nabawi, Madinah.

Seperti peninggalan kekaisan Islam Mughal yang lain, kompleks Masjid Badshahi merupakan satu kompleks wilayah kerajaan. Di depan masjid ada benteng yang masih kokoh hingga kini. Namanya, Lahore Ford, di depan masjid juga ada makam tokoh intelektual dan spiritual Islam Pakistan yakni, Alamah Iqbal yang juga guru dari bangsa bapak pendiri Pakistan Mohamad Ali Jinnah.
Terlihat deretan bangunan menyerupai blok mengitari halaman sekaligus berfungsi sebagai pagar pembatas komplek bangunan kerajaan. Dulunya, bangunan itu difungsikan sebagai penjara bagi mereka yang bersalah atau yang dianggap sebagai musuh negara.

Untuk memasuki kompleks masjid pengunjung harus menanggalkan sepatu. Begitu naik undak-undakan sepatu dititipkan ke penjaga. Bagi yang belum wudlu, di kiri kanan pintu masuk kompleks masjid tersedia ratusan kran tempat wudlu para jamaah. Saat dibuka kran airnya mengalir kencang. Wuss airnya terasa dingin.

Begitu memasuki kompleks masjid terhampar lapangan beton cukup luas yang juga berfungsi sebagai halaman masjid luar karena memang tidak beratap.
Daya tampung halaman masjid mampu menampung jamaah sangat banyak. Berkisar 95 ribu. Ukuranya lebih luas dari lapangan sepak bola. “Kalau di Indonesia lapangan ini bisa dipakai main bola,” celutuk seorang mahasiswa Indonesia di Lahore.

“Sampai sekarang masjid ini masih berfungsi penuh. Ya, dipakai salat sehari-sehari lima waktu, salat Jumat bahkan salat Id Lebaran warga Lahore ya berpusat di masjid ini,” kata Anton Nawawi, mahasiswa jebolan Madarash Arabia Raiwind jurusan hadist dan tafsir yang kerap mengujungi masjid ini. “Masjid ini salah satu ikon dan sisa-sisa kejayaan Kerajaan Islam Mughal di kota Lahore,” tambahnya.

Begitu indahnya dulu latar belakang masjid ini sering dipakai untuk pengambilan gambar atau syuting film. Tapi, sekarang sudah dilarang karena bisa mempengaruhi kesucian masjid.

Di bawah halaman masjid yang cukup luas itu dulunya merupakan ruang rahasia kekaisaran. Salah satunya, dipakai tempat menyimpan alat persenjataan dan pertahanan kekaisaran. Sekarang ditutup untuk umum. Karena tak pernah dibuka kini kabarnya banyak dihuni binatang melata.

Selepas halaman masjid ada yang namanya ruang dalam masjid atau tempat berdoa yang bisa menampung sekitar 5000 jamaah. Tempatnya memanjang sekitar 75 meter dengan lebar sekitar 20 meter. Atap-atapnya tampak tinggi dan kukuh. Dengan demikian kalau cuaca panas menyengat, di dalam masjid tetap sejuk semilir.

Arsitektur masjid sepintas mirip Taj Mahal, Agra, India yang juga dibangun oleh Syah Jahan juga dari Kekaisaran Islam Mughal. Hanya bahan bangunan yang digunakan sedikit berbeda.

Kalau bangunan Taj Mahal pernik atau interiornya dipilih dari bahan batu permata berkualitas kelas satu. Apakah safir dan pehiasan mahal lainnya dari manca negara. Tapi, di Masjid Badshahi umumnya terbuat dari batu marmer dan pualam. Namun demikian keelokannya juga tidak kalah indahnya dengan Taj Mahal yang tersohor itu.

Kian malam terlihat banyak pengunjung yang datang. Baik rombongan maupun perorangan sebelum ditutup sekitar pukul 20.00. Juga terlihat beberapa turis manca negara yang menenteng kamera hanya mengenakan kaos kaki.

“Kalau siang selain jadi tempat salat juga jadi jujukan para turis yang datang ke kota Lahore,” tambah Endi, staf lokal KBRI Islamabad yang menemani penulis.
Seorang pengurus masjid mengumandangkan azan Isya. Hanya satu dua jamaah masjid yang datang. “Kita salat berjamaah dulu saja. Kalau menunggu salat jamaah salat Isya bersama mereka lama karena harus menunggu jamaah yang lain,” kata Anton.

Masjid ini mampu menampung lebih kurang 5.000 jamaah di ruang doa (bagian dalam) utama dan 95.000 di halaman luar masjid. Kini, Masjid Badshahi merupakan masjid terbesar ke dua di Pakistan setelah Feisal Mesjid di Islamabad.

Masjid berukuran begitu besar ini, memiliki empat menara di empat penjuru luar masjid masing masing setinggi 53,75m ditambah lagi empat menara di empat penjuru bangunan utama masjid dan halaman tengah seluas 253.899,9 m2. Sekadar perbandingan, tinggi menara masjid ini lebih tinggi 4,2 meter dibandingkan dengan menara Taj Majal, dan halaman tengah masjid ini sama luasnya dengan keseluruhan luas Taj Mahal.

Pada tahun 1993, Pemerintah Pakistan merekomendasikan dimasukkannya Masjid Badshahi sebagai situs warisan Dunia di Daftar Warisan Dunia UNESCO.

