JOGJA – Cuaca ekstrem yang melanda kawasan pantai selatan Jawa belum berakhir. Gelombang dan ombak tinggi masih berpotensi terjadi hingga sepekan ke depan. Kepala Stasiun Klimatologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIJ Agus Sudaryatno mengatakan, gelombang laut tertinggi mencapai enam meter terjadi Kamis (19/7). Tinggi gelombang diperkirakan berangsur menurun hingga lusa dan akan naik lagi hingga lima meter pada Selasa (24/7). “Puncaknya bisa mencapai enam meter lagi pada Kamis (26/7). Masyarakat perlu waspada,” ungkapnya, Jumat (20/7).

Agus menjelaskan, tingginya gelombang laut sebagai dampak adanya tekanan udara rendah dari belahan bumi utara. Tepatnya di timur laut Filipina. Tekanan rendah tersebut disebabkan oleh tropical storm bernama badai Ampil.
“Badai memang menjauh, tapi di situ tetap berpotensi menyebabkan gelombang tinggi karena tekanan rendahnya,” jelas Agus.

Selain itu, di sebelah barat laut Cina Selatan juga terdapat tekanan rendah. Sementara di daratan Australia tekanan udaranya cukup tinggi. Dengan kondisi ini udara akan bergerak dari daratan Australia atau belahan bumi selatan ke utara. “Nah, dampaknya ada gelombang tinggi di selatan Pulau Jawa,” ucapnya.
Akibat adanya perbedaan tekanan yang semakin jauh, lanjut Agus, angin akan semakin kencang. Tak hanya di pantai-pantai selatan DIJ. Bahkan lebih luas lagi, membentang mulai selatan Pangandaran di Jawa Barat hingga Nusa Tenggara Barat.

Sebagaimana diketahui, gelombang tinggi yang terjadi Kamis (19/7) mengakibatkan beberapa bangunan di pinggir pantai kawasan Gunungkidul dan Kulonprogo rusak.

Guna mencegah timbulnya korban jiwa dan kerugian, Agus mengimbau para nelayan untuk tak melaut selama sepekan ke depan. Demikian pula para wisatawan pantai agar ekstra hati-hati. Sebab, kondisi gelombang sangat dinamis karena tergantung tekanan udara global.

Mengantisipasi dampak kerugian akibat gelombang tinggi, Gubernur DIJ Hamengku Buwono HB) X mengimbau masyarakat untuk berpikir kembali tentang pentingnya pemecah atau penahan ombak alami di sepanjang pantai selatan. Berupa tanaman bakau. Selain bermanfaat untuk menahan air pasang, tanaman bakau bisa mencegah abrasi. “Yang namanya air itu kan kekuatannya besar. Wong saat banjir mobil saja kentir kok,” tuturnya.

“Kalau kita punya kemauan, di pinggir-pinggir itu bisa ditanami bakau. Sebetulnya (gelombang tinggi, Red) bisa kita hambat. Ya selama itu (bakau, Red) tidak pernah ada, ya pasti terjadi penggosan,” sambung HB X.
Selain bakau, menurut gubernur, pohon cemara bisa menjadi alternatif. Seperti yang telah ada di beberapa pantai kawasan Bantul. (tif/yog/mg1)