JOGJA – Status Gunung Merapi belum diturunkan dari Waspada ke Normal. Sebab, dari hasil pemantauan masih menunjukkan aktivitas vulkanik di atas normal, termasuk peningkatan seismisitas yang terjadi pada Rabu sore (18/7) lalu.

Kasi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Agus Budi Santoso mengungkapkan, berdasarkan data pemantauan masih ada risiko bahaya yang mungkin timbul dari aktivitas vulkanik.

”Jadi masih belum bisa diturunkan (statusnya). Tetap berstatus Waspada, ancaman bahaya masih tetap di dalam radius tiga kilometer dari puncak,” jelas Agus saat dimintai keterangan terkait status waspada yang belum juga diturunkan menjadi normal, Kamis (19/7).

Menurut Agus, status Waspada ini tidak ada durasi tertentu yang bisa ditetapkan. Status akan diturunkan menjadi Normal apabila tidak terpantau aktivitas berbahaya.

”Peningkatan seismisitas ini menunjukkan masih ada aktivitas yang berisiko. Asap vulkanik memang tampak sangat lemah tapi kemudian keluar asap tebal. Apabila asap hilang bukan berarti normal, namun ada akumulasi tekanan di dalam,” ungkap Agus.

Diinfomasikan dari akun resmi BPPTKG Rabu sore (18/7) pukul 16.44 dilaporkan aktivitas Gunung Merapi tercatat Gempa VTB 8 kali, MP 18 kali, dan LF 1 kali. Pukul 16.14 terpantau muncul asap tebal. Letusan freatik ini, menurut Agus, bisa terjadi tanpa disertai tanda-tanda awal. ”Warga tetap patuhi rekomendasi dari BPPTKG,” sarannya. (ita/ila/mg1)