Pantai selatan (Pansela) Jawa di Kabupaten Bantul akan disulap menjadi pusat pariwisata. Ini sebagai bentuk respons pembangunan Pemkab Bantul menyambut New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Temon, Kulonprogo.

“Pariwisata ini nantinya diharapkan bisa mengakomodasi wisatawan yang datang dari NYIA,” ungkap Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bantul Fenti Yusdayati kepada Radar Jogja di ruangannya, Kamis  (19/7).

Menurutnya, proses ini dilakukan bertahap. Salah satu wujud tahapan yang hampir selesai dikerjakan adalah dengan pelebaran Jalan Srandakan. Konsepnya memang diawali dari barat.

Sebagai tonggak awal kedatangan wisatawan ke Bantul, akan dibuat rest area. Letaknya di utara jalur jalan lintas lintas selatan (JJLS) atau dekat Jembatan Srandakan. Jalan ini menghubungkan antara Kulonprogo dan Bantul.

“Harapannya wisatawan ketika melewati JJLS, saat lelah bisa beristirahat di sana,” katanya. Pembangunan rest area ini masih dalam tahap perundingan dengan pihak desa karena akan melibatkan UKM di sekitarnya untuk mengisi rest area.

Dibangunnya pusat pariwisata ini dilakukan agar penataan wisata di pantai selatan Bantul bisa lebih baik. Dampaknya, kepada masyarakat sekitar juga baik.

Untuk merealisasikan hal ini butuh pembangunan jembatan Bantul-Kulonprogo dan Samas-Depok. Pembangunan dua jembatan ini baru akan direalisasikan tahun 2019 dan 2020. Sambil menunggu, pemkab tengah berbenah melakukan pelbagai persiapan. Salah satunya menyiapkan masterplan untuk penataan pantai selatan.

Masterplan tidak hanya berfungsi struktural, tapi juga pengelolaan dan pengisinya terdiri dari siapa saja. Teknisnya bagaimana. Tahun ini sudah mulai menyusun. “Setelah jembatan baru, siapkan JJLS. Tahun ini Ngarso Dalem rencananya akan menjadikan Samas sebagai pusat pariwisata,” ujarnya.

Untuk mendukung pusat pariwisata, kemungkinan akan dibangun hotel. Konsepnya di selatan JJLS tidak ada bangunan, kecuali gazebo. Pembangunan hotel dan bangunan lain akan difokuskan di bagian utara JJLS.

Untuk menarik minat wisatawan berkunjung, pemkab mencoba menangkap satu titik di daerah Samas sebagai rest area selanjutnya. Posisinya dekat TPR Samas, di sebelah selatan persimpangan. “Kami sudah menyiapkan tapaknya, kalau dana pemkab tidak cukup. Investor bisa membangun rest area itu,” jelasnya.

Taman bunga juga akan ditata agar lebih rapi dengan tenaga ahli di bidangnya. Selain itu, di Srandakan juga akan dibuat satu titik untuk PDHI. Ia menegaskan, untuk mewujudkan hal ini butuh yang tidak singkat. “Masih banyak PR yang harus segera diselesaikan,” katanya.

Fenti menyebut dana Pemkab Bantul untuk dialokasikan dalam proyek ini tidak sedikit. Sehingga ini memberi peluang bagi investor dan CSR untuk ikut dalam proyek.

Kepala Dinas Pariwisata Bantul Kwintarto Heru juga menyampaikan hal senada. Kini kawasan Depok ke timur sudah mulai dibenahi. Di sekitar Laguna Depok juga telah mulai dibangun pasar kuliner dan pasar digitalnya.

Runaway yang biasa digunakan untuk airshow, paramotor, dan festival perahu naga juga akan dimaksimalkan. Selain itu, juga ada berencana menata gumuk pasir. “Sampai sejauh ini kami masih mencermati kewenangan untuk pengelolaan gumuk pasir siapa. Inti gumuk dan zona gumuk ada di mana. Kawasan mana saja yang bisa dijadikan potensi wisata?,” katanya.

Untuk mengembangkan potensi wisata di Bantul, lanjut Heru, tidak boleh menolak arus modernisasi. Tapi juga tidak boleh sampai kebablasan. Artinya, selama arus modernisasi tidak merugikan masyarakat harus selalu dikembangkan.

Kalau mau menghidupkan wisata di Bantul, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, pengadaan toko-toko modern yang bisa buka 24 jam. Caranya, bisa memberi kesempatan investor yang mau membangun toko modern, atau memberi kesempatan kepada masyarakat untuk membuka usaha berkonsep toko modern. “Selain bisa menjual untuk kebutuhan wisatawan, juga bisa memasarkan produk lokal di sana,” tegasnya.

Selain homestay juga harus didampingi adanya hotel. Ini harus berdampingan karena saling melengkapi. Karena tidak semua wisatawan akan menyukai salah satunya. Sehingga harus ada subtitusi. “Laku atau tidak tergantung pengembangan wisata di sana. Jadi atraksi malam harus dihidupkan,” katanya.

Untuk mendukung hal ini, harus ada warung-warung yang buka selama 24 jam. Seperti apotek maupun layanan kesehatan. Kwin optimistis ini bisa menuju pariwisata internasional Bantul 2020. “Sekarang kami harus sudah mulai melengkapi fasilitas sesuai kebutuhan wisatawan,” tegasnya. (ega/laz/mg1)