BANTUL – Kritisnya kondisi Gumuk Pasir ternyata juga memantik perhatian Komisi VII DPR RI. Komisi yang membidangi pengawasan lingkungan ini khawatir salah satu warisan dunia tersebut bakal punah. Mengingat, tidak sedikit vegetasi yang tumbuh di sebelah selatan zona inti Gumuk Pasir.

Menurut Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Tansil Linrung, gundukan pasir (barchan) terbentuk secara alami. Barchan itu berasal dari tiupan angin pantai yang membawa pasir. Nah, keberadaan vegetasi maupun bangunan semi permanen menghalangi datangnya angin pantai.

”Sehingga pohon-pohon yang menghalangi pasir datang harus segera dipotong dan dibersihkan,” tegas Tansil di sela kunjungan kerja Komisi VII DPR RI di Gumuk Pasir, Jumat (20/7).

Dari pantauannya, politikus PKS ini melihat, tidak sedikit pula bangunan semi permanen yang berdiri di sekitar zona inti. Yang lebih memprihatinkan lagi, di antara bangunan tersebut berupa kandang ayam. Di mana kerap menyebabkan bau tidak sedap.

”Kandang ayam juga harus dibersihkan,” lanjutnya.

Anggota Komisi VII DPR RI Agus Sulistiyono mengungkapkan hal senada. Menurutnya, kondisi Gumuk Pasir sangat berbeda dengan 20 tahun lalu. Saat itu hamparan dan gundukan pasir tampak seperti di Timur Tengah. Karena itu, politikus PKB ini mendorong pemkab, pemprov maupun pemerintah pusat segera mengambil tindakan. Caranya dengan segera melakukan penertiban.

Agar keberadaan area konservasi itu tak menjadi dongeng dalam beberapa tahun ke depan. Kendati begitu, Agus Sulis, sapaannya mewanti-wanti upaya penertiban ini tetap memerhatikan aspek perokonomian warga sekitar. Sebab, tidak sedikit warga yang mengais rezeki di sekitar zona inti.

Kepala Parangtritis Geomaritime Science Park (PGSP) Nicky Setiawan menyebutkan, luas zona inti Gumuk Pasir semula sekitar 141 hektare. Namun, belakangan ini terus mengalami penyusutan. Bahkan, kondisi Gumuk Pasir di sebelah barat manasik haji lebih memprihatinkan lagi. Tidak ada lagi gundukan di bagian zona inti yang pernah dijadikan lokasi pengambilan gambar film Ada Apa dengan Cinta 2 ini. Sebaliknya, titik ini justru mirip danau saat musim penghujan. Itu salah satunya akibat tumbuhnya vegetasi di sebelah selatan zona inti.

”Dulu (penanaman pohon Cemara) program penghijauan. Sekarang dampaknya dirasakan,” ujarnya.

Terkait penertiban, Nicky mengungkapkan, pemerintah telah merencanakannya. Hanya, hingga sekarang belum ada realisasinya. Seperti Komisi VII, Nicky juga berpesan agar penertiban memerhatikan aspek kebutuhan pariwisata.

”Gumuk Pasir tetap lestari. Kebutuhan wisata juga tetap bisa diakomodasi,” katanya. (ega/zam/mg1)