Banyak mahasiswa Indonesia menuntut ilmu di berbagai universitas Pakistan. Di Islamabad maupun Lahore, Punjab. Salah satunya di Punjab University yang dikenal sebagai kampus tertua dan terbesar di Pakistan. Juga ada yang menuntut ilmu di Madrasah Arabia Raiwind, Lahore Pakistan. Karena beda budaya dan jenis makanannya, para mahasiswa Indonesia mengaku sempat syok.

Sore itu (9/10/2011) suasana depan kampus lama (old campus) Punjab University di Kota Lahore sangat ramai. Puluhan mahasiswa-mahasiswi sedang bercengkrama. Ada yang membaca buku atau sekadar duduk-duduk di taman.
Begitu bus kampus datang para mahasiswa langsung berebutan naik. Tak peduli laki-laki-perempuan. Yang tidak kebagian tempat duduk menunggu jemputan bus berikutnya.

Punjab University resmi didirikan pada pertemuan pertama Senat pada 14 Oktober 1882 di Simla. Pendirinya Prof Dr GW Leitner. Untuk mengenang jasa Leitner pihak kampus mendirikan patungnya di depan kampus lama Lahore.
Punjab University adalah universitas keempat yang didirikan Pemerintah Kolonial Inggris di India. Tiga universitas sebelumnya adalah di Calcuta (sekarang berubah Kolkata), Bombay (kini Mumbay), dan Madras.

Kampus Punjab University tersebar di beberapa tempat. Allama Iqbal sebagai kampus lama. Allama adalah nama seorang pemikir besar Asia Selatan dan penyair. Bangunan ini memiliki desain arsitektur Islam yang terletak di tengah Kota Lahore.

Ada juga kampus di Gujranwala. Namanya Quaid-i-Azam Campus yang juga dikenal sebagai kampus baru. Lokasinya 12 kilometer ke selatan Allama Iqbal Campus.

Menempati areal 1.800 hektare yang subur, kampus ini merupakan pusat kegiatan akademik dan administrasi universitas. Sebuah kanal membagi blok akademik dari penginapan mahasiswa.

Kampus lainya, Gujranwala, memiliki empat disiplin ilmu. Yakni teknologi administrasi bisnis, perdagangan, hukum, dan informasi.

Khanaspur Campus dikenal sebagai kampus musim panas di Khanaspur. Letaknya di ketinggian 2.100 meter di atas permukaan laut. Dekat kawasan Pegunungan Himalaya di wilayah Ayubia. Kampus ini selain menyediakan fasilitas penelitian juga digunakan sebagai pusat rekreasi untuk fakultas dan mahasiswa.

Punjab University menawarkan program studi pada tingkat sarjana MSc, MPhil, dan PhD. Termasuk mata kuliah rekayasa perangkat lunak, ilmu komputer, teknologi informasi, matematika, fisika, kimia, statistik, dan ilmu lingkungan. Universitas ini menghasilkan sedikitnya 100 PhD setiap tahun.

Universitas ini memiliki sekitar 25 ribu mahasiswa. Universitas juga sangat getol menginstruksikan mahasiswa untuk penelitian. Kini sekitar seratus mahasiswa terdaftar di program PhD dari berbagai disiplin ilmu.

Satu-satunya mahasiswa Indonesia yang kuliah di Punjab University adalah Agung Nugroho Puspito , 32. Dia mengambil S3 jurusan molekular biologi yang kini sudah memasuki tahun ketiga.

“Saat masuk dulu ada tiga mahasiswa asal Indonesia yang kuliah di sini. Sekarang tinggal saya saja,” aku Agung yang asal Jember, Jawa Timur itu.
Sedangkan mahasiswa asing lain umumnya dari Sudan, Somalia, Burundi, dan Bangladesh. Selebihnya mahasiswa dari berbagai daerah di Pakistan. “Kalau di Indonesia Punjab University ini Universitas Indonesia-nya Jakarta. Semua jurusan ada di universitas ini,” jelasnya.