Sejarah Penguasaan Masjid Badshahi
Masjid Badshahi dibangun dalam visi kerajaan imperium Islam Mughal. Karena itu lokasinya hanya berseberangan dengan Lahore Fort. Landasan masjid ini dibangun lebih tinggi lahan disekitarnya guna mencegah banjir dari sungai Ravi saat pasang naik.

Fondasi dan struktur bangunan masjid menggunakan bahan batu bata dan tanah lempung dipadatkan. Struktur bangunannya dibalur lampengan batu pasir merah ditambang dari daerah Jaipur di Rajasthan (kini masuk India). Sedangkan kubahnya di lapis dengan pualam putih.

Masjid selesai dibangun 1673 pernah menjadi masjid terbesar di imperium Kerajaan Islam Mughal. Tapi, tercatat sebagai masjid terbesar di dunia. Catatan rekor bertahan selama 313 tahun sampai tahun 1986. Saat cuaca cerah masjid dapat dilihat dari jarak hingga 15 Km. Masjid Badshahi ikon dan landmark kota Lahore.

Dikuasai Sikh (1799-1849)

Pada 7 Juli 1799 milisi Sikh dari Sukerchakia, pimpinan Ranjit Shing mengambil alih kota Lahore. Setelah mengusai seluruh kota, Masjid Badshahi mengalami kerusakan parah ketika Ranjit Shing menggunakan halaman tengahnya yang begitu luas itu sebagai kandang kuda pasukannya.

Sedangkan 80 hujras (ruangan kelas) yang mengitari halaman tengah masjid dijadikannya barak militer dan gudang senjata. Ranjit Sing juga menjadikan Hazuri Bagh yang berdekatan taman disebelah masjid sebagai ruang pengadilan kerajaan. Tahun 1820 seorang warga Inggris bernama William Moorcroft dalam catatannya menyebutkan, saat itu masjid Badshahi dijadikan areal latihan bagi pasukan infantry Sipahi.

Tahun 1841 terjadi perang sipil Sikh, Putra Ranjit Singh, Sher Shing menggunakan menara masjid Badshahi yang ujung nya sudah runtuh akibat gempa untuk meletakkan zamburah atau Senjata Ringan guna membombardir pendukung Sikh Maharani Chand Kaur yang menguasai Lahore Fort.

Bombardier dari menara masjid itu mengakibatkan kerusakan pada Fort Lahore. Salah satu korban dibombardir itu hancurnya Fort Diwan-e-Aam (Hall untuk pertemuan public). Hall lalu dibangun ulang dimasa pendudukan Inggris, namun tak membangun seindah aslinya.

Selama perang sipil ini tercatat Hendri De La rouche, komandan Kavaleri Prancis yang ditugaskan di ketentaraan Sher Singh menggunakan terowongan yang menghubungkan masjid Badshahi ke Lahore Fort sebagai gudang penyimpanan mesiu.

Di Tangan Inggris (1858-1947)
Saat menjajah India, Inggris tetap menggunakan masjid dan area yang menghubungkan dengan Lahore Fort sebagai barak militer. 80 hujrah berada di sekitar lapangan tengah yang semasa kekuasaan Sikh dijadikan kandang kuda di hancurkan Inggris guna mencegah digunakannya ruang kelas bagi bentuk aktivitas anti Inggris. Inggris lalu membangun ulang area hujras dengan bentuk lebih terbuka.

Kembali Dikuasai Muslim
Menanggapi ketersinggungan kaum muslimin atas terus digunakannya Masjid Badshahi sebagai barak militer sejak pemerintahan Sikh hingga awal penjajahan Inggris, maka Inggris membentuk Otoritas Masjid Badshahi 1852 untuk melakukan restorasi dan mengembalikan masjid kepada kaum muslimin.
Sejak tahun 1852 serangkaian restorasi dilaksanakan dibawah pengawasan Otoritas Masjid Badshahi. Perbaikan besar besaran dilaksanakan 1939. Cetak biru perbaikan masjid disiapkan arsitek Nawab Zen Yar Jang Bahadur.

Pekerjaan restorasi terhadap masjid terus berlanjut ketika Lahore manjadi bagian dari Republik Islam Pakistan yang lahir 14 Agustus 1947 setelah lepas dari India. Pada 1960 Masjid Badshahi direstorasi total dan dikembalikan ke bentuknya aslinya. Proses restorasi ini menghabiskan dana 4,8 juta Rupee. Pemerintah Pakistan membangun sebuah museum kecil di dalam gerbang masuk Masjid Badshahi yang menyimpan benda bersejarah terkait Nabi Muhammad SAW dan keluaraganya. Benda benda tersebut dibawa ke Lahore oleh Amir Taimur. Pemotretan terhadap benda benda dilarang.

Sementara arsitektural Masjid Badshahi sangat mirip dengan Masjid Jame di New Delhi Tua, India yang dibangun 1648. Kemiripan itu karena Masjid Jame di Delhi juga Ayahanda dari Aurangzeb, Raja Shah Jahan. Rancangan masjid di-inspirasi seni Islami, Persia, Asia tengah dan sentuhan India. Masjid Jame Delhi begitu megah, besar, kokoh. (Bahari/Besambung)