PADA bagian lain, dengan hadirnya Taman Paseban, ruas Jalan Bantul yang merupakan bagian dari pintu gerbang masuk Kota Bantul, terlihat lebih terbuka, rapi, dan bersih. Pasar Bantul juga semakin kentara sebagai Titik Nol-nya Kota Bantul.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bantul, Ir. Fenty Yusdayati, MT mengatakan, hadirnya Taman Paseban yang diresmikan pada Agustus 2017 lalu itu, adalah bagian dari program penataan kota di Kabupaten Bantul. “Berangkat dari kemiskinan, kami ingin bangkit. Sehingga kita lakukan penataan-penataan secara bertahap,” kata Fenty, panggilan akrab Fenty Yusdayati.

Untuk menghadirkan Taman Paseban, Pemkab Bantul dalam hal ini Bappeda bersama Dinas PU, menggandeng Bank Pembangunan Daerah (BPD) DIY.

Pekerjaan fisik diawali dengan pembebasan tanah, pembongkaran lahan dan bangunan. “Memang tidak bisa sekaligus. Kami lakukan bertahap, dan hingga saat ini masih ada lahan yang belum dibebaskan, dan akan kita lakukan pembebasannya,” ungkapnya.

Meski demikian, Taman Paseban sudah nyata ada. Menurut Fenty, dengan hadirnya Taman Paseban, ruas Jalan Bantul sebagai gerbang masuk Kota Bantul, terlihat lebih terbuka. “Selain itu, juga semakin menambah luasan ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Bantul,” katanya.

Selain itu, Alun-Alun Paseban yang menjadi satu kesatuan dengan Kantor/Pusat Pemerintahan Kabupaten Bantul, juga semakin terbuka dan terlihat dari luar. “Pastinya, yang terpenting adalah semakin bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Untuk diketahui, dalam menghadirkan Taman Paseban ini, Pemkab Bantul mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit. Dana tersebut, antara lain untuk pembebasan lahan atau tanah yang ada di sekitar objek penataan kota. Kegiatan diawali dengan beberapa renovasi, dan pembongkaran bangunan. Lahan diratakan, sehingga menjadi ruang yang lebih lebar dan luas.

Kemudian di sebalah utara, tepatnya di sudut Barat-Laut perempatan Pegadaian atau tenggara Lapangan Paseban, dilakukan pembongkaran beberapa bangunan, dan dijadikan sebuah sudut yang indah dan asri yang disertai dengan tulisan: Taman Paseban. Sementara di kanan dan kiri tulisan Taman Paseban tersebut, didirikan dua patung atau monumen Jathilan dengan warna keemasan.

Berikutnya di dalam taman, dibangun beberapa tempat duduk, beberapa ayunan anak, dan wahana bermain lainnya. “Bagi kami, dan tentunya masyarakat, Taman Paseban telah memberi warna tersendiri. Telah menjadi kebanggaan, dan ikonik. Telah menjadi penanda adanya penataan kota kita tercinta ini (Bantul),” tandasnya.

Ditambahkan, satu paket dengan pembangunan Taman Paseban, adalah adanya penataan di sekitar Pasar Bantul, dan jalan protokol, mulai dari sisi timur Perempatan Kodran hingga di kawasan Gedung DPRD Bantul. ”Dengan penataan ini, Pasar Bantul sebagai Titik Nol-nya Bantul semakin terlihat,” ungkapnya.

Ruas jalan juga semakin luas, karena pembatas di tengah jalan dihilangkan.

“Semangat dari penataan jalan protokol ini, sekaligus sebagai usaha kami untuk menambah atau mengembalikan fungsi jalan yang seharusnya. Dengan menghilangkan pembatas jalan, maka jalan yang bisa dimanfaatkan untuk berlalu lintas menjadi lebih luas dan lebar,” tuturnya.

Sementara hadirnya dua patung Jathilan di Taman Paseban, karena ada semangat dari Pemkab Bantul untuk mengangkat potensi kesenian Jathilan di kancah yang lebih luas. “Jathilan merupakan potensi kesenian Bantul yang harus diuri-uri. Dengan adanya dua patung Jathilan itu, diharapkan seni Jathilan semakin menjadi ikonnya masyarakat Bantul. Masyarakat kita makin mencintai seni Jathilan,” tandasnya.

Setelah menghadirkan Taman Paseban, sudah ada gagasan dan program penataan selanjutnya. Penataan yang dimaksudkan, adalah akan membuat gate-gate atau penanda sebagai pintu masuk Bantul. Di antaranya akan dibuat di Srandakan, Jalan Parangtritis, Blok O, dan di Sedayu.

“Gate-gate ini bisa kita wujudkan dalam bentuk gapura, taman air mancur, rest area, dan sejenisnya. Pastinya kita lakukan bertahap, untuk itu, mohon dukungan dan bantuannya,” slorohnya sedikit bergurau. (*/jko/mg1)