Disiplin ilmu yang ditekuni Agung tergolong langka. Yakni, mempelajari gen atau DNA tanaman, khususnya kapas. Mengembangkan kapas unggul yang tahan terhadap herbisida.

Caranya, dengan memasukan tiga DNA sekaligus dalam kapas tadi. “Itu riset yang sedang saya lakukan sekarang,” ujarnya.

Metode belajar yang diterapkan Punjab University sedikit berbeda dengan pendidikan S3 di universitas negara lain. Kalau penilaian S3 di univesitas lain umumnya lebih fokus pada hasil penelitian atau riset dan penulisan jurnal. Tapi, di Punjab University penilaiannya adalah hasil gabungan riset, jurnal, dan nilai ujian mata kuliah. “Jadi, ya modelnya seperti setengah kuliah,” katanya.

Yang membanggakan, lanjut Agung, pihak universitas berani mengkontrak atau mendatangkan dosen berkualitas dari mancanegara untuk jangka panjang. Lima atau empat tahun. “Ini yang jarang dilakukan universitas lain,” ungkapnya.

Hidup di negeri orang sungguh berat. Itu yang dirasakan Agung saat kali pertama datang di Lahore. “Saya sempat stres selama empat bulan. Ya kaget makanannya, bahasanya, dan budayanya. Semua berbeda dengan kita,” kata Agung.

Apalagi saat menempuh S3 bahasa pengantarnya Inggris. Dengan segala cara Agung akhirnya lancar bahasa Inggris. “Saya dipaksa keadaan,” akunya.
Belum lagi masalah adat-istiadat yang sangat berbeda. “Kuncinya sabar dan sabar. Tapi, jangan mau diinjak,’’ kata pria yang mengambil S2-nya jurusan Agronomi di Universitas Jember.

Agung sendiri mendapat beasiswa dari TWAS, Italia. Semua kebutuhan dan keperluan selama menyelesaikan doktor ditanggung TWAS. Juga untuk kebutuhan sehari-hari dan uang saku. “Ya, cukup lah,” kata bapak satu anak itu.
Mahasiswa Indonesia lainnya yang kuliah di Lahore adalah Anton Nawawi , 30. Dia mengambil jurusan hadis dan tafsir di Madrasah Arabia Raiwind. Seperti mahasiswa baru lainnya, Anton sempat syok, bahkan mencret-mencret karena makanan tidak cocok.

Kesulitan lainnya soal bahasa. Sebab, bahasa pengantar kuliah di Madrasah Arabia Raiwind adalah bahasa Urdu. “Gramatical-nya susah karena campuran dari beberapa bahasa. Tapi, karena keadaan saya dipaksa bisa,” ujar pria asal Bojonegoro, Jawa Timur, itu.

Setelah menamatkan kuliahnya selama tiga tahun, kini Anton sudah bergabung jamaah tablig untuk berdakwah. “Minimal setahun. Sekarang baru memasuki tiga bulan. Kalau pulang nanti rencananya saya akan mendirikan pondok pesantren,” akunya.

‘’Saya pernah dipukuli, dikeroyok, bahkan diusir saat berdakwah di pelosok Karachi, Pakistan. Itu pelajaran berharga dan bisa merasakan bagaiman Baginda Rasulullah Muhammad SAW merasakan hal yang sama saat berdakwah dulu. Bahkan jauh lebih berat lagi,” ujarnya.

Mohamad Zubair , 30 , mahasiswa Indonesia lainnya yang mengambil jurusan hadis juga lulusan Madrasah Arabia Raiwind. Zubair menyelesaikan S1 dan S2 jurusan hadis. “Sudah 10 tahun saya belum pulang. Setelah kuliah tiga tahun, orang tua menyarankan agar tidak pulang hingga selesai,” ujar pria asal Sopeng, Sulawesi Selatan itu. Kalau pulang nanti dia juga berencana mendirikan pondok pesantren. (yog/bersambung)