KULONPROGO – Tambak udang jebol diterjang gelombang tinggi di Kulonprogo kemarin. Bersamaan, di Gunungkidul, Pantai Somandeng, Pantai Ngandong, Pantai Drini, dan Pantai Sepanjang juga diterjang gelombang tinggi laut Samudera Hindia.

Sejumlah bangunan di sepanjang pesisir Kulonprogo dan Gunungkidul rusak. Kios dan kolam ikan di Pantai Glagah Kulonprogo juga rusak.
“Di Pantai Trisik dua tambak udang jebol,” kata Anggota Tim Sar Wilayah V Pantai Glagah, Kulonprogo, Edo Kuragawa, Kamis (19/7).
Selain warung, kolam ikan mini juga rusak. Jalan cor blok yang biasa digunakan untuk prosesi labuhan juga ambrol.

Pedagang di Pantai Glagah Ratmi mengatakan ombak besar terjadi sejak subuh. Menjelang siang mereda, namun kembali membesar pada sore hari, ketinggian ombak hingga hingga enam meter.
“Ombaknya sangat besar,” ungkap Ratmi.
Sementara itu, pipa Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Baron tergerus abrasi. Warga di pesisir pantai terancam krisis air bersih.
Ombak tinggi tersebut sudah diperkirakan Tim SAR Korwil II Gunungkidul. Gelombang tinggi terjadi mulai kemarin dinihari pukul 00.00. Meskipun diterjang ombak, tidak ada korban jiwa.
Lima belas gazebo di Pantai Somandeng rusak. Dua gazebo rusak di Pantai Ngandong. Lima kapal rusak di Pantai Drini. Dua gazebo di Pantai Sepanjang rusak.

“Ketinggian gelombang 27 feet atau sekitar delapan meter,” kata Koordinator Tim SAR Korwil II Gunungkidul Marjono.
Pihaknya telah mengingatkan nelayan, warga maupun wisatawan adanya ancaman gelombang tinggi. “Gelombang tinggi juga memicu abrasi di Pantai Baron,” kata Marjono.
Dia melarang pengunjung mandi di laut. ‘’Antara tanggal 24 Juli hingga 25 Juli 2018 pengunjung juga tidak boleh mandi di laut karena berbahaya,” ujar Marjono.
Nelayan Pantai Ngandong Tepus, Sarpan mengatakan sejak lima hari terakhir dia tidak melaut. “Kebetulan saya ada usaha warung makan, sementara nelayan lain alih profesi sebagai buruh,” kata Sarpan.
Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi menginginkan kawasan pantai ditata. “Pelayanan dan kenyamanan wisatawan juga harus diperhatikan,” kata Immawan.

Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul Hari Sukmono mengatakan sejak gelombang tinggi terjadi pada 2015 upaya penataan pantai sudah dilakukan. Tadinya di Pantai Drini ada 60 gazebo. “Sekarang tinggal 18 gazebo,” kata Hari. (tom/gun/iwa/mg1